• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Politik
  • Hukrim
  • Nasional
  • Riau
  • Iptek
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pilkada
  • Pendidikan
  • DPRD
    • DPRD Pekanbaru
    • DPRD Riau
    • DPRD Inhil
    • DPRD Inhu
  • More
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Siak
    • Indragiri Hulu
    • Indragiri Hilir
    • Bengkalis
    • Kuantan Singingi
    • Rokan Hilir
    • Rokan Hulu
    • Meranti
    • Dumai
    • Kampar
    • Galeri Foto
    • Video
    • Pemilu
    • Sumbar
    • Kepri
    • Peristiwa
    • Olahraga
    • TNI/Polri
    • Tokoh
    • CSR
    • Advertorial
    • Kesehatan
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Home
  • Politik
  • Hukrim
  • Nasional
  • Riau
  • Iptek
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pilkada
  • Pendidikan
  • DPRD
  • Pekanbaru
  • Pelalawan
  • Siak
  • Indragiri Hulu
  • Indragiri Hilir
  • Bengkalis
  • Kuantan Singingi
  • Rokan Hilir
  • Rokan Hulu
  • Meranti
  • Dumai
  • Kampar
  • Galeri Foto
  • Video
  • Pemilu
  • Sumbar
  • Kepri
  • Peristiwa
  • Olahraga
  • TNI/Polri
  • Tokoh
  • CSR
  • Advertorial
  • Kesehatan
  • DPRD Pekanbaru
  • DPRD Riau
  • DPRD Inhil
  • DPRD Inhu
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN
Teluk Kuantan Geger, Spanduk Kejari Kuansing Mandul, Rakyat Butuh Keadilan Bertebaran
23 Juni 2026
Diduga Picu Pembengkakan Anggaran, Rencana Pemekaran 7 Dinas Baru di Kuansing Menuai Polemik
20 Juni 2026
Gaya Elit, Ekonomi Sulit
18 Juni 2026
Sambut HUT Bhayangkara ke-80, Polres Kuansing Gelar Donor Darah dan Bagi Sembako Gratis
16 Juni 2026
Pejabat Kuansing Kompak Ganti Nomor HP, Ahli Hukum UNRI: Itu Tidak Gentleman dan Problem Integritas
16 Juni 2026

  • Home
  • Opini

Buy Now, Pay Later: Anugerah atau Perangkap Tersembunyi?

Redaksi

Selasa, 23 Juni 2026 19:55:23 WIB
Cetak

Gambar ilustrasi - AI

DI ERA ledakan digital dan perdagangan elektronik yang semakin pesat, frasa "Beli Sekarang, Bayar Nanti" atau Buy Now, Pay Later (BNPL) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup masyarakat. Dari pembelian kebutuhan sehari-hari, pakaian, hingga gawai elektronik terkini, skema ini menawarkan ilusi kemudahan yang sulit ditolak. Namun, di balik janji "bunga nol persen" dan "persetujuan instan", terselip pertanyaan besar yang perlu kita renungkan bersama: Apakah BNPL benar-benar menjadi penyelamat keuangan, atau justru merupakan jerat utang baru yang tanpa disadari sedang mencekik leher konsumen?

Popularitas layanan BNPL, seperti yang ditawarkan oleh berbagai platform e-dagang dan dompet digital lokal, meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir. Proses pengajuannya yang sederhana, tanpa memerlukan dokumen keuangan yang rumit atau pemeriksaan kredit yang ketat dibandingkan pinjaman bank tradisional, menjadikannya sangat menarik. Hal ini terutama berlaku bagi kelompok berpendapatan menengah dan rendah yang mungkin sulit mendapatkan persetujuan kartu kredit. Bagi mereka, BNPL dipandang sebagai alternatif praktis untuk memiliki barang yang dibutuhkan secara cepat.

