• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Politik
  • Hukrim
  • Nasional
  • Riau
  • Iptek
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pilkada
  • Pendidikan
  • DPRD
    • DPRD Pekanbaru
    • DPRD Riau
    • DPRD Inhil
    • DPRD Inhu
  • More
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Siak
    • Indragiri Hulu
    • Indragiri Hilir
    • Bengkalis
    • Kuantan Singingi
    • Rokan Hilir
    • Rokan Hulu
    • Meranti
    • Dumai
    • Kampar
    • Galeri Foto
    • Video
    • Pemilu
    • Sumbar
    • Kepri
    • Peristiwa
    • Olahraga
    • TNI/Polri
    • Tokoh
    • CSR
    • Advertorial
    • Kesehatan
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Home
  • Politik
  • Hukrim
  • Nasional
  • Riau
  • Iptek
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pilkada
  • Pendidikan
  • DPRD
  • Pekanbaru
  • Pelalawan
  • Siak
  • Indragiri Hulu
  • Indragiri Hilir
  • Bengkalis
  • Kuantan Singingi
  • Rokan Hilir
  • Rokan Hulu
  • Meranti
  • Dumai
  • Kampar
  • Galeri Foto
  • Video
  • Pemilu
  • Sumbar
  • Kepri
  • Peristiwa
  • Olahraga
  • TNI/Polri
  • Tokoh
  • CSR
  • Advertorial
  • Kesehatan
  • DPRD Pekanbaru
  • DPRD Riau
  • DPRD Inhil
  • DPRD Inhu
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN
Kasus ISPA Tembus 1.363, Wali Murid di Kuansing Minta PJJ Diperpanjang
20 September 2026
Tergiur Hasil Instan, Petani di Kuansing Sulap Perkebunan Sawit Jadi Tambang Emas Ilegal
18 September 2026
Kasus Perkimtan Rp48 Miliar Belum Jelas, Polres Kuansing Malah Buka Bidikan Baru ke Anggaran DPRD
17 September 2026
Pesona Diva Kuansing di Panggung DA8
17 September 2026
Fantastisnya Dana Kunker DPRD Kuansing di Tengah Bidikan Penyidik Tipikor
16 September 2026

  • Home
  • Opini

Catatan: Dr Amalina Mohd Roze dan Prof Madya Ts Dr Muhamad Saufi Che Rusuli

Tingkatkan Kesadaran dan Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana

Redaksi

Senin, 21 September 2026 12:15:15 WIB
Cetak

Gambar: Ilustrasi AI

LETUSAN Gunung Anak Krakatau baru-baru ini sekali lagi mengingatkan kita bahwa dampak suatu bencana tidak selalu terbatas pada kawasan di sekitar lokasi kejadian. Penyebaran abu gunung berapi dapat mengganggu penerbangan, memengaruhi aktivitas persekolahan, mobilitas masyarakat, dan berbagai aktivitas harian.

Bagi mereka yang tinggal berdekatan kawasan berisiko, ancamannya mungkin lebih langsung. Namun, bagi masyarakat di kawasan lain, dampaknya mungkin hadir dalam bentuk gangguan perjalanan, perubahan rutinitas harian, atau ketidakpastian terhadap kondisi lingkungan sekitar.

Situasi seperti ini menunjukkan bahwa dalam menghadapi bencana, kesiapsiagaan bukan hanya berkaitan dengan apa yang terjadi di lokasi bencana. Hal ini juga melibatkan kemampuan masyarakat dan berbagai sektor untuk menyesuaikan diri ketika suatu risiko mulai berdampak pada kehidupan yang lebih luas.

Indonesia bukan negara yang asing dengan tantangan ini. Posisinya di Lingkaran Api Pasifik menjadikan aktivitas gunung berapi sebagai bagian dari realitas geografis negara tersebut. Pengalaman hidup bersama berbagai bentuk bencana juga telah membentuk masyarakat yang memiliki daya tahan dan semangat kebersamaan yang kuat.

