Pesta di Kantin, Lapar di Bangku Belakang
Oleh: Hendrianto.
INDONESIA hari ini tak ubahnya seorang anak sekolah yang berdiri di depan cermin, mengenakan seragam rapi, dan dengan lantang berteriak bahwa ia akan menjadi juara kelas. Targetnya jelas: lulus dengan nilai sempurna, menjadi murid teladan, dan masuk dalam jajaran elit "siswa berprestasi" dunia melalui visi Indonesia Emas 2045.
Namun, ketika pintu kamar tertutup dan realitas harian dimulai, potret yang muncul justru sebaliknya. Di atas podium internasional, kita bicara tentang pertumbuhan ekonomi 8% dan ambisi menjadi negara berpendapatan tinggi (high income country).
Namun, di dalam "ruang kelas" domestik, perilaku kita justru mencerminkan murid yang malas belajar. Hukum kita amburadul, sering kali bisa dikompromi layaknya nilai ujian yang bisa dikerek melalui jalur belakang.
Alih-alih membangun fondasi yang kokoh melalui efisiensi dan inovasi, kita lebih suka "mencontek" kesuksesan semu dengan menumpuk utang yang kian menggunung. Alam yang seharusnya menjadi tabungan masa depan justru dirusak demi keuntungan instan, seperti murid yang menjual buku pelajarannya hanya untuk gaya hidup sesaat.
Visi besar itu semakin terlihat mustahil karena ekosistem sekolah yang tidak sehat. Praktek monopoli, oligopoli, dan kartel telah menciptakan sekat-sekat yang kaku. Hanya mereka yang duduk di kursi depan—yang dekat dengan "meja guru" atau lingkaran kekuasaan—yang bisa mendapatkan fasilitas terbaik.
Ekonomi kita menjadi sangat tidak efisien. Alih-alih kompetisi yang sehat berdasarkan prestasi, yang terjadi adalah transaksi kepentingan. Korupsi yang mendarah daging membuat biaya untuk menjadi "pintar" (maju) menjadi sangat mahal, sementara rakyat kecil dipaksa membayar biaya "sekolah" melalui pajak yang kian mencekik.
Ironi terbesar terletak pada siapa yang menikmati hasil dari kerja keras (atau utang) bangsa ini. Para pejabat dan pengusaha yang berada di lingkar kekuasaan sibuk menikmati manisnya gula pertumbuhan ekonomi. Mereka berpesta di kantin sekolah dengan menu terbaik, sementara mayoritas siswa lainnya hanya bisa menonton dari kejauhan.
Bagi rakyat jelata, porsi yang dibagikan bukanlah kesejahteraan nyata, melainkan "mimpi". Rakyat dicekoki dengan narasi-narasi megah tentang negara maju, adil, dan makmur. Mereka diminta untuk terus bersabar dan berkorban, sementara masa depan yang dijanjikan itu terasa semakin menjauh di tengah himpitan ekonomi harian.
Seorang murid tidak akan pernah menjadi juara kelas hanya dengan mengganti sampul bukunya atau mempercantik tampilan presentasinya. Tanpa perubahan mentalitas, tanpa pembersihan sistem dari praktek curang, dan tanpa kemauan untuk disiplin dalam hukum, jargon "Indonesia Emas" hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah sebagai sebuah delusi besar.
Sudah saatnya kita berhenti merasa menjadi murid teladan jika faktanya kita masih hobi mencontek dan foya-foya di atas beban masa depan. Pertumbuhan 8% tidak akan ada gunanya jika hanya menjadi angka di atas kertas, sementara piring makan rakyat tetap kering. (***)
Berita Lainnya
Sejuk di Tengah Bising
Revolusi AI Generatif: Antara Manfaat dan Tantangan Dunia Akademik
Benteng Roboh, Injury Time Juprizal
Buy Now, Pay Later: Anugerah atau Perangkap Tersembunyi?
Gaya Elit, Ekonomi Sulit
'Jangan Bunuh Angsa Bertelur Emas'
Sejuk di Tengah Bising
Revolusi AI Generatif: Antara Manfaat dan Tantangan Dunia Akademik
Benteng Roboh, Injury Time Juprizal
Buy Now, Pay Later: Anugerah atau Perangkap Tersembunyi?
Gaya Elit, Ekonomi Sulit
'Jangan Bunuh Angsa Bertelur Emas'