PILIHAN
Cek Kosong dan Dongkolnya Prabowo
04 Juni 2026
Gagal Buli BBM, Sapi Pun Jadi
29 Mei 2026
Jabatan Tak Boleh Berkurban
28 Mei 2026
Diigelar, Seminar "Sinergi Dalam Mencegah Radikalisme" di Siak
Terorisme adalah Kejahatan Luar Biasa Terhadap Kemanusiaan dan Agama
SIAK, Riauin.com -- Maraknya aksi kelompok radikal yang berujung pada aksi-aksi terorisme secara langsung maupun tidak langsung telah menimbulkan keresahan dan ketakutan di tengah masyarakat. Termasuk tindakan teror yang baru-baru ini terjadi di tanah air.
Demikian diungkapkan Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Riau, Drs Eddie Yusti MH dalam sambutannya pada acara Seminar Penguatan Aparatur Kelurahan dan Desa dalam Pencegahan Terorisme melalui FKPT Riau, di Siak Sriindrapura, Jumat (18/5/2018).
Dikatakan Eddie, munculnya aksi tersebut juga dapat menimbulkan dan sekaligus menyebarkan fitnah bagi satu kelompok atas kelompok yang lain. "Hal ini tentunya merupakan bibit-bibit konflik yang setiap saat dapat meledak dan mengoyak keharmonisan kehidupan masyarakat yang selama ini terbina. Dalam konteks tersebut semua komponen bangsa punya tanggung jawab bersama untuk menjaga kedamaian dan keutuhan NKRI," kata Eddie.
Karena itu, pencegahan terhadap berkembangnya paham radikalisme-terorisme merupakan suatu keniscayaan untuk dilakukan, khususnya bagi para penyelenggara pemerintahan di tingkat kecamatan, lurah dan desa.
Seminar tersebut dihadiri oleh sekitar 113 peserta dari komponen penyelenggara pemerintahan tingkat kelurahan dan desa, Bhabinkamtibmas, Babinsa se kabupaten Siak. Mereka semua terlihat tekun menyimak pemaparan yang disampaikan oleh Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Brigjen Pol, Ir Hamli ME, Wakapolres Siak, Kompol Abdullah Hariri, mantan Napi Teroris, Kurnia Widodo.
Acara tersebut dihadiri sekaligus dibuka oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Masyarakat, Setdakab Siak, Drs Budi Yuwono mewakili Plt Bupati Siak, Drs Alfedri.
Dalam pemaparannya, Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol Hamli menjelaskan daya tangkal masyarakat terhadap radikalisme sebagaimana hasil penelitian yang dilakuakn BNPT dan FKPR adalah nilai-nilai kearifan lokal di daerah tersebut. Dia mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk terus melestarikan nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal tersebut sehingga tidak mudah untuk dimasuki faham radikalisme.
Dikatakan Hamli, para aparat pemerintah, kepolisian, TNI serta masyarakat diharapkan selalu berkoordinasi bersama, sehingga setiap potensi munculnya paham radikalisme di tengah masyarakat dapat dideteksi secara dini. Apabila penyimpangan ajaran dan nilai yang dibawa oleh kelompok terindikasi radikalisme dapat segera diatasi melalui pendekatan persuasif terlebih dahulu.
"Koordinasi bersama tersebut sangat penting demi mencegah aksi terorisme dan menyebarnya pemahaman yang menyimpang yang menggunakan kekerasan bahkan pembunuhan sebagai tindakan nyata. Bagi mereka membunuh orang banyak yang mereka sebut sebagai kelompok kafir adalahu a'in. Ini sangat berbahaya," kata Hamli.
Ditegaskan Hamli, tidak satupun ajaran agama yang mengajarkan terorisme. Bahkan di dalam ajaran agama Islam tindakan terorisme adalah kejahatan yang luar biasa terhadap kemanusiaan dan kejahatan terhadap agama itu sendiri.
Hanya saja masih terdapat segelintir orang yang menjadikan agama sebagai pintu masuk untuk menyebarkan benih-benih kebencian, radikalisme dan terorisme di tengah masyarakat.
Mantan Napi terorisme, Kurnia Widodo menjelaskan sebelum ditangkap Densus 88 dirinya adalah seorang yang berpaham radikalisme. Kurnia mendapatkan pemahaman tersebut melalui kajian-kajian kecil yang ia dapatkan bersama tokoh-tokoh jihadis yang pernah mengikuti perang di Afganistan, Syiria dan Irak.
"Kebetulan saya alumni teknik kimia ITB yang memiliki keahlian merakit berbagai jenis bom. Kemudian saya direkrut kedalam jaringan mereka dan ditugaskan untuk menyiapkan sejumlah bom yang akan diledakkan disejumlah tempat di nusantara," paparnya.
Namun setelah tertangkap, dia mengaku kembali merenungi apa yang sudah dilakukan, dan mencari ustad yang lebih mengeti tentang Islam untuk menjadi teman diskusi. "Dalam proses itu, Alhamdulillah saya tersadarkan bahwa apa yang sudah saya lakukan selama ini adalah kekeliruan besar. Kemudian saya bertobat kepada Allah dan mewakafkan diri untuk memerangi paham radikalisme dan terorisme demi menjaga keutuhan umat, bangsa dan negara," ucapnya.
Selama kegiatan berlangsung terlihat antusiasme peserta untuk bertanya dan menggali lebih dalam tentang paham radikalisme-terorisme, serta cara-cara mengatasinya. Dari FKPT Riau ikut hadir Sekretaris FKPT Riau Hj Dinawati, Ketua Bidang Ekososbud Dr Junaidi, Ketua Bidang Humas Media Massa dan Sosialisasi Eka Putra ST MSc.(Vie)
Berita Lainnya
Agung Nugroho Pimpin Kembali Demokrat Riau, Fokus pada Penguatan Struktur
Pemkab Kampar Sosialisasikan Permendagri Nomor 2 Tahun 2026 Terkait Keterbukaan Informasi
Hadirkan Air Bersih dan Bibit Produktif untuk Desa Talang Gedabu, Wujud PLN Menyalakan Harapan Masyarakat
Sebanyak 439 JCH Kloter BTH 11 Riau Diberangkatkan ke Madinah
Sebanyak 1.167 Rakit PETI Dibakar, Wakapolda Riau: Tak Ada Kompromi!
Sardiyono Diminta Kembali Nahkodai PPP Kuansing dalam Muscab V
Agung Nugroho Pimpin Kembali Demokrat Riau, Fokus pada Penguatan Struktur
Pemkab Kampar Sosialisasikan Permendagri Nomor 2 Tahun 2026 Terkait Keterbukaan Informasi
Hadirkan Air Bersih dan Bibit Produktif untuk Desa Talang Gedabu, Wujud PLN Menyalakan Harapan Masyarakat
Sebanyak 439 JCH Kloter BTH 11 Riau Diberangkatkan ke Madinah
Sebanyak 1.167 Rakit PETI Dibakar, Wakapolda Riau: Tak Ada Kompromi!
Sardiyono Diminta Kembali Nahkodai PPP Kuansing dalam Muscab V