BACA JUGA
  • Masa Depan Jurnalisme Indonesia di Tengah Sepinya Mahasiswa Jurusan Jurnalistik
  • Teknologi AI Menggeliatkan Bidang Usaha UKM
  • Mencari Efektivitas yang Hilang: Catatan untuk APBD Kuantan Singingi 2025

Ketika Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitasnya, hal itu menjadi sebuah peringatan bahwa kesiapsiagaan tidak boleh hanya dinilai berdasarkan apa yang dilakukan ketika keadaan darurat terjadi. Pertanyaan yang lebih penting adalah sejauh mana persiapan telah dibangun sebelum keadaan menjadi genting.

Risiko Tidak Mengenal Batas

Apabila terjadi letusan gunung berapi, perhatian sering terpusat pada kawasan yang berada paling dekat dengan sumber bahaya. Evakuasi penduduk, pemantauan aktivitas gunung berapi, dan penyediaan bantuan darurat memang menjadi prioritas.

Namun, risiko dapat melampaui batas kawasan tersebut. Abu gunung berapi yang dibawa oleh angin dapat memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang. Gangguan terhadap ruang udara pula dapat berdampak pada penerbangan dan pergerakan manusia. Sekolah mungkin perlu menyesuaikan metode pembelajaran, sementara beberapa sektor ekonomi dan pekerjaan juga menghadapi gangguan operasional.
Inilah yang menjadikan pengelolaan risiko bencana semakin kompleks. Suatu kejadian yang terjadi di satu lokasi dapat berdampak pada masyarakat yang berada jauh dari kawasan utama bencana.

Oleh karena itu, kesiapsiagaan juga tidak boleh hanya terpusat pada komunitas yang tinggal berdekatan gunung berapi. Sekolah, tempat kerja, fasilitas kesehatan, dan penyedia layanan penting juga perlu memahami bagaimana operasional mereka dapat dilanjutkan atau disesuaikan ketika terjadi gangguan.

Kesiapsiagaan Tidak Boleh Hanya Satu Formula

Mengelola risiko bencana di sebuah negara yang luas dan terdiri dari ribuan pulau memang memerlukan pendekatan yang mempertimbangkan kondisi setempat.
Setiap wilayah memiliki tantangan yang berbeda. Ada kawasan yang memiliki akses mudah ke fasilitas kesehatan dan layanan darurat, sementara kawasan lain mungkin menghadapi tantangan jarak, transportasi, dan akses terhadap sumber daya.

Demikian pula dengan risiko yang dihadapi oleh masyarakat. Komunitas yang tinggal berdekatan gunung berapi mungkin memerlukan sistem evakuasi yang jelas, sementara kawasan yang menerima dampak penyebaran abu mungkin lebih membutuhkan informasi mengenai kesehatan, keselamatan perjalanan, dan kesinambungan aktivitas harian.

Oleh karena itu, rencana mitigasi tidak selalu harus seragam untuk setiap kawasan.

Yang lebih penting adalah setiap rencana mempertimbangkan realitas masyarakat, sumber daya yang tersedia, dan risiko yang benar-benar dihadapi oleh komunitas setempat. Pendekatan yang sesuai untuk sebuah kota besar mungkin tidak selalu praktis bagi sebuah komunitas di kawasan yang lebih terpencil.

Persiapan Bukan Semata-mata Tentang Infrastruktur Mahal

Kesiapsiagaan sering dikaitkan dengan teknologi canggih, pusat operasi modern, dan berbagai fasilitas darurat. Semua ini memang penting. Namun, kemampuan menghadapi bencana tidak selalu bergantung pada sejauh mana suatu komunitas memiliki infrastruktur yang mahal.

Dalam banyak keadaan, langkah dasar yang direncanakan dan diuji dengan baik dapat memberikan perbedaan yang besar.

Masyarakat perlu mengetahui ke mana mereka harus pergi ketika terjadi keadaan darurat. Jalur evakuasi harus jelas dan mudah diakses. Fasilitas kesehatan harus memiliki perencanaan untuk melanjutkan layanan ketika terjadi gangguan. Sekolah dan tempat kerja pula perlu memahami kapan operasional perlu disesuaikan untuk melindungi keselamatan pelajar dan pekerja.

