'Jangan Bunuh Angsa Bertelur Emas'


Selasa, 16 Juni 2026 - 10:57:29 WIB
'Jangan Bunuh Angsa Bertelur Emas'

Pedagang makanan saat pacu jalur

 

Oleh: Hendrianto.

TELUK Kuantan bakal sibuk. Dua bulan ke depan, kota kecil di tepi Sungai Kuantan ini akan jadi pusat dunia, setidaknya bagi warga Riau.

Bayangkan saja. Akhir Juni ini, ada MTQ tingkat Provinsi Riau ke-44. Belum reda gema lantunan ayat suci, Agustus besok disusul Festival Pacu Jalur.

Ini bukan sekadar acara. Ini gelombang manusia.

Puluhan ribu orang bakal datang. Mereka butuh makan. Butuh tidur. Butuh jajan. Butuh oleh-oleh. Duit bakal berputar kencang di Teluk Kuantan.

Bagi pelaku UMKM Kuansing, ini seperti ketiban durian runtuh. Pasarnya datang sendiri. Tidak perlu dicari.

Tapi, ada hal yang harus kita timbang masak-masak.

Setiap kali ada acara besar, saya selalu teringat obrolan di warung kopi. Selalu ada dua sisi mata uang. Sisi pertamanya peluang emas. Sisi keduanya kegagapan kita sendiri.

Persoalan mendasarnya adalah mengukur tingkat kesiapan UMKM kita. Jangan sampai kita hanya jadi penonton yang melongo melihat pedagang luar meraup rupiah di rumah sendiri.

Mari kita bedah karakternya. Tamu MTQ dan tamu Pacu Jalur itu beda selera.

Tamu MTQ itu rombongan resmi. Ada pejabat, ada kafilah, ada keluarga yang mendampingi. Mereka butuh tempat makan yang bersih, sambal yang pas, dan oleh-oleh yang kemasannya rapi untuk dibawa pulang ke kabupaten sebelah.

Urusan kuliner seperti Konji Barayak atau Galamai harus dipastikan ketersediaannya. Begitu juga dengan kemasan produknya, mutlak harus naik kelas menggunakan mika yang cantik, bukan lagi dibungkus kresek hitam.

Nah, kalau Agustus lain lagi. Tamu Pacu Jalur itu massa cair. Mereka panas-panasan di tepi sungai, sorak-sorai, haus, dan lapar.

Mereka butuh yang serba cepat. Es tebu, sate kuah, dan kaos oblong bergambar jalur yang desainnya keren—bukan yang desainnya mirip pamflet pilkada.

Dua panggung besar, dua karakter berbeda. Ini ujian kelas kakap untuk kreativitas lokal.

Jujur saja. Kita sering terjebak penyakit musiman: aji mumpung. Karena tahu yang datang orang jauh, harga kopi dinaikkan dua kali lipat. Harga makanan jadi tidak masuk akal.

Ini bahaya. Ini namanya membunuh angsa petelur emas.

Wisatawan bisa kapok, lalu besok-besok mereka memilih membawa bekal sendiri dari rumah.

Lalu ada urusan teknologi. Zaman sekarang, orang kota sudah jarang membawa uang tunai berdompet tebal. Semua pakai HP. Tinggal klik, beres.

Kedai kopi kita dituntut sudah siap dengan barcode QRIS. Urusan melayani dengan ramah menjadi modal nomor satu. Senyum itu gratis, tapi efeknya luar biasa untuk membuat orang berbelanja lagi.

Pemerintah daerah juga punya PR besar. Urusan lapak pedagang harus diatur zonasi yang rapi agar tidak menjadi ajang rebutan yang semrawut.

Kebersihan juga wajib dijaga, agar Tepian Narosa yang indah tidak berubah menjadi lautan sampah plastik setelah acara selesai.

Kita ingin, setelah dua helat besar ini usai, UMKM Kuansing bukan cuma untung musiman. Harapannya mereka bisa naik kelas, serta mendapat pelanggan baru dari Pekanbaru, Dumai, atau bahkan Malaysia.

Saatnya emak-emak pembuat kue, pengrajin suvenir, dan pemilik kedai kopi mengencangkan ikat pinggang. Bersihkan warung, rapikan kemasan, asah senyuman.

Tamu adalah raja. Dan raja yang puas, tidak akan pelit mengeluarkan isi dompetnya.

Ayo Kuansing, kita tunjukkan bahwa kita bukan cuma jago mengayuh jalur di sungai, tapi juga jago mengayuh roda ekonomi di darat. (***)