• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Politik
  • Hukrim
  • Nasional
  • Riau
  • Iptek
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pilkada
  • Pendidikan
  • DPRD
    • DPRD Pekanbaru
    • DPRD Riau
    • DPRD Inhil
    • DPRD Inhu
  • More
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Siak
    • Indragiri Hulu
    • Indragiri Hilir
    • Bengkalis
    • Kuantan Singingi
    • Rokan Hilir
    • Rokan Hulu
    • Meranti
    • Dumai
    • Kampar
    • Galeri Foto
    • Video
    • Pemilu
    • Sumbar
    • Kepri
    • Peristiwa
    • Olahraga
    • TNI/Polri
    • Tokoh
    • CSR
    • Advertorial
    • Kesehatan
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Home
  • Politik
  • Hukrim
  • Nasional
  • Riau
  • Iptek
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pilkada
  • Pendidikan
  • DPRD
  • Pekanbaru
  • Pelalawan
  • Siak
  • Indragiri Hulu
  • Indragiri Hilir
  • Bengkalis
  • Kuantan Singingi
  • Rokan Hilir
  • Rokan Hulu
  • Meranti
  • Dumai
  • Kampar
  • Galeri Foto
  • Video
  • Pemilu
  • Sumbar
  • Kepri
  • Peristiwa
  • Olahraga
  • TNI/Polri
  • Tokoh
  • CSR
  • Advertorial
  • Kesehatan
  • DPRD Pekanbaru
  • DPRD Riau
  • DPRD Inhil
  • DPRD Inhu
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN
'Jangan Bunuh Angsa Bertelur Emas'
16 Juni 2026
Balai Riau Matangkan Usulan Tepian Narosa Jadi Proyek Strategis Nasional
16 Juni 2026
Turap Koto Kombu Rampung, Rumah Guru yang Nyaris Longsor Kembali Dihuni
12 Juni 2026
Dugaan Suap APBD 2017: LSM Permata Sebut Kinerja Kejari Kuansing Tak Beranjak Lenggang dari Ketiak
11 Juni 2026
Sentuhan Kak Ida, Radar Suhardiman, dan Mimpi Batik Kuansing Menyapa Dunia
11 Juni 2026

  • Home
  • Opini

'Jangan Bunuh Angsa Bertelur Emas'

Redaksi

Selasa, 16 Juni 2026 10:57:29 WIB
Cetak

Pedagang makanan saat pacu jalur

 

Oleh: Hendrianto.

TELUK Kuantan bakal sibuk. Dua bulan ke depan, kota kecil di tepi Sungai Kuantan ini akan jadi pusat dunia, setidaknya bagi warga Riau.

Bayangkan saja. Akhir Juni ini, ada MTQ tingkat Provinsi Riau ke-44. Belum reda gema lantunan ayat suci, Agustus besok disusul Festival Pacu Jalur.

Ini bukan sekadar acara. Ini gelombang manusia.

Puluhan ribu orang bakal datang. Mereka butuh makan. Butuh tidur. Butuh jajan. Butuh oleh-oleh. Duit bakal berputar kencang di Teluk Kuantan.

Bagi pelaku UMKM Kuansing, ini seperti ketiban durian runtuh. Pasarnya datang sendiri. Tidak perlu dicari.

Tapi, ada hal yang harus kita timbang masak-masak.

Setiap kali ada acara besar, saya selalu teringat obrolan di warung kopi. Selalu ada dua sisi mata uang. Sisi pertamanya peluang emas. Sisi keduanya kegagapan kita sendiri.

Persoalan mendasarnya adalah mengukur tingkat kesiapan UMKM kita. Jangan sampai kita hanya jadi penonton yang melongo melihat pedagang luar meraup rupiah di rumah sendiri.

Mari kita bedah karakternya. Tamu MTQ dan tamu Pacu Jalur itu beda selera.

Tamu MTQ itu rombongan resmi. Ada pejabat, ada kafilah, ada keluarga yang mendampingi. Mereka butuh tempat makan yang bersih, sambal yang pas, dan oleh-oleh yang kemasannya rapi untuk dibawa pulang ke kabupaten sebelah.

Urusan kuliner seperti Konji Barayak atau Galamai harus dipastikan ketersediaannya. Begitu juga dengan kemasan produknya, mutlak harus naik kelas menggunakan mika yang cantik, bukan lagi dibungkus kresek hitam.

Nah, kalau Agustus lain lagi. Tamu Pacu Jalur itu massa cair. Mereka panas-panasan di tepi sungai, sorak-sorai, haus, dan lapar.

Mereka butuh yang serba cepat. Es tebu, sate kuah, dan kaos oblong bergambar jalur yang desainnya keren—bukan yang desainnya mirip pamflet pilkada.

Dua panggung besar, dua karakter berbeda. Ini ujian kelas kakap untuk kreativitas lokal.

Jujur saja. Kita sering terjebak penyakit musiman: aji mumpung. Karena tahu yang datang orang jauh, harga kopi dinaikkan dua kali lipat. Harga makanan jadi tidak masuk akal.

Ini bahaya. Ini namanya membunuh angsa petelur emas.

Wisatawan bisa kapok, lalu besok-besok mereka memilih membawa bekal sendiri dari rumah.

Lalu ada urusan teknologi. Zaman sekarang, orang kota sudah jarang membawa uang tunai berdompet tebal. Semua pakai HP. Tinggal klik, beres.

