Ubah Air Gambut Jadi Air Bersih, Mahasiswa Universitas Pertamina Rancang Instalasi Komunal Berbiaya Terjangkau
Vivaldi dan tim saat menghadiri pameran dalam kegiatan Capstone. | Foto : dok
RIAUIN.COM– Keterbatasan akses air bersih masih menjadi persoalan yang dihadapi jutaan masyarakat yang tinggal di kawasan lahan gambut. Meski dikelilingi sumber air yang melimpah, kualitas air gambut yang asam, berwarna cokelat, serta mengandung zat organik dan logam dalam kadar tinggi membuatnya tidak dapat digunakan secara langsung tanpa melalui proses pengolahan.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina (UPER) merancang Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gambut Skala Komunal sebagai solusi penyediaan air bersih yang ekonomis, mudah dioperasikan, dan berkelanjutan. Inovasi tersebut dikembangkan melalui pembelajaran Capstone Design.
Tim tersebut terdiri atas Muhammad Karunia Vivaldi, Geovanny Tampubolon, Monica Septyani, Muhammad Raihan Rachman, dan Tiara Wulan Win Nedhari. Desa Indrapura dipilih sebagai lokasi studi kasus karena dinilai mewakili tantangan penyediaan air bersih di kawasan lahan gambut di Indonesia.
Ketua Tim, Muhammad Karunia Vivaldi, mengatakan perancangan instalasi dilakukan dengan menyesuaikan setiap tahapan pengolahan berdasarkan karakteristik air gambut serta proyeksi kebutuhan air masyarakat hingga 20 tahun mendatang.
"Desa Indrapura kami pilih sebagai lokasi studi kasus karena karakteristiknya merepresentasikan tantangan penyediaan air bersih di kawasan lahan gambut. Konsep utama perancangan ini adalah menyesuaikan setiap tahapan pengolahan dengan karakteristik air baku sekaligus proyeksi kebutuhan air masyarakat hingga 20 tahun ke depan. Dengan pendekatan tersebut, sistem yang dirancang tidak hanya mampu meningkatkan kualitas air, tetapi juga memiliki potensi untuk diterapkan secara berkelanjutan dan dikembangkan di wilayah lahan gambut lainnya," ujar Vivaldi.
Sebelum menyusun desain instalasi, tim terlebih dahulu melakukan pengujian kualitas air gambut di Desa Indrapura. Hasil pengujian menunjukkan air memiliki tingkat keasaman (pH) sekitar 3, jauh di bawah standar air minum yang aman, yakni pH 6,5 hingga 8,5.
Selain itu, air gambut juga berwarna cokelat pekat dan mengandung besi serta mangan yang melebihi baku mutu. Kondisi tersebut membuat air harus melalui proses pengolahan sebelum layak dimanfaatkan masyarakat.
Dalam perancangannya, mahasiswa mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari efektivitas pengolahan, biaya pembangunan, kebutuhan lahan, hingga kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan. Sistem yang dikembangkan mengolah air melalui beberapa tahapan, mulai dari penurunan tingkat keasaman, penyaringan zat pencemar, hingga pemurnian menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO).
Melalui proses tersebut, air gambut yang semula berwarna cokelat dengan kandungan besi dan mangan tinggi dapat diolah menjadi air yang memenuhi standar kualitas air bersih.
"Kami merancang sistem yang tidak hanya efektif mengolah air gambut menjadi air bersih, tetapi juga mudah dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat. Harapannya, teknologi ini dapat menjadi solusi yang berkelanjutan bagi desa-desa yang menghadapi persoalan serupa," kata Vivaldi.
Dosen Pembimbing Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina, Dr Eng Ari Rahman ST MEng menilai inovasi tersebut menjadi bukti bahwa proses pembelajaran di perguruan tinggi mampu menghasilkan solusi nyata terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
"Melalui Capstone Design pada Mata Kuliah Proyek Terintegrasi Berbasis Lingkungan (PTBL), mahasiswa tidak hanya belajar menyelesaikan persoalan teknis, tetapi juga merancang solusi berbasis data yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi agar dapat diterapkan secara nyata di masyarakat," jelasnya.
Sementara itu, Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof Dr tech Djoko Triyono MSi mengapresiasi inovasi yang dihasilkan mahasiswa sebagai bentuk pembelajaran yang berorientasi pada penyelesaian persoalan nyata.
Menurutnya, pengembangan teknologi penyediaan air bersih merupakan bagian dari komitmen Universitas Pertamina dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) 6 tentang Clean Water and Sanitation.
"Pengembangan solusi untuk akses air bersih merupakan bagian dari komitmen Universitas Pertamina dalam mendukung pencapaian SDG 6 (Clean Water and Sanitation). Capaian kami sebagai perguruan tinggi swasta peringkat keempat terbaik di Indonesia pada kategori SDG 6 dalam THE Impact Rankings 2026 menjadi motivasi untuk terus menghasilkan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat," ujar Prof Djoko. -rls
Berita Lainnya
Seratus Tiket Early Bird TEDxMAN Two Pekanbaru Youth Ludes dalam Hitungan Hari, Penjualan Normal Wave Telah Dibuka
Ingin Tembus Perusahaan Multinasional? Intip Tips Alumni Universitas Pertamina
Sulap Minyak Jelantah Jadi Produk Perawatan Sepatu, Mahasiswa UPER Raih Pendanaan P2MW 2026
Bisakah Gempa Ganda seperti di Venezuela Terjadi di Indonesia? Pakar UPER Beri Penjelasan Ilmiahnya
Perkuat Nilai Keberlanjutan di Lingkungan Kampus, UPER Jadi Tuan Rumah SDGs Center Conference 2026
Hemat Biaya Hingga Rp588 Juta, Mahasiswa UPER Hadirkan Teknologi Konstruksi Berbasis Augmented Reality
Seratus Tiket Early Bird TEDxMAN Two Pekanbaru Youth Ludes dalam Hitungan Hari, Penjualan Normal Wave Telah Dibuka
Ingin Tembus Perusahaan Multinasional? Intip Tips Alumni Universitas Pertamina
Sulap Minyak Jelantah Jadi Produk Perawatan Sepatu, Mahasiswa UPER Raih Pendanaan P2MW 2026
Bisakah Gempa Ganda seperti di Venezuela Terjadi di Indonesia? Pakar UPER Beri Penjelasan Ilmiahnya
Perkuat Nilai Keberlanjutan di Lingkungan Kampus, UPER Jadi Tuan Rumah SDGs Center Conference 2026
Hemat Biaya Hingga Rp588 Juta, Mahasiswa UPER Hadirkan Teknologi Konstruksi Berbasis Augmented Reality