Dari sudut pandang yang lebih positif, kehadiran BNPL membuka akses keuangan yang lebih inklusif. Dalam situasi biaya hidup yang semakin menantang, kemudahan ini memungkinkan konsumen mendapatkan barang kebutuhan pokok atau peralatan rumah tangga yang mendesak tanpa harus mengeluarkan uang tunai sekaligus. Di samping itu, hal ini juga merangsang pertumbuhan ekonomi nasional. Pedagang menikmati peningkatan penjualan, sementara konsumen diberikan fleksibilitas pembayaran, yang secara tidak langsung mendukung ekosistem bisnis dan membantu mempertahankan lapangan kerja di sektor ritel.

Namun, kita tidak boleh menutup mata terhadap risiko besar yang dibawa oleh kemudahan ini. Kekhawatiran utama para pakar keuangan adalah kecenderungan manusia untuk berbelanja melebihi kemampuan sebenarnya. Ketika harga suatu barang dipecah menjadi cicilan kecil, hal itu menciptakan ilusi psikologis bahwa barang tersebut "terjangkau". Pernahkah Anda berpikir, berapa banyak dari kita yang sebenarnya membeli barang karena kebutuhan mendesak, dan berapa banyak yang tergoda oleh keinginan semata akibat bujukan promosi?

Lebih mengkhawatirkan lagi, BNPL berpotensi menormalisasi budaya berutang di kalangan masyarakat, terutama generasi muda. Utang kini dipandang sebagai sesuatu yang biasa, mudah, dan tidak menakutkan. Padahal, konsumen yang tidak membaca syarat dan ketentuan dengan saksama sering kali terkejut dengan biaya tambahan, denda keterlambatan, atau bunga tersembunyi yang dikenakan ketika gagal melakukan pembayaran tepat waktu. Frasa promosi seperti "cicilan ringan" dan "tanpa tekanan" sering mengaburkan mata konsumen terhadap realitas keuangan ini, yang pada akhirnya dapat merusak catatan kredit mereka di masa depan.

Oleh karena itu, untuk memastikan BNPL tetap menjadi alat keuangan yang bermanfaat dan bukan bom waktu sosial, tindakan proaktif sangat diperlukan. Pemerintah dan badan pengawas seperti bank sentral perlu memperketat regulasi terhadap penyedia layanan BNPL. Transparansi adalah kuncinya, di mana penyedia wajib mencantumkan dengan jelas segala biaya, penalti, dan proses penilaian kredit. Aktivitas pemasaran juga harus beretika, bukan mendorong pembelian impulsif atau memberikan gambaran bahwa utang bebas risiko.

Di tingkat akar rumput, pendidikan literasi keuangan harus diperkuat. Lembaga pendidikan, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, perlu menanamkan prinsip pengelolaan keuangan yang sehat. Masyarakat perlu dididik tentang pentingnya anggaran, perbedaan antara utang baik dan utang buruk, serta dampak bunga berbunga dari kegagalan membayar cicilan. Konsumen yang memiliki pengetahuan keuangan yang kuat cenderung membuat keputusan yang lebih bertanggung jawab.

Kesimpulannya, BNPL bukanlah entitas yang mutlak baik atau buruk. Ia adalah alat yang dapat membangun atau menghancurkan, tergantung pada siapa yang menggunakannya. Apakah kita sedang membangun masa depan keuangan yang kokoh, atau justru menggali kubur keuangan kita sendiri dengan setiap klik "Beli Sekarang"? Oleh karena itu, sebelum Anda menekan tombol pembelian berikutnya, tanyakan pada diri sendiri: "Apakah saya benar-benar mampu membayar cicilan ini tanpa mengganggu arus kas bulanan saya?" Terapkan aturan 24 jam, tunda pembelian barang yang tidak terlalu penting selama sehari untuk menghindari keputusan impulsif. Bacalah syarat dan ketentuan dengan saksama, pastikan Anda memahami penalti keterlambatan, dan utamakan dana darurat. Ingatlah, kebebasan finansial yang sebenarnya dimulai dari disiplin diri, bukan dari utang yang hanya sekadar ditunda. ***

Rajoo a/l Ramanchandram dan Dr. Muhammad Imran merupakan dosen di Pusat Studi Manajemen Bisnis, Universitas Utara Malaysia (UUM), Malaysia. Artikel ini merupakan pemahaman dan pandangan pribadi kedua penulis dalam bidang manajemen.




