Oleh: Hendrianto.
NAMANYA keren: penertiban. Polisi datang. Gerak cepat. Rakit PETI dibakar. Asap membumbung. Foto-foto diambil. Laporan selesai.
Tapi di Kuansing, ada istilah unik. "Dibakar tapi tak hangus."
Ajaib? Tidak juga. Ini teknis. Namanya: Bakar Sayang.
Dua hari lalu saya duduk di tepian Danau Kebun Nopi. Ngobrol dengan salah satu pemilik rakit. Dia buka kartu. Blak-blakan soal bagaimana mesin emas ini tetap "hidup" meski sudah dipanggang api.
"Yang dibakar itu asbuknya, Bang," katanya lirih.
Asbuk itu papan penyaring. Bukan jantung mesin. Caranya simpel: tumpuk bahan yang mudah terbakar di atas asbuk. Lalu sulut api. Begitu api membesar, polisi pergi. Tugas dianggap tuntas.
Masalahnya, asbuk itu kayu. Seringnya basah. Api cuma menjilat permukaan. Begitu polisi hilang dari pandangan, api dipadamkan. Asbuk cuma hitam sedikit. Masih bisa dipakai lagi. Begitu petugas balik ke kantor, mesin menderu lagi.
Kenapa tidak dibakar mesinnya? Di situlah seninya. Pemilik rakit bisa pingsan kalau mesin yang dihajar.
Membangun satu unit rakit PETI itu bukan main-main.
Untuk ukuran "keong 8", modalnya besar. "Paling tidak 80 sampai 100 juta. Itu harga bekas," bisik si pemilik rakit tadi. Kalau barang baru? Bisa bikin geleng-geleng kepala.
Hasilnya pun tidak semanis bayangan orang. Satu rakit biasanya dapat 3 sampai 4 gram emas per hari. Setelah dipotong solar dan operasional, bersihnya cuma Rp300 ribu sampai Rp600 ribu.
Coba hitung. Kalau untungnya segitu, kapan balik modal 100 juta? Bisa ratusan hari. Itu kalau lancar. Kalau mesin yang dibakar petugas, itu kiamat kecil bagi mereka. Jeroan mesin harus ganti semua.
Biaya servisnya saja bisa tembus Rp40 juta.
"Tapi mau bagaimana lagi, Bang? Kami juga ingin hidup," lanjutnya pelan. Ada nada pasrah yang dalam.
Para penambang ini sebenarnya lelah. Lelah kucing-kucingan. Lelah waswas setiap kali mendengar suara deru mobil petugas. Mereka sadar: pekerjaan ini ilegal. Melanggar aturan. Merusak alam. Tapi perut tidak bisa kompromi dengan pasal-pasal.
Mimpi mereka sederhana saja: ingin nyaman bekerja. Mereka sangat mengharapkan solusi dari pemerintah. Ingin punya payung hukum yang jelas agar tidak perlu ada lagi sandiwara "Bakar Sayang".
Sebab, lapangan pekerjaan di Kuansing tidak sedang baik-baik saja. Selama ini ada anggapan semua orang di sini kaya karena sawit. Itu keliru. Tidak semua orang Kuansing punya kebun sawit yang luas. Banyak yang hanya punya tenaga. Banyak yang hanya punya harapan.
Mau bertani? Lahan makin terbatas. Mau kerja kantoran? Lowongan tak sebanding dengan jumlah orang. Pilihan paling nyata—dan paling berisiko—ya turun ke sungai. Beradu nasib dengan lumpur dan merkuri.
Jika pemerintah hanya datang membawa korek api dan bensin, masalah tak akan selesai. Rakit dibakar hari ini, besok rakit baru muncul lagi. Karena masalahnya bukan pada kayu asbuk itu. Masalahnya ada pada piring yang kosong di rumah.
Di Kuansing, api memang panas. Tapi kadang, api tahu mana yang harus hangus dan mana yang harus disayang.
Sementara itu, para penambang tetap menunggu: kapan pemerintah datang membawa solusi, bukan membawa korek api. (***)