Kediri Punya Rokok, Kuansing Punya Sawit
Minyak Goreng
Oleh: Hendrianto
KEDIRI punya Gudang Garam. Perusahaannya raksasa. Dampaknya luar biasa. Satu kota hidup dari sana. Ekonomi berputar. Kemiskinan minggir.
Padahal, Kediri bukan penghasil tembakau terbesar. Tapi mereka punya pabriknya. Mereka melakukan hilirisasi. Mereka tidak hanya menjual daun kering. Mereka menjual produk jadi. Nilai tambahnya tinggal di kota itu.
Sekarang lihat Kuansing.
Sejauh mata memandang hanya hijau sawit. Jutaan batang. Ribuan hektare. Tapi, apa yang benar-benar didapat daerah?
Setiap hari, truk-truk besar melintas. Membawa TBS. Membawa CPO. Debunya ditinggal untuk warga. Aspalnya hancur dilewati beban berat. Hasilnya? Dibawa keluar. Diolah di tempat lain. Dijual lagi ke kita dalam bentuk kemasan.
Kita punya kebun. Tapi beli minyak goreng merek orang. Aneh. Miris.
Data terbaru BPS per Agustus 2025 sudah bicara. Sinyalnya kuning. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) kita memang 2,84%. Masih di bawah rata-rata Riau. Tapi, ada "tapi"-nya.
Angka itu naik 0,36% dibanding tahun lalu. Artinya apa? Pasar kerja kita mulai jenuh. Napas ekonomi kita tersengal-sengal.
Selama ini, perut masyarakat Kuansing bergantung pada sektor Pertanian (34,40%). Kita sangat "bergantung pada nasib". Bergantung pada harga CPO dan karet dunia.
Begitu harga komoditas goyang, daya beli lesu. Pasar sepi. Ironisnya, 52% pekerja kita ada di sektor informal. Pejuang harian. Tidak ada jaminan hari tua. Tidak ada kepastian pendapatan. Di sinilah kerentanan kita.
Kenapa Kuansing tidak jadi sentra industri minyak goreng saja?
Modalnya sudah ada. Bahan baku melimpah. Sangat melimpah. Tidak perlu pusing mencari suplai. Tinggal petik, olah, kemas.
Hilirisasi adalah kunci agar uang hasil bumi berputar lebih lama di daerah. Bukan langsung lari ke Jakarta atau Medan.
Bayangkan kalau ada pabrik minyak goreng besar di Teluk Kuantan. Ribuan anak muda Kuansing tidak perlu ke Pekanbaru atau Jakarta untuk cari kerja. Cukup di kampung sendiri.
Dampaknya pasti dahsyat. Warung nasi laku. Kos-kosan penuh. Pajak daerah naik berkali-kali lipat. Jalanan rusak bisa diperbaiki dengan uang sendiri. Tidak perlu mengemis ke pusat.
Tentu, ini butuh nyali.
Butuh pemimpin yang "gila" ide. Yang bisa merayu investor. Atau, yang berani menggerakkan BUMD secara profesional. Bukan BUMD yang isinya cuma titipan jabatan atau sekadar bagi-bagi kursi.
Kediri sudah membuktikannya. Sebuah kota bisa makmur karena industri. Kuansing punya peluang yang sama. Bahkan lebih besar. Karena semua orang butuh minyak goreng. Tiap hari.
Jangan sampai kita hanya jadi penonton. Menonton truk lewat di depan mata. Sambil memegang botol minyak goreng buatan orang luar.
Kapan "Minyak Goreng Kuansing" masuk dapur kita?
Tergantung nyali kita sekarang. (***)
Berita Lainnya
Sejuk di Tengah Bising
Revolusi AI Generatif: Antara Manfaat dan Tantangan Dunia Akademik
Benteng Roboh, Injury Time Juprizal
Buy Now, Pay Later: Anugerah atau Perangkap Tersembunyi?
Gaya Elit, Ekonomi Sulit
'Jangan Bunuh Angsa Bertelur Emas'
Sejuk di Tengah Bising
Revolusi AI Generatif: Antara Manfaat dan Tantangan Dunia Akademik
Benteng Roboh, Injury Time Juprizal
Buy Now, Pay Later: Anugerah atau Perangkap Tersembunyi?
Gaya Elit, Ekonomi Sulit
'Jangan Bunuh Angsa Bertelur Emas'