Cek Kosong dan Dongkolnya Prabowo
Hendrianto
Oleh: Hendrianto.
RABU kemarin Sentul membeludak. Ada 12 ribu orang berkumpul di sana. Mereka bukan mau nonton konser. Mereka adalah para penggerak dan mitra program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di atas panggung, Presiden Prabowo Subianto berdiri. Dan seperti biasa: bicaranya blak-blakan. Tanpa basa-basi.
Kali ini temanya keras: korupsi.
Prabowo tahu, secanggih apa pun program pemerintah, kalau anggarannya dikorup, pasti ambruk. Makan Bergizi Gratis bisa jadi makan bergizi "palsu". Maka, Prabowo langsung pasang badan.
Dia memberikan "cek kosong" kepada tiga lembaga super penting: BPKP, KPK, dan Kejaksaan Agung. Caranya unik. Prabowo menantang para pimpinan lembaga itu secara langsung. Terbuka. Di depan ribuan orang.
"Kepala BPKP, apa yang kau butuh kalau kau perlu tambahan personel, berapa saja kau butuh, saya penuhi," kata Prabowo.
Dia menoleh lagi. "Ketua KPK, berapa saja yang kau perlu lapor, saya penuhi."
Lalu, giliran Korps Adhyaksa yang disenggol. Prabowo menantang Jaksa Agung untuk minta anggaran berapa saja demi memperkuat instansinya.
"Kalau perlu yang sekian T kau mau setor ke saya, kau pakai untuk memperkuat Jaksa Agung," tegasnya.
Logika Prabowo sederhana saja. Jangan ada lagi alasan klasik dari penegak hukum: kurang orang, kurang duit, atau kurang fasilitas.
Sekarang, semua dipenuhi. Bola panas ada di tangan mereka. Kalau masih memble, keterlaluan.
Kenapa Prabowo se-nekat ini? Ada harga diri di sana. Prabowo menegaskan, dia tidak mau NKRI dilecehkan. Negara ini kaya, tapi kok sering kelihatan ringkih hanya karena ulah segelintir tikus.
Tidak boleh ada lagi uang rakyat yang dicuri. Titik.
Tapi, Prabowo bukan tipe pemimpin yang cuma bisa mengancam ke luar. Ke dalam pun dia sikat. Dia lalu bercerita soal urusan "dapur" sendiri. Di sinilah nada bicaranya berubah. Ada nada kesal yang tidak bisa disembunyikan dari raut wajahnya. Kecewa berat.
Prabowo baru saja mencopot pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN). Ada tiga nama: Dadan Hindayana, Sony Sonjaya, dan Lodewyk Pusung.
Yang paling bikin Prabowo dongkol adalah Dadan Hindayana. Orang ini dipercaya penuh sejak awal. Diberi panggung besar untuk mengurus proyek paling strategis di era pemerintahan sekarang. Eh, malah bermasalah. Bagi Prabowo, ini seperti disengat dari dalam rumah sendiri.
Secara personal, keputusan mencopot mereka itu berat sekali bagi Prabowo. Sangat berat. "Ini orang yang saya angkat, ini orang saya kasih bintang, saya kasih pangkat," aku Prabowo jujur. Nada suaranya bergetar antara marah dan sedih.
Tangan Prabowo sempat berat saat harus menandatangani surat pencopotan itu. Ada rasa tidak tega. Ada ikatan emosional. Tapi bagi Prabowo, aturan tetaplah aturan. Rasa percaya yang dikhianati tidak punya tempat dalam kamus kepemimpinannya.
Integritas tidak bisa dinegosiasikan dengan rasa ewuh pakewuh. Pesan dari Sentul kemarin sangat jelas. Tidak ada pengecualian. Jangankan orang jauh, orang yang dia beri kepercayaan penuh pun kalau melenceng, bakal disikat.
Prabowo sudah membuka dompet negara lebar-lebar untuk penegak hukum. Kini rakyat tinggal menonton: berani tidak KPK, BPKP, dan Kejaksaan Agung berlari sekencang kemauan Presiden?. (***)
(Penulis merupakan jurnalis di riauin.com)
Berita Lainnya
Pendidikan Hibrida Bukan Lagi Pilihan, Tetapi Kebutuhan
Gagal Buli BBM, Sapi Pun Jadi
Newsfluencer Menggantikan Wartawan? Menimbang Sertifikasi dan Kode Etik
Jabatan Tak Boleh Berkurban
Menkeu Purbaya: Ekonomi Kita Kuat, Jangan Percaya 'Ekonom TikTok'!
Guncangan Sesaat Demi Posisi Tawar Sawit yang Lebih Kuat
Pendidikan Hibrida Bukan Lagi Pilihan, Tetapi Kebutuhan
Gagal Buli BBM, Sapi Pun Jadi
Newsfluencer Menggantikan Wartawan? Menimbang Sertifikasi dan Kode Etik
Jabatan Tak Boleh Berkurban
Menkeu Purbaya: Ekonomi Kita Kuat, Jangan Percaya 'Ekonom TikTok'!
Guncangan Sesaat Demi Posisi Tawar Sawit yang Lebih Kuat