[Ikuti Riauin.com Melalui Sosial Media]


Riauin.com

Berita Lainnya

Gaya Elit, Ekonomi Sulit

'Jangan Bunuh Angsa Bertelur Emas'

Sentuhan Kak Ida, Radar Suhardiman, dan Mimpi Batik Kuansing Menyapa Dunia

Etika dalam Genggaman: Mengapa Warga Biasa Perlu Belajar Jurnalisme Dasar

Memelihara Harapan

Cek Kosong dan Dongkolnya Prabowo

Gaya Elit, Ekonomi Sulit

'Jangan Bunuh Angsa Bertelur Emas'

Sentuhan Kak Ida, Radar Suhardiman, dan Mimpi Batik Kuansing Menyapa Dunia

Etika dalam Genggaman: Mengapa Warga Biasa Perlu Belajar Jurnalisme Dasar

Memelihara Harapan

Cek Kosong dan Dongkolnya Prabowo

TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Diduga Picu Pembengkakan Anggaran, Rencana Pemekaran 7 Dinas Baru di Kuansing Menuai Polemik
  • 2 Bursa Kerja Pekanbaru Gunakan Sistem Daring untuk Jaring Pekerja Lokal
  • 3 Jadwal Piala Dunia 2026 Dini Hari Nanti, Pecinta Bola Siap Saksikan Laga Prancis dan Argentina
  • 4 Pejabat Kuansing Kompak Ganti Nomor HP, Ahli Hukum UNRI: Itu Tidak Gentleman dan Problem Integritas
  • 5 Balai Riau Matangkan Usulan Tepian Narosa Jadi Proyek Strategis Nasional
  • 6 Serentak di Empat Kota, Telkomsel Hadirkan Nonton Bareng Bola Gembira MAXStream TV
  • 7 Turap Koto Kombu Rampung, Rumah Guru yang Nyaris Longsor Kembali Dihuni
  • 8 Buaya Muara Sungai Metas Siak Mangsa Warga Kampung Penyengat
  • 9 Perempuan Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Dumai, Polres Selidiki Motif Pembunuhan
Terkini +INDEKS

Buy Now, Pay Later: Anugerah atau Perangkap Tersembunyi?

23 Juni 2026
PLN UPT Pekanbaru Edukasi Siswa SMAN 17 soal Bahaya SUTT 150 kV
23 Juni 2026
Pemprov Riau Sediakan Kuota 2.179 untuk Siswa Kurang Mampu di 44 Sekolah Swasta
23 Juni 2026
Pemkab Kuansing Bentuk Satgas demi Cegah Kerusakan Lingkungan akibat Tambang Ilegal
23 Juni 2026
Polda Riau Tangkap Penambang Emas di Kuansing yang Nyambi Jadi Pengedar Sabu
23 Juni 2026
DPRD Riau Catat Program Makan Bergizi Gratis Pacu Kenaikan PAD Rp 340 Miliar
23 Juni 2026
Tren Penguatan Harga Sawit Swadaya Riau Berlanjut Seminggu ke Depan
23 Juni 2026
Efek Program Makan Bergizi Gratis, Pajak Kuliner Pekanbaru Melesat 32 Persen
23 Juni 2026
Polresta Pekanbaru Sita Senjata Api dan Uang Ratusan Juta dari Jaringan Narkoba
23 Juni 2026
Pemprov Riau Berharap Kuota Perbaikan Jalan dari Pusat Ditambah
23 Juni 2026

KABUPATEN+INDEKS
  • 1 Pekanbaru
  • 2 Pelalawan
  • 3 Siak
  • 4 Indragiri Hulu
  • 5 Indragiri Hilir
  • 6 Bengkalis
  • 7 Kuantan Singingi
  • 8 Rokan Hilir
  • 9 Rokan Hulu
  • 10 Meranti
  • 11 Dumai
  • 12 Kampar
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Riauin.com ©2015 By Delapa Media Tenologi | All Right Reserved