• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Politik
  • Hukrim
  • Nasional
  • Riau
  • Iptek
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pilkada
  • Pendidikan
  • DPRD
    • DPRD Pekanbaru
    • DPRD Riau
    • DPRD Inhil
    • DPRD Inhu
  • More
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Siak
    • Indragiri Hulu
    • Indragiri Hilir
    • Bengkalis
    • Kuantan Singingi
    • Rokan Hilir
    • Rokan Hulu
    • Meranti
    • Dumai
    • Kampar
    • Galeri Foto
    • Video
    • Pemilu
    • Sumbar
    • Kepri
    • Peristiwa
    • Olahraga
    • TNI/Polri
    • Tokoh
    • CSR
    • Advertorial
    • Kesehatan
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Home
  • Politik
  • Hukrim
  • Nasional
  • Riau
  • Iptek
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pilkada
  • Pendidikan
  • DPRD
  • Pekanbaru
  • Pelalawan
  • Siak
  • Indragiri Hulu
  • Indragiri Hilir
  • Bengkalis
  • Kuantan Singingi
  • Rokan Hilir
  • Rokan Hulu
  • Meranti
  • Dumai
  • Kampar
  • Galeri Foto
  • Video
  • Pemilu
  • Sumbar
  • Kepri
  • Peristiwa
  • Olahraga
  • TNI/Polri
  • Tokoh
  • CSR
  • Advertorial
  • Kesehatan
  • DPRD Pekanbaru
  • DPRD Riau
  • DPRD Inhil
  • DPRD Inhu
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN
Mantan Anggota DPRD Kuansing Ingatkan Muklisin: Hindari Model 'Naga Bonar' dalam Pilih Pejabat
15 Juli 2026
KPK Buru Sisa Rp1 Miliar Uang Petani Sawit Kuansing, Asisten I Kembali Diperiksa
14 Juli 2026
Plt Bupati Kuansing Mukhlisin Izinkan Kembali Sponsor Jalur
13 Juli 2026
Waktu Menipis, Belanja Pegawai Kuansing Jinak di Atas 60 Persen Jelang UU HKPD 2027
13 Juli 2026
OTT Kuansing: Warganet Desak KPK Seret Tersangka Baru di Kasus Suap Jabatan dan Lahan
13 Juli 2026

  • Home
  • Opini

Opini: Taufik Hidayat

Pepatah Kemaruk? (Biar Pecah di Perut Asal Jangan Pecah di Mulut)

Redaksi

Kamis, 21 April 2022 02:39:16 WIB
Cetak
Taufik Hidayat

BIARLAH pecah di perut asal jangan pecah di mulut. Pepatah Melayu ini sudah saya dengar sejak masih kecil, yang bermakna biarlah persoalan yang sedang dihadapi itu tidak menyebar kemana-mana. Cukup diketahui orang tertentu saja karena persoalan tersebut adalah ‘’aib.’’ Dalam skala kecil aib itu milik keluarga, sedangkan dalam skala besar persoalan itu adalah aib satu kelompok masyarakat budaya. Kenapa pepatah itu menggunakan kalimat ‘’pecah di perut, dan kalimat ‘’pecah di mulut?.”

Secara harfiah perut bermakna bagian tubuh yang berada di bawah rongga. Perut menyimpan dan memproses apa-apa yang masuk dari mulut. Sedangkan kata mulut adalah bagian terdepan tempat gigi dan lidah untuk memasukan makanan. Namun dalam kata perut pada pepatah itu, perut masih berfungsi sebagai penyimpang tapi bukan menyimpan sesuatu terutama makanan yang berasal dari mulut. Tapi perut pada kata ini bisa saja sesuatu yang didengar dan dilihat secara langsung. Kata perut dalam pepatah ini fungsinya menyimpan sesuatu masalah yang dihadapi atau diketahui agar tidak diketahui orang ramai, cukup kelompok tertentu atau kalangan tertentu saja yang mengetahuinya dan diyakini tidak akan memberi tahu kepada orang lain. Sesuatu yang disimpan haruslah tidak kelihatan, dan perut adalah media yang bisa menyembunyikan sesuatu tanpa bekas. Bahkan sesuatu yang disampan tanpa bekas itu sampai pecahpun perut maka yang disembunyikan tetap tidak kelihatan. Penciptaan makna dari kalimat ‘’biar pecah di perut,’’ adalah ketika seseorang yang menyimpan suatu rahasia dia rela mati dari pada menceritakan sesuatu yang disimpan tersebut. Pada kata perut ini juga terjadi pergeseran makna, terutama pada fungsi dan asal sesuatu yang masuk ke dalam perut.