Yang lebih penting, rencana tersebut harus benar-benar dapat digunakan.
Sebuah fasilitas kecil yang memiliki prosedur darurat yang jelas dan selalu menjalankan latihan mungkin lebih siap dibandingkan sebuah organisasi yang memiliki rencana lengkap tetapi tidak pernah diuji.

Kesiapsiagaan bukan semata-mata bergantung pada apa yang dimiliki, tetapi sejauh mana sumber daya yang ada dapat digunakan secara efektif ketika diperlukan.

Komunitas Bukan Sekadar Penerima Bantuan

Dalam sebuah negara yang begitu luas, agensi darurat tidak mungkin berada di setiap kampung, pulau, atau komunitas pada setiap saat. Di sinilah kekuatan masyarakat menjadi bagian dari sistem kesiapsiagaan. Budaya gotong royong, hubungan komunitas yang erat, dan pengalaman hidup bersama risiko bencana merupakan aset yang sangat berharga. Namun, peran masyarakat tidak seharusnya hanya dilihat sebagai penerima bantuan ketika suatu bencana terjadi. Komunitas sendiri dapat menjadi bagian dari sistem mitigasi.

Pemimpin lokal, institusi pendidikan, organisasi komunitas, rumah ibadah, dan relawan dapat membantu menyampaikan informasi, mengidentifikasi kelompok yang membutuhkan bantuan, serta memastikan masyarakat memahami tindakan yang perlu diambil.

Pengetahuan masyarakat setempat juga memiliki nilai tersendiri. Mereka memahami kondisi lingkungan, kebutuhan komunitas, dan tantangan yang mungkin tidak selalu dapat dilihat dari perspektif luar. Apabila kekuatan komunitas digabungkan dengan keahlian ilmiah, teknologi, dan sistem pengelolaan bencana modern, kesiapsiagaan dapat menjadi lebih menyeluruh dan dekat dengan realitas masyarakat.

Jangan Tunggu Bencana untuk Menguji Rencana

Salah satu tantangan dalam pengelolaan bencana adalah memastikan rencana yang disediakan benar-benar berfungsi dalam keadaan sebenarnya. Rencana mungkin terlihat lengkap di atas kertas, tetapi keadaan darurat sering membawa situasi yang tidak terduga. Jalan mungkin tidak dapat digunakan, komunikasi mungkin terganggu, dan sumber daya manusia mungkin tidak mencukupi. Karena itu, latihan dan simulasi perlu menjadi bagian dari proses kesiapsiagaan.

Sekolah perlu mengetahui bagaimana melindungi pelajar. Tempat kerja perlu memiliki prosedur yang jelas untuk pekerja. Fasilitas kesehatan perlu memastikan layanan penting dapat terus berjalan. Masyarakat pula perlu memahami sumber informasi yang dapat dipercaya dan tindakan yang perlu dilakukan ketika instruksi darurat dikeluarkan.

Kesiapsiagaan bukan sesuatu yang dibangun ketika bencana sedang terjadi. Ia dibentuk melalui latihan, pengalaman, dan perbaikan yang dilakukan secara berkelanjutan. Namun, kesiapsiagaan tidak seharusnya juga mereda ketika keadaan kembali tenang. Dalam kehidupan yang selalu berhadapan dengan risiko bencana, periode paling penting untuk membuat persiapan bukan ketika keadaan darurat sedang terjadi, tetapi ketika semuanya terlihat kembali normal.

Dr Amalina Mohd Roze dan Prof Madya Ts Dr Muhamad Saufi Che Rusuli merupakan dosen di Pusat Pengajian Pengurusan Perniagaan, Universitas Utara Malaysia (UUM), Malaysia. Dr Amalina memiliki keahlian dalam bidang keselamatan dan kesehatan kerja, sedangkan Dr Muhamad Saufi memiliki kualifikasi profesional dalam pengelolaan bencana. Artikel ini merupakan pandangan penulis berdasarkan perspektif keselamatan dan kesehatan kerja serta pengelolaan bencana. 


