PILIHAN
Menunggu Palu Hakim, Membaca Langkah Catur Mukhlisin
10 September 2026
Mahasiswa KKN Edukasi Etika Bermedia Sosial bagi Siswa SD di Benai Kecil
08 September 2026
Mahasiswa KKN Kelompok 81 Edukasi Anak TK Pentingnya Menabung Sejak Dini
08 September 2026
Fahri Hamzah: Debat Pilpres Bukan Cerdas Cermat
Jakarta, Riauin.com -- Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengkritik keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menggunakan format setengah tertutup dalam debat pilpres 2019.
Dengan format ini, KPU telah memberi kisi-kisi pertanyaan kepada kedua pasangan calon. Fahri menganggap debat ini sama halnya seperti format cerdas cermat.
"Ini kan bukan cerdas cermat. Ini kan harus ada riset akademik di bawah dokumen-dokumen yang akan kemudian jadi bahan perbincangan yang dibawa ke hadapan kandidat," kata Fahri di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (7/1).
Menurut Fahri, KPU salah memahami konsep debat pilpres yang akan diselenggarakan sepuluh hari mendatang. Hal ini, kata dia, dapat menimbulkan kecurigaan di tengah publik.
"KPU agak misleading dan layak orang curigai dia [KPU] seperti diformat untuk menyederhanakan pertarungan atau kompetisi ini," ujat Fahri.
Fahri menilai dengan memberi kisi-kisi pertanyaan terlebih dulu, publik tidak dapat mengeksplorasi secara mendalam visi dan misi atau program kedua pasangan calon terhadap berbagai persoalan di Indonesia seperti Papua, Aceh, otonomi daerah, poros maritim hingga revolusi mental.
"Itu semua harus dibahas, dan itu bukan formatnya kayak ujian sekolah tapi merupakan debat intelektual," ujarnya.
Selain itu, Fahri juga khawatir dengan pemilihan panelis yang baru saja dilakukan akhir-akhir ini. Padahal, seharusnya, kata dia, panelis ditunjuk sejak awal agar dapat bekerja melakukan riset mendalam untuk dijadikan materi pertanyaan debat.
"Akhirnya peran panelis dihilangkan, jadilah cerdas cermat. Kalau di kampung saya cerdas tangkas. Masa mau jadi presiden cerdas tangkas lagi," kata dia.
KPU memutuskan menggunakan sistem yang berbeda pada debat perdana Pilpres 2019 yang digelar 17 Januari mendatang, yaitu menggabungkan pertanyaan terbuka dan tertutup atau setengah tertutup.
Pada sistem terbuka, KPU akan mengirimkan terlebih dahulu pertanyaan debat kepada kedua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, sementara pada sistem tertutup pertanyaan berasal dari masing-masing paslon.
Ketua KPU Arief Budiman menyatakan saat ini panelis debat sedang menyusun daftar pertanyaan untuk sistem terbuka dan akan diserahkan pada paslon pada 10 Januari, atau tepat seminggu sebelum debat. Namun, dari bank soal tersebut, hanya tiga pertanyaan akan diajukan saat debat berlangsung.(int/nol)
Dengan format ini, KPU telah memberi kisi-kisi pertanyaan kepada kedua pasangan calon. Fahri menganggap debat ini sama halnya seperti format cerdas cermat.
"Ini kan bukan cerdas cermat. Ini kan harus ada riset akademik di bawah dokumen-dokumen yang akan kemudian jadi bahan perbincangan yang dibawa ke hadapan kandidat," kata Fahri di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (7/1).
Menurut Fahri, KPU salah memahami konsep debat pilpres yang akan diselenggarakan sepuluh hari mendatang. Hal ini, kata dia, dapat menimbulkan kecurigaan di tengah publik.
"KPU agak misleading dan layak orang curigai dia [KPU] seperti diformat untuk menyederhanakan pertarungan atau kompetisi ini," ujat Fahri.
Fahri menilai dengan memberi kisi-kisi pertanyaan terlebih dulu, publik tidak dapat mengeksplorasi secara mendalam visi dan misi atau program kedua pasangan calon terhadap berbagai persoalan di Indonesia seperti Papua, Aceh, otonomi daerah, poros maritim hingga revolusi mental.
"Itu semua harus dibahas, dan itu bukan formatnya kayak ujian sekolah tapi merupakan debat intelektual," ujarnya.
Selain itu, Fahri juga khawatir dengan pemilihan panelis yang baru saja dilakukan akhir-akhir ini. Padahal, seharusnya, kata dia, panelis ditunjuk sejak awal agar dapat bekerja melakukan riset mendalam untuk dijadikan materi pertanyaan debat.
"Akhirnya peran panelis dihilangkan, jadilah cerdas cermat. Kalau di kampung saya cerdas tangkas. Masa mau jadi presiden cerdas tangkas lagi," kata dia.
KPU memutuskan menggunakan sistem yang berbeda pada debat perdana Pilpres 2019 yang digelar 17 Januari mendatang, yaitu menggabungkan pertanyaan terbuka dan tertutup atau setengah tertutup.
Pada sistem terbuka, KPU akan mengirimkan terlebih dahulu pertanyaan debat kepada kedua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, sementara pada sistem tertutup pertanyaan berasal dari masing-masing paslon.
Ketua KPU Arief Budiman menyatakan saat ini panelis debat sedang menyusun daftar pertanyaan untuk sistem terbuka dan akan diserahkan pada paslon pada 10 Januari, atau tepat seminggu sebelum debat. Namun, dari bank soal tersebut, hanya tiga pertanyaan akan diajukan saat debat berlangsung.(int/nol)
Berita Lainnya
Beredar Kabar Bupati Kuansing Nonaktif Bakal Bongkar Dugaan Pungutan PPPK Miliaran Rupiah ke KPK
Menyilangkan Faksi di Hari Merdeka: Rekonsiliasi Politik Kuansing di Lapangan Limuno
PLN UPT Pekanbaru Gelar Simulasi Tanggap Darurat Objek Vital Nasional Sambut Masa Siaga Kemerdekaan RI ke-81
Tim SAR Gabungan Temukan Jasad Remaja 13 Tahun yang Hanyut di Sungai Siak Depan Taman Singapura
Polisi Masuk Gedung Dewan: Jejak Gelap APBD Kuansing 2025 Mulai Diurai
Validasi Teriakan Aktivis dari Balik Sel: Skandal APBD Kuansing Akhirnya Diusut KPK
Beredar Kabar Bupati Kuansing Nonaktif Bakal Bongkar Dugaan Pungutan PPPK Miliaran Rupiah ke KPK
Menyilangkan Faksi di Hari Merdeka: Rekonsiliasi Politik Kuansing di Lapangan Limuno
PLN UPT Pekanbaru Gelar Simulasi Tanggap Darurat Objek Vital Nasional Sambut Masa Siaga Kemerdekaan RI ke-81
Tim SAR Gabungan Temukan Jasad Remaja 13 Tahun yang Hanyut di Sungai Siak Depan Taman Singapura
Polisi Masuk Gedung Dewan: Jejak Gelap APBD Kuansing 2025 Mulai Diurai
Validasi Teriakan Aktivis dari Balik Sel: Skandal APBD Kuansing Akhirnya Diusut KPK