Kedai kopi kita dituntut sudah siap dengan barcode QRIS. Urusan melayani dengan ramah menjadi modal nomor satu. Senyum itu gratis, tapi efeknya luar biasa untuk membuat orang berbelanja lagi.

Pemerintah daerah juga punya PR besar. Urusan lapak pedagang harus diatur zonasi yang rapi agar tidak menjadi ajang rebutan yang semrawut.

Kebersihan juga wajib dijaga, agar Tepian Narosa yang indah tidak berubah menjadi lautan sampah plastik setelah acara selesai.

Kita ingin, setelah dua helat besar ini usai, UMKM Kuansing bukan cuma untung musiman. Harapannya mereka bisa naik kelas, serta mendapat pelanggan baru dari Pekanbaru, Dumai, atau bahkan Malaysia.

Saatnya emak-emak pembuat kue, pengrajin suvenir, dan pemilik kedai kopi mengencangkan ikat pinggang. Bersihkan warung, rapikan kemasan, asah senyuman.

Tamu adalah raja. Dan raja yang puas, tidak akan pelit mengeluarkan isi dompetnya.

Ayo Kuansing, kita tunjukkan bahwa kita bukan cuma jago mengayuh jalur di sungai, tapi juga jago mengayuh roda ekonomi di darat. (***) 
 


Sumber : Riauin.com /  Editor : Hendrianto.


[Ikuti Riauin.com Melalui Sosial Media]


Riauin.com

Berita Lainnya

Sentuhan Kak Ida, Radar Suhardiman, dan Mimpi Batik Kuansing Menyapa Dunia

Etika dalam Genggaman: Mengapa Warga Biasa Perlu Belajar Jurnalisme Dasar

Memelihara Harapan

Cek Kosong dan Dongkolnya Prabowo

Pendidikan Hibrida Bukan Lagi Pilihan, Tetapi Kebutuhan

Gagal Buli BBM, Sapi Pun Jadi

Sentuhan Kak Ida, Radar Suhardiman, dan Mimpi Batik Kuansing Menyapa Dunia

Etika dalam Genggaman: Mengapa Warga Biasa Perlu Belajar Jurnalisme Dasar

Memelihara Harapan

Cek Kosong dan Dongkolnya Prabowo

Pendidikan Hibrida Bukan Lagi Pilihan, Tetapi Kebutuhan

Gagal Buli BBM, Sapi Pun Jadi

TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Turap Koto Kombu Rampung, Rumah Guru yang Nyaris Longsor Kembali Dihuni
  • 2 Buaya Muara Sungai Metas Siak Mangsa Warga Kampung Penyengat
  • 3 Polsek Cerenti Bakar 31 Rakit Tambang Emas Ilegal, Kapolres Kuansing Minta Tokoh Adat Turun Tangan
  • 4 CPO Melonjak, Harga Sawit Swadaya Riau Tembus Rp 3.674/Kilogram
  • 5 Cerenti 'Menyala' Lagi: Baru Dua Hari Razia, Ratusan Rakit PETI Kembali Beroperasi
  • 6 Sebut Bakar Rakit Hanya Sandiwara, Warga Kuansing Tantang Polisi Tangkap Pengepul Emas
  • 7 Usai Minta Maaf dan Bikin Pernyataan, Polisi Lepaskan Dua 'Pocong' Jadi-jadian di Taluk Kuansing
  • 8 Dua Remaja Berbaju Pocong Keliling Pakai Motor, Diamankan Polres Kuansing
  • 9 PHR Jaga Ketahanan Energi Selaras dengan Perlindungan Alam Berkelanjutan
Terkini +INDEKS

Penataan Aset di Riau, Kolong Jembatan Siak I Bakal Jadi Ruang Terbuka Hijau Biru

16 Juni 2026
BWSS III Riau Targetkan Jembatan Darurat Jalan Nelayan Pekanbaru Rampung Pekan Ini
16 Juni 2026
'Jangan Bunuh Angsa Bertelur Emas'
16 Juni 2026
Balai Riau Matangkan Usulan Tepian Narosa Jadi Proyek Strategis Nasional
16 Juni 2026
Polres Bengkalis Tangkap Tiga Pengedar Sabu dalam Dua Hari
16 Juni 2026
Antisipasi Dampak Lonjakan Harga Cabai dan Bawang, Riau Tingkatkan Kewaspadaan
16 Juni 2026
Pekanbaru Kejar Target Tiga Besar Layanan Cek Kesehatan Gratis di Riau
15 Juni 2026
Jembatan Rumbai Amblas Satu Meter akibat Alat Berat, Akses Warga Sri Meranti Terputus Total
15 Juni 2026
BPS Awali Sensus Ekonomi 2026 di Riau, Data ASN Jadi Sasaran Perdana
15 Juni 2026
Polisi Tahan Pria Asal Sumut Terkait Kasus Kejahatan Seksual Anak di Pelalawan
15 Juni 2026

KABUPATEN+INDEKS
  • 1 Pekanbaru
  • 2 Pelalawan
  • 3 Siak
  • 4 Indragiri Hulu
  • 5 Indragiri Hilir
  • 6 Bengkalis
  • 7 Kuantan Singingi
  • 8 Rokan Hilir
  • 9 Rokan Hulu
  • 10 Meranti
  • 11 Dumai
  • 12 Kampar
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Riauin.com ©2015 By Delapa Media Tenologi | All Right Reserved