Pada kata mulut dalam pepatah di atas juga mengalami pergeseran makna, mulut yang dimaksud dalam pepatah itu menjadi media (lisan) untuk berbicara menyampaikan sesuatu. Agar sesuatu yang disimpan di perut tidak disampaikan oleh mulut, sehingga dimajaskan menjadi ‘’jangan pecah di mulut.’’ Sebab, jika sudah pecah di mulut (dibicarakan) maka sesuatu yang disimpan dalam perut itu diketahui orang ramai.

Etomologi pepatah ‘’biar pecah di perut asal jangan pecah di mulut’’ dapat merujuk atau ambil dari kebiasaan orang Melayu yang patuh dengan pemimpin, terutama raja. Alasannya cukup sederhana, bila persoalan itu muncul dari kalangan rakyat jelata hal ini tidak akan disembunyikan, mudah tersebar ke mana-mana karena tidak ada ‘’doktrin’’ untuk menyembunyikan sesuatu itu bahkan sesuatu aib yang terjadi di kalangan masyarakat harus diungkap di hadapan pemimpin. Sedangkan jika aib itu berasal dari kalangan ‘’kerajaan’’ atau orang terpandang maka ada ‘’perintah’’ untuk menyembunyikannya sehingga muncul lah pepatah; ‘’biar pecah di perut asal jangan pecah di mulut.’’ Pepatah ini menjadi sesuatu kekuatan bagi ‘’raja’’ yang kemaruk (haus) akan kekuasan karena semua orang setia menyimpan keburukan atas kebijakan yang ia ambil, padahal merugikan semua orang.

BACA JUGA
  • Masa Depan Jurnalisme Indonesia di Tengah Sepinya Mahasiswa Jurusan Jurnalistik
  • Teknologi AI Menggeliatkan Bidang Usaha UKM
  • Mencari Efektivitas yang Hilang: Catatan untuk APBD Kuantan Singingi 2025

Dalam Islam, aib seseorang memang tidak baik untuk diceritakan kepada orang lain, malah dijaga. Sehingga berlakulah pepatah,  "biar pecah di perut asal jangan pecah di mulut." Sedangkan jika aib itu milik semua orang atas perlakuan seorang raja yang zalim, maka terlalu berat tunjuk ajar ini dipertahankan bahkan bila kita tetap berpegang pada pepatah ini maka bisa saja kita bersubahat dengan sang raja, sehingga kesalahan itu semakin melebar. Apalagi dalam menciptakan kosmopolitan, pada dunia serba internet ini keterbukaan itu sangat penting. Sehingga pecah di perut bukan lagi sumpah menyimpan sesuatu sampai nyawa taruhannya, namun bila perut sudah terbusai, tak tahan lagi melihat kezaliman seorang raja (pemimpin), maka  mulut harus pecah. Dengan demikian, sesuatu yang disembunyikan itu harus diungkap untuk menyampaikan kebenaran meskipun nantinya semua kelompok masyarakat budaya menanggung aib baik mereka yang tidak berkepentingan dengan apa yang disembunyikan maupun mereka sebagai pelaku menyimpan sesuatu aib karena kezaliman. Sehingga masyarakat bisa menilai dan menentukan sikap.

Megat Seri Rama "terbusai perutnya," tak sanggup lagi menyimpan dan melihat kezaliman. Perut isterinya yang sedang bunting dan kempunan, teringin memakan seulas nangka tapi nangka yang dipikul Awang (penjaga kebun raja) yang melintas di depan rumahnya adalah milik raja. Pantang bagi raja memakan sisa dari rakyatnya. Sehingga Sultan Mahmud II yang semula bisa memahami persoalan ini karena terlalu besar jasa Megat Seri Rama untuk kerajaan, namun karena bisikan Patih Karma Wijaya, Sultan mendurhaka pada diri sendiri. Keluarlah tihtah membelah perut Dang Anum untuk melihat seulas nangka. Kematian isteri Megat Seri Rama ini disembunyikan, ‘’biar pecah di perut, asal jangan pecah di mulut.’’

Menjelang Salat Jumat, Megat Seri Rama membuat pernyataan reformasi; ‘’Raja adil raja disembah, raja zalim raja disanggah.’’ 

