• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Politik
  • Hukrim
  • Nasional
  • Riau
  • Iptek
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pilkada
  • Pendidikan
  • DPRD
    • DPRD Pekanbaru
    • DPRD Riau
    • DPRD Inhil
    • DPRD Inhu
  • More
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Siak
    • Indragiri Hulu
    • Indragiri Hilir
    • Bengkalis
    • Kuantan Singingi
    • Rokan Hilir
    • Rokan Hulu
    • Meranti
    • Dumai
    • Kampar
    • Galeri Foto
    • Video
    • Pemilu
    • Sumbar
    • Kepri
    • Peristiwa
    • Olahraga
    • TNI/Polri
    • Tokoh
    • CSR
    • Advertorial
    • Kesehatan
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Home
  • Politik
  • Hukrim
  • Nasional
  • Riau
  • Iptek
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pilkada
  • Pendidikan
  • DPRD
  • Pekanbaru
  • Pelalawan
  • Siak
  • Indragiri Hulu
  • Indragiri Hilir
  • Bengkalis
  • Kuantan Singingi
  • Rokan Hilir
  • Rokan Hulu
  • Meranti
  • Dumai
  • Kampar
  • Galeri Foto
  • Video
  • Pemilu
  • Sumbar
  • Kepri
  • Peristiwa
  • Olahraga
  • TNI/Polri
  • Tokoh
  • CSR
  • Advertorial
  • Kesehatan
  • DPRD Pekanbaru
  • DPRD Riau
  • DPRD Inhil
  • DPRD Inhu
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN
Tergiur Hasil Instan, Petani di Kuansing Sulap Perkebunan Sawit Jadi Tambang Emas Ilegal
18 September 2026
Kasus Perkimtan Rp48 Miliar Belum Jelas, Polres Kuansing Malah Buka Bidikan Baru ke Anggaran DPRD
17 September 2026
Pesona Diva Kuansing di Panggung DA8
17 September 2026
Fantastisnya Dana Kunker DPRD Kuansing di Tengah Bidikan Penyidik Tipikor
16 September 2026
Polres Kuansing Usut Dugaan Korupsi Anggaran Setwan TA 2025, 11 Anggota Dewan Dipanggil
16 September 2026

  • Home
  • Opini

Paradoks Anggaran Daerah: Mengapa Uang APBD Menginap di Bank Saat Rakyat Membutuhkan?

Redaksi

Jumat, 24 Oktober 2025 19:33:37 WIB
Cetak

Ilustrasi

Ditulis: Hendrianto.

DI satu sisi, kita sering mendengar jeritan pemerintah daerah tentang keterbatasan anggaran. Proyek infrastruktur mangkrak, fasilitas publik rusak, hingga insentif layanan dasar tertunda, semua sering dibenarkan dengan alasan klasik: "tidak ada duit."

Namun, di sisi lain, muncul sebuah realitas yang kontras dan mencengangkan: sejumlah besar uang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ternyata disimpan, bahkan hanya untuk semalam (overnight), di rekening perbankan.

Inilah paradoks anggaran daerah. Keluhan kekurangan dana bersanding dengan kas yang menganggur dan menumpuk di bank. Praktik penyimpanan dana APBD dalam jumlah besar di perbankan adalah bentuk mal-manajemen kas daerah yang tidak hanya tidak efisien, tetapi juga menghambat laju pembangunan dan mencederai kepercayaan publik.

Uang rakyat seharusnya berputar cepat untuk memicu pertumbuhan, bukan sekadar menjadi deposito yang nyaman di bank.

Apa yang dimaksud dengan fenomena ini? Sederhananya, dana APBD yang telah dicairkan atau tersedia dalam kas daerah tidak segera dibelanjakan atau disalurkan kepada pihak yang berhak, melainkan ditempatkan sementara di bank, seringkali hanya untuk mencari bagi hasil atau bunga.

Skala masalah ini tidak kecil. Ketika triliunan rupiah uang daerah mengendap, padahal dana tersebut sudah dialokasikan untuk kepentingan publik, biaya peluang (opportunity cost) yang hilang sangatlah besar.

Dana yang menganggur di bank adalah sekolah yang terlambat dibangun, jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki, atau bahkan insentif kesehatan bagi tenaga medis yang tertunda. Kontradiksi narasi "tidak ada duit" menjadi sebuah ironi pahit yang menunjukkan adanya indikasi penyerapan anggaran yang lambat dan tidak optimal.

Sejumlah pengamat mengatakan setidaknya ada tiga alasan utama mengapa kas daerah "membatu". Ada tiga alasan utama yang saling berkelindan.

Pertama, ketakutan birokrasi: Pejabat sering kali didera "sindrom takut salah". Mereka memilih menunda percepatan belanja dan penyerapan anggaran karena khawatir terjerat kasus hukum atau dianggap melanggar prosedur administrasi. Lebih baik uang aman di bank daripada berisiko disalahgunakan dalam proyek.

Kedua  perencanaan anggaran yang lemah. Banyak proyek yang disahkan dalam APBD, namun perencanaan teknisnya tidak matang. Lelang gagal, desain proyek berubah, atau pembebasan lahan belum selesai. Alhasil, meskipun uang sudah tersedia di kas, proyek tidak siap dieksekusi, dan dana pun mengendap.

