Menangis di Sisa Rel Jepang, Tersenyum di Lambung ‘Sang Ratu Helmina’
Rombongan turis Belanda bapak tilas di Koto Kombu
Oleh: Hendrianto.
Sabtu (15/5/2026) siang, udara Desa Koto Kombu mendadak beda. Matahari menyengat, tapi suasana terasa beku. Terutama saat kaki seorang nenek tua asal Belanda menyentuh tanah keras di Kecamatan Hulu Kuantan itu.
Dia berhenti. Matanya tertuju pada satu titik. Di halaman rumah warga.
Ada dua batang besi tua. Berkarat. Sebagian sudah ditelan rumput liar. Orang awam mungkin melihatnya rongsokan. Tapi bagi nenek ini, itu adalah jeritan masa lalu.
Dia berlutut. Tangannya yang keriput meraba besi dingin itu. Air matanya tumpah. Pecah.
Itu bukan sembarang besi. Itu sisa rel kereta api zaman Jepang. Rel maut. Jalur yang dibangun dengan darah, keringat, dan nyawa leluhurnya delapan dekade silam.
Nenek itu tidak sendirian. Ada 29 orang Belanda lainnya. Mereka dipimpin Eric Sininghe dari organisasi SHBSS. Mereka bukan turis yang cari spot foto cantik buat pamer di medsos. Mereka adalah para peziarah sejarah.
Misi mereka berat: mencari jejak kakek-nenek yang hilang ditelan rimba Sumatera.
Mari kita putar balik jam sejarah ke tahun 1943. Saat itu Jepang lagi terjepit di Perang Pasifik. Selat Malaka dikepung Sekutu. Pasokan batu bara dari Sawahlunto terancam.
Jepang punya ide gila: bikin jalur kereta api menembus belantara Riau-Sumbar. Panjangnya 220 kilometer. Dari Muaro ke Pekanbaru.
Tenaganya dari mana? Romusha. Rakyat kita yang dipaksa dan ditipu. Ditambah lagi ribuan tawanan perang (POW) dari Belanda dan Inggris.
Hutan Riau saat itu neraka hijau. Isinya malaria, disentri, dan sabetan rotan tentara Jepang. Bayangkan: 80.000 romusha dan 700 tentara Sekutu tewas. Tanpa nisan. Tanpa penghormatan.
Ironisnya, saat rel itu selesai pada 15 Agustus 1945, Jepang justru menyerah. Rel itu hampir tak pernah dipakai. Ditinggal begitu saja. Dimakan karat.
Tapi Koto Kombu punya cara unik membasuh luka itu.
Di tengah suasana haru, rombongan Belanda ini mendadak tertegun. Mereka melihat sebuah perahu besar di tepi sungai. Perahu itu punya nama unik di lambungnya: Sang Ratu Helmina.
Eric yang tadi matanya berlinang, mendadak senyum lebar.
"Ratu Wilhelmina," bisiknya.
Dia paham. Lidah orang Kuansing memang praktis. Nama ratu Belanda yang susah disebut itu disederhanakan jadi Helmina. Bagi Eric, ini bukan sekadar soal nama. Ini soal cara warga lokal merawat memori. Dengan hormat. Melalui budaya Pacu Jalur.
Dua hari mereka di Kuansing. Mulai dari Koto Baru, Logas, sampai Koto-Kombu. Menyusuri tempat-tempat sunyi yang dulu penuh jeritan.
Warga menyambut hangat. Tidak ada dendam. Yang ada hanya empati antarmanusia. Sejarah memang pahit, tapi penyambutan warga sangat manis.
Sebelum bus menderu menuju Sawahlunto, Eric menitip pesan pendek. Tajam. "Jaga sisa rel ini. Jangan sampai hilang." Bus pun bergerak. Meninggalkan debu di Koto Kombu.
Sang nenek pulang dengan dada lebih lapang. Dia tahu, meski tulang leluhurnya sudah menyatu dengan tanah Riau, memorinya takkan hilang.
Ternyata, di tangan orang Kuansing, sejarah tak melulu soal tangis di sisa rel. Ada senyum yang terselip di lambung perahu. (***)
Berita Lainnya
Sejuk di Tengah Bising
Revolusi AI Generatif: Antara Manfaat dan Tantangan Dunia Akademik
Benteng Roboh, Injury Time Juprizal
Buy Now, Pay Later: Anugerah atau Perangkap Tersembunyi?
Gaya Elit, Ekonomi Sulit
'Jangan Bunuh Angsa Bertelur Emas'
Sejuk di Tengah Bising
Revolusi AI Generatif: Antara Manfaat dan Tantangan Dunia Akademik
Benteng Roboh, Injury Time Juprizal
Buy Now, Pay Later: Anugerah atau Perangkap Tersembunyi?
Gaya Elit, Ekonomi Sulit
'Jangan Bunuh Angsa Bertelur Emas'