Catatan: Muhamad Saufi Che Rusuli
Teknologi AI Menggeliatkan Bidang Usaha UKM
Prof. Madya Ts. Dr. Muhamad Saufi Che Rusuli
DI balik tirai ekonomi digital yang semakin pesat berkembang, revolusi kecerdasan buatan atau yang sering disebut artificial inteligent (AI) kini bukan lagi sekadar obrolan kosong di laboratorium sains. Ia telah menjadi jantung utama dalam memacu pertumbuhan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di seluruh pelosok negeri. Transformasi ini terlihat tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga membuka lembaran baru dalam lanskap persaingan global yang kian ketat.
Keterlibatan AI dalam sektor usaha kecil dan menengah (UKM) telah membawa perubahan paradigma yang signifikan. Jika dahulu teknologi ini dianggap sebagai kemewahan bagi perusahaan raksasa multinasional, kini ia menjadi instrumen 'demokratisasi' ekonomi yang memungkinkan pedagang kecil menikmati dan bersaing di panggung yang sama. Seperti yang kita ketahui bersama, tantangan utama UKM sering berkisar pada keterbatasan sumber daya manusia.
Namun, data dari Laporan Indeks Tren Kerja Microsoft 2024/2025 mengungkapkan satu fakta menarik, yaitu rata-rata pekerja terampil di Malaysia sudah mulai menggunakan AI di tempat kerja untuk tetap produktif dan menghemat waktu. Tidak hanya itu, algoritma AI memungkinkan wirausahawan menganalisis data pelanggan dengan lebih mendalam. Sebagai contoh, sistem analitik prediktif (predictive analytics) membantu bisnis meramalkan tren pembelian masa depan, sekaligus memungkinkan manajemen inventaris dilakukan dengan lebih sistematis tanpa pemborosan.
Tolok Ukur Kesuksesan
Mengupas realitas di tingkat global, banyak UKM di negara maju telah meraih manfaat luar biasa dari adaptasi teknologi ini. Di Amerika Serikat, perusahaan ritel kecil kini menggunakan platform AI seperti Stitch Fix untuk mempersonalisasi rekomendasi mode kepada pelanggan sesuai selera individu secara otomatis. Begitu pula halnya di China, di mana pedagang kecil di platform Alibaba menggunakan teknologi siaran langsung bertenaga AI. Teknologi ini memungkinkan penerjemahan bahasa secara waktu nyata (real-time) dilakukan. Berdasarkan laporan OECD 2025, hampir sepertiga UKM di tingkat global kini menggunakan AI generatif untuk bersaing dengan perusahaan besar, dengan 65 persen di antaranya melaporkan peningkatan kinerja pekerja yang drastis.

Sumber: AI/internet
Meskipun demikian, perjalanan UKM di semua negara di dunia menuju digitalisasi penuh AI masih memiliki lika-likunya. Pemerintah Malaysia, misalnya, melalui Anggaran 2025 telah mengalokasikan dana strategis untuk memacu adopsi AI dan digitalisasi industri. Langkah ini penting karena menurut laporan SME Corp, meskipun kesadaran meningkat, hanya sekitar 32 persen UKM yang benar-benar telah mendigitalkan operasi mereka sepenuhnya. Menurut pakar ilmu komputer terkemuka dunia, Andrew Ng, "AI adalah 'listrik' baru bagi abad ke-21. Sebagaimana listrik mengubah setiap industri seratus tahun lalu, AI kini akan mengubah setiap aspek bisnis UKM, mulai dari cara mereka memasarkan produk hingga cara mereka membuat keputusan strategis."
Sinergi Manusia dan Mesin
Di sisi lain, wirausahawan perlu sadar bahwa AI hanyalah sebagai alat. Sentuhan manusia dalam aspek kreativitas tetap menjadi kunci utama. Oleh karena itu, UKM disarankan untuk mengadopsi pendekatan hibrida di mana menggunakan AI untuk pekerjaan-pekerjaan rutin, sementara tenaga kerja manusia difokuskan pada inovasi produk. Hal ini menunjukkan bahwa sinergi manusia dan mesin amat penting dalam mengendalikan segala aktivitas, bak pepatah "bagaikan aur dengan tebing" (saling membutuhkan dan menguntungkan).
Kesimpulannya, integrasi AI bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi semua wirausahawan dan pedagang untuk belajar dan memahami perilaku teknologi tersebut. Wirausahawan yang cepat dan cekap menyesuaikan diri akan terus relevan, sedangkan mereka yang statis dan minim pengetahuan teknologi ini akan tersisih dalam persaingan. Kini, cahaya AI telah pun menerangi jalan bagi semua pengusaha UKM untuk melangkah lebih jauh dan menciptakan dampak luar biasa dalam ekonomi negara. Oleh sebab itu, para pengusaha diimbau agar menerima teknologi AI dengan terbuka dan menggunakannya dengan bijak agar perusahaan dan bisnis dapat bersaing secara sehat.***
Prof. Madya Ts. Dr. Muhamad Saufi Che Rusuli adalah Dosen Pusat Pengajian Pengurusan Perniagaan, Universiti Utara Malaysia (UUM), dan kini bermastautin di Kedah Malaysia.
Berita Lainnya
Sejuk di Tengah Bising
Revolusi AI Generatif: Antara Manfaat dan Tantangan Dunia Akademik
Benteng Roboh, Injury Time Juprizal
Buy Now, Pay Later: Anugerah atau Perangkap Tersembunyi?
Gaya Elit, Ekonomi Sulit
'Jangan Bunuh Angsa Bertelur Emas'
Sejuk di Tengah Bising
Revolusi AI Generatif: Antara Manfaat dan Tantangan Dunia Akademik
Benteng Roboh, Injury Time Juprizal
Buy Now, Pay Later: Anugerah atau Perangkap Tersembunyi?
Gaya Elit, Ekonomi Sulit
'Jangan Bunuh Angsa Bertelur Emas'