Dua Pekerja Tewas Akibat Serangan Harimau, BBKSDA Riau Desak Perusahaan Benahi Sistem Pengamanan
RIAUIN.COM - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau meluncurkan evaluasi menyeluruh terhadap penerapan standar operasional prosedur keselamatan pekerja di areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan Kabupaten Pelalawan. Langkah ini diambil menyusul rentetan konflik maut yang melibatkan harimau sumatera dan menewaskan dua orang dalam kurun waktu sepekan di kawasan tersebut.
Otoritas konservasi kini fokus memperketat pengawasan aktivitas korporasi di dalam habitat satwa, selain melakukan penanganan langsung di lapangan. Korban terakhir, Eko Prastio (29), ditemukan meninggal dunia di dalam semak pada Sabtu (11/7/2026) pagi setelah dilaporkan hilang saat mencari sinyal telepon seluler di sekitar area kerja perusahaan pada Jumat malam.
Kepala BBKSDA Riau Supartono menyatakan bahwa selain memasang kandang jebak (box trap), pihaknya menuntut komitmen penuh dari pihak manajemen perusahaan untuk menjamin keselamatan tenaga kerja mereka yang beroperasi di wilayah rawan. Evaluasi kepatuhan terhadap standar keselamatan menjadi prioritas utama saat ini agar insiden serupa tidak terus berulang.
"Kami meminta pihak perusahaan memperketat penerapan standar operasional prosedur bagi seluruh pekerja yang beraktivitas di kawasan yang menjadi habitat harimau sumatera. Penanganan konflik satwa liar ini harus dilakukan secara terpadu bersama seluruh pemangku kepentingan," kata Supartono di Pekanbaru, Senin (13/7/2026).
Tim Wildlife Rescue Unit BBKSDA Riau yang diterjunkan ke lokasi juga tengah melakukan analisis mendalam mengenai pola pergerakan satwa. Petugas di lapangan menemukan jejak kaki harimau berukuran sekitar 16 x 15 sentimeter di sekitar lokasi hilangnya korban terakhir. Jarak lokasi kejadian ini hanya terpaut sekitar 6,5 kilometer dari titik konflik fatal pertama yang menewaskan seorang anak perempuan berusia 12 tahun, Jerlin Zalukhu, pada Selasa (7/7/2026) lalu.
Supartono menambahkan, tim ahli satwa sedang menguji apakah dua serangan mematikan dalam waktu singkat tersebut dilakukan oleh satu individu harimau yang sama atau melibatkan individu yang berbeda. Di samping analisis ilmiah itu, ruang gerak manusia di dalam hutan pada jam-jam rawan harus dibatasi secara ketat.
"Kami mengimbau agar tidak beraktivitas seorang diri, terutama pada malam hingga dini hari, memastikan sistem pengamanan camp berfungsi dengan baik, serta segera melaporkan kepada petugas apabila mengetahui keberadaan satwa liar di sekitar lokasi," ujar Supartono.
Guna mengantisipasi jatuhnya korban baru, patroli bersama antara tim gabungan dan pihak keamanan perusahaan kini ditingkatkan secara berkala. BBKSDA Riau menegaskan bahwa perlindungan terhadap keselamatan jiwa manusia merupakan prioritas tertinggi, tanpa mengabaikan prinsip-prinsip kelestarian harimau sumatera sebagai satwa yang dilindungi undang-undang. (*)
Berita Lainnya
Bimtek Demokrat di Pacitan, HM Sumardany Tekankan Pentingnya Komitmen Kader Perjuangkan Program Pro Rakyat
Absen Paripurna, Ketua DPRD Kuansing Juprizal Diperiksa KPK di Pekanbaru
Wabup Mukhlisin Jadi Plt Bupati Kuansing, Warga Ingatkan Filosofi 'Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti'
Kasus Jual Beli Jabatan Sekda Kuansing Terbongkar, KPK Diminta Usut Posisi Kepala Dinas
Konsisten Cetak Juara, YAME Taekwondo Kembali Harumkan Nama Riau di Level Nasional
PLN Group di Riau Bersatu Jaga Bumi, Bersihkan Ratusan Kg Sampah dan Tanam Ratusan Pohon
Bimtek Demokrat di Pacitan, HM Sumardany Tekankan Pentingnya Komitmen Kader Perjuangkan Program Pro Rakyat
Absen Paripurna, Ketua DPRD Kuansing Juprizal Diperiksa KPK di Pekanbaru
Wabup Mukhlisin Jadi Plt Bupati Kuansing, Warga Ingatkan Filosofi 'Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti'
Kasus Jual Beli Jabatan Sekda Kuansing Terbongkar, KPK Diminta Usut Posisi Kepala Dinas
Konsisten Cetak Juara, YAME Taekwondo Kembali Harumkan Nama Riau di Level Nasional
PLN Group di Riau Bersatu Jaga Bumi, Bersihkan Ratusan Kg Sampah dan Tanam Ratusan Pohon