Jumat malam dua pekan lalu, begitu banyak "Megat Seri Rama," demi marwah Melayu mereka bersepakat membongkar kezaliman sang raja. "Megat Seri Rama" pecah di mulut dengan melakukan Mubeslub. ***

* Taufik Hidayat SS, 
Alumni Universitas Lancang Kuning/Ketua Dewan Kesenian Riau (DKR)


Kata Kunci Opini


[Ikuti Riauin.com Melalui Sosial Media]


Riauin.com

Berita Lainnya

Sejuk di Tengah Bising

Revolusi AI Generatif: Antara Manfaat dan Tantangan Dunia Akademik

Benteng Roboh, Injury Time Juprizal

Buy Now, Pay Later: Anugerah atau Perangkap Tersembunyi?

Gaya Elit, Ekonomi Sulit

'Jangan Bunuh Angsa Bertelur Emas'

Sejuk di Tengah Bising

Revolusi AI Generatif: Antara Manfaat dan Tantangan Dunia Akademik

Benteng Roboh, Injury Time Juprizal

Buy Now, Pay Later: Anugerah atau Perangkap Tersembunyi?

Gaya Elit, Ekonomi Sulit

'Jangan Bunuh Angsa Bertelur Emas'

TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Puluhan Titik Panas Kepung Riau di Tengah Ancaman Cuaca Ekstrem
  • 2 Mantan Anggota DPRD Kuansing Ingatkan Muklisin: Hindari Model 'Naga Bonar' dalam Pilih Pejabat
  • 3 KPK Buru Sisa Rp1 Miliar Uang Petani Sawit Kuansing, Asisten I Kembali Diperiksa
  • 4 Plt Bupati Kuansing Mukhlisin Izinkan Kembali Sponsor Jalur
  • 5 Waktu Menipis, Belanja Pegawai Kuansing Jinak di Atas 60 Persen Jelang UU HKPD 2027
  • 6 OTT Kuansing: Warganet Desak KPK Seret Tersangka Baru di Kasus Suap Jabatan dan Lahan
  • 7 LSM di Kuansing Ingatkan Plt Bupati Mukhlisin Waspadai Lingkaran ‘Penjilat’ Pasca-OTT KPK
  • 8 Sejuk di Tengah Bising
  • 9 IKLA RGS Riau Bentuk Panitia Mubes II, Pemilihan Ketua Umum Digelar November 2026
Terkini +INDEKS

Jangan Lewatkan! Telkomsel Hadirkan Promo Menarik dan Tukar Poin Gratis di Riau Bhayangkara Run 2026

18 Juli 2026
Polda Riau dan BPTD Razia Truk Angkutan untuk Cegah Kerusakan Jalan
18 Juli 2026
Buaya Muara 2,4 Meter Masuk Permukiman di Inhil Riau, Dievakuasi Aparat dan Warga
18 Juli 2026
Kawal Kasus Mahasiswa S2 Anestesi, Pimpinan Unri Pantau Penyelidikan di Polres Siak
18 Juli 2026
Gerak Cepat di Kampar, Kebakaran Lahan Semak Belukar Berhasil Diatasi
18 Juli 2026
Petugas Polda Riau Diserang Senjata Tajam Saat Ringkus Sindikat Ekstasi di Tenayan Raya
18 Juli 2026
Polda Riau Selidiki Kepemilikan Lahan Gambut Terbakar 80 Hektare di Bengkalis
18 Juli 2026
Geliat Sport Tourism di Riau, 15.000 Pelari Tiba di Pekanbaru
18 Juli 2026
Bukan Soal Anggaran, Kericuhan di DPRD Riau Dipicu Salah Paham Internal Anggota
18 Juli 2026
Kunjungan Wapres ke Rohil Jadi Momentum Perbaikan Sekolah dan Infrastruktur
18 Juli 2026

KABUPATEN+INDEKS
  • 1 Pekanbaru
  • 2 Pelalawan
  • 3 Siak
  • 4 Indragiri Hulu
  • 5 Indragiri Hilir
  • 6 Bengkalis
  • 7 Kuantan Singingi
  • 8 Rokan Hilir
  • 9 Rokan Hulu
  • 10 Meranti
  • 11 Dumai
  • 12 Kampar
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Riauin.com ©2015 By Delapa Media Tenologi | All Right Reserved