Ketiga:, insentif perbankan yang menjerat. Bank-bank seringkali "memanjakan" pemerintah daerah dengan penawaran bunga atau bagi hasil yang relatif menarik untuk dana idle ini. Kenyamanan mendapatkan "pendapatan sampingan" tanpa perlu bekerja keras menjalankan proyek pembangunan justru menjadi godaan yang membuat pemda merasa "nyaman" menahan uang di rekening.

Dampak dari kas daerah yang menganggur ini sangat menghukum. Secara ekonomi, uang APBD adalah stimulus. Ketika stimulus tertahan, perputaran uang di daerah melambat, sektor riil, terutama kontraktor dan UMKM lokal yang menggantungkan hidup pada pembayaran proyek pemerintah, menjadi stagnan.

Secara sosial dan politik, tertundanya proyek berarti menurunnya kualitas layanan publik. Lebih jauh lagi, hal ini menciptakan erosi kepercayaan publik. Rakyat merasa dibohongi. Mereka melihat fasilitas dasar mereka rusak, sementara laporan menunjukkan uang mereka justru menumpuk di bank seolah menjadi aset bank, bukan modal pembangunan daerah.

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah daerah harus mengubah mentalitas dari cash management yang pasif menjadi manajemen kas yang proaktif dan agresif. (***) 
 


Sumber : Riauin.com /  Editor : Hendrianto


[Ikuti Riauin.com Melalui Sosial Media]


Riauin.com

Berita Lainnya

Musda Beringin dan Bayang-Bayang 2031

Ketika Bencana Alam Menjadi Risiko di Tempat Kerja

Menunggu Palu Hakim, Membaca Langkah Catur Mukhlisin

Kalau Alam Sudah Menegur

Pacu Jalur, Adat, dan Kesejahteraan: Rekomendasi Konkret untuk Pemkab Kuansing

Kepala Daerah: Antara Popularitas dan Janji Kampanye

Musda Beringin dan Bayang-Bayang 2031

Ketika Bencana Alam Menjadi Risiko di Tempat Kerja

Menunggu Palu Hakim, Membaca Langkah Catur Mukhlisin

Kalau Alam Sudah Menegur

Pacu Jalur, Adat, dan Kesejahteraan: Rekomendasi Konkret untuk Pemkab Kuansing

Kepala Daerah: Antara Popularitas dan Janji Kampanye

TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Tergiur Hasil Instan, Petani di Kuansing Sulap Perkebunan Sawit Jadi Tambang Emas Ilegal
  • 2 Kasus Perkimtan Rp48 Miliar Belum Jelas, Polres Kuansing Malah Buka Bidikan Baru ke Anggaran DPRD
  • 3 Fantastisnya Dana Kunker DPRD Kuansing di Tengah Bidikan Penyidik Tipikor
  • 4 Polres Kuansing Usut Dugaan Korupsi Anggaran Setwan TA 2025, 11 Anggota Dewan Dipanggil
  • 5 Perkuat Sentra Budaya, Pemprov Riau Fasilitasi Kantor UPT Kemenbud
  • 6 Pemkab Kuansing Tak Liburkan Sekolah di Tengah Kabut Asap, Masker Diwajibkan
  • 7 Penyidikan Suap APBD Kuansing 2017 Mangkrak, Aktivis dan Warga Pelototi Kejari
  • 8 Pertamina Garansi Subsidi BBM Aman dari Fluktuasi Minyak Dunia
  • 9 Ketua DPRD Riau Terima Aspirasi KSPSI, Soroti 8 Isu Krusial dalam RUU Perlindungan Ketenagakerjaan
Terkini +INDEKS

Pemprov Riau Bentuk Tim Khusus Usut Pengaduan Masyarakat Soal HW Live House

19 September 2026
Warga Sukarjo Mesim Bengkalis Galang Dana Mandiri Perbaiki Jembatan Parit Jawa
19 September 2026
DLHK dan Satpol PP Pekanbaru Tindak Warga Pembakar Sampah
19 September 2026
Dua Gol Sundulan Gamaroni Bawa PSPS Pekanbaru Tekuk Persiraja 2-1
19 September 2026
SMPN 8 Pekanbaru Pakai Meja Rusak, Komisi III DPRD Pertanyakan Pengadaan Meubeler Disdik
19 September 2026
BMKG Deteksi 91 Hotspot di Riau, BPBD Minta Tim Karhutla Tidak Lengah Pasca Hujan
19 September 2026
TNI AU Tabur 1 Ton Garam dan Siagakan Helikopter Caracal Padamkan Karhutla Riau
19 September 2026
DEN Kejar Target 45 Juta Penerima Bansos Digital, Riau Mobilisasi Babinsa dan Bhabinkamtibmas
19 September 2026
Pemprov Riau Siapkan 53 Usulan Baru Kampung Nelayan Merah Putih untuk 2027
19 September 2026
Peringatan Dini BMKG, Cuaca Buruk Ancam Tujuh Daerah di Riau Hari Ini
19 September 2026

KABUPATEN+INDEKS
  • 1 Pekanbaru
  • 2 Pelalawan
  • 3 Siak
  • 4 Indragiri Hulu
  • 5 Indragiri Hilir
  • 6 Bengkalis
  • 7 Kuantan Singingi
  • 8 Rokan Hilir
  • 9 Rokan Hulu
  • 10 Meranti
  • 11 Dumai
  • 12 Kampar
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Riauin.com ©2015 By Delapa Media Tenologi | All Right Reserved