Kata Kunci Opini


[Ikuti Riauin.com Melalui Sosial Media]


Riauin.com

Berita Lainnya

Musda Beringin dan Bayang-Bayang 2031

Ketika Bencana Alam Menjadi Risiko di Tempat Kerja

Menunggu Palu Hakim, Membaca Langkah Catur Mukhlisin

Kalau Alam Sudah Menegur

Pacu Jalur, Adat, dan Kesejahteraan: Rekomendasi Konkret untuk Pemkab Kuansing

Kepala Daerah: Antara Popularitas dan Janji Kampanye

Musda Beringin dan Bayang-Bayang 2031

Ketika Bencana Alam Menjadi Risiko di Tempat Kerja

Menunggu Palu Hakim, Membaca Langkah Catur Mukhlisin

Kalau Alam Sudah Menegur

Pacu Jalur, Adat, dan Kesejahteraan: Rekomendasi Konkret untuk Pemkab Kuansing

Kepala Daerah: Antara Popularitas dan Janji Kampanye

TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Kasus ISPA Tembus 1.363, Wali Murid di Kuansing Minta PJJ Diperpanjang
  • 2 SMPN 8 Pekanbaru Pakai Meja Rusak, Komisi III DPRD Pertanyakan Pengadaan Meubeler Disdik
  • 3 Tergiur Hasil Instan, Petani di Kuansing Sulap Perkebunan Sawit Jadi Tambang Emas Ilegal
  • 4 Kasus Perkimtan Rp48 Miliar Belum Jelas, Polres Kuansing Malah Buka Bidikan Baru ke Anggaran DPRD
  • 5 Fantastisnya Dana Kunker DPRD Kuansing di Tengah Bidikan Penyidik Tipikor
  • 6 Polres Kuansing Usut Dugaan Korupsi Anggaran Setwan TA 2025, 11 Anggota Dewan Dipanggil
  • 7 Perkuat Sentra Budaya, Pemprov Riau Fasilitasi Kantor UPT Kemenbud
  • 8 Pemkab Kuansing Tak Liburkan Sekolah di Tengah Kabut Asap, Masker Diwajibkan
  • 9 Penyidikan Suap APBD Kuansing 2017 Mangkrak, Aktivis dan Warga Pelototi Kejari
Terkini +INDEKS

ISPA Mendominasi, Kasus Gangguan Kesehatan Akibat Karhutla di Pekanbaru Tembus 6.622 Orang

22 September 2026
Pemkab Bengkalis Pastikan Layanan Dasar Tetap Diprioritaskan dalam APBD Perubahan 2026
22 September 2026
Pemerintah Kucurkan Rp1,9 Triliun untuk Peremajaan 55 Ribu Hektare Kebun Sawit di Riau
22 September 2026
Gelar Berbagai Event, Pemko Pekanbaru Pacu Penjualan Produk UMKM
22 September 2026
Kantor Bupati hingga Gedung DPRD Solok Terdampak Galodo, Pemkab Inventarisasi Kerusakan
22 September 2026
Inhu Sumbang 10 dari 13 Titik Panas yang Terdeteksi di Riau
22 September 2026
Lanud Roesmin Nurjadin Sisir Perbukitan Bekas Karhutla di Kampar Lewat Udara
22 September 2026
Hujan Deras di Gunung Talang Solok Picu Galodo, Kawasan Arosuka Tertimbun Material Longsor
22 September 2026
Sabet Juara II MTQ Nasional XXXI, Pemkab Siak Ganjar Afif Muhammad Bonus Umrah dan Beasiswa
21 September 2026
Syarat Cukup KTP, Riau Gelar Vaksinasi Rabies Gratis Selama 5 Hari
21 September 2026

KABUPATEN+INDEKS
  • 1 Pekanbaru
  • 2 Pelalawan
  • 3 Siak
  • 4 Indragiri Hulu
  • 5 Indragiri Hilir
  • 6 Bengkalis
  • 7 Kuantan Singingi
  • 8 Rokan Hilir
  • 9 Rokan Hulu
  • 10 Meranti
  • 11 Dumai
  • 12 Kampar
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Riauin.com ©2015 By Delapa Media Tenologi | All Right Reserved