Indonesia Berduka, Empat Musibah Besar Melanda Sejak Januari Hingga April
RIAUIN.COM - Segenap bangsa Indonesia benar-benar berduka. Betapa tidak, rentetan musibah melanda bumi ibu pertiwi sejak bulan Januari hingga April 2021.
Berawal dari musibah hilangnya pesawat komersial Sriwijaya Air SJ-182 tipe Boeing 737-500 dengan rute Jakarta-Pontianak pada Sabtu (09/01/2021).
Pesawat jenis Boeing 737-500 ini dilaporkan hilang kontak di sekitar Pulau Lancang, Kepulauan Seribu, kata otoritas Bandara Soekarno-Hatta, Haerul Anwar.
Berdasarkan data manifest, pesawat yang diproduksi 1994 itu membawa 62 orang terdiri atas 50 penumpang dan 12 orang kru. Dari jumlah tersebut, 40 orang dewasa, tujuh anak-anak, tiga bayi. Sedangkan 12 kru terdiri atas, enam kru aktif dan enam kru ekstra.
Setelah melakukan pencarian selama lebih kurang 2 bulan, Tim SAR gabungan berhasil menemukan cockpit voice recorder (CVR) yang merupakan bagian dari kotak hitam (black box) milik pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu. CVR yang berisi percakapan pilot dan kopilot serta suara-suara dalam cockpit pesawat itu ditemukan pada Selasa (30/3/2031) malam.
Selanjutnya bencana banjir bandang disertai tanah longsor terjadi di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Minggu (4/4/2021) sekitar pukul 01.00 Wita.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan pembaruan (update) jumlah korban meninggal akibat banjir di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 181 dan 48 yang hilang per Minggu (18/4).
Jumlah itu merupakan angka akumulasi dari beberapa kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Timur yang terdampak bencana itu. Lebih rinci, korban yang meninggal di Flores Timur mencapai 72 orang. Sementara yang dua orang hilang, dan 76 mengalami luka-luka.
Di Kabupaten Alor tercatat ada 28 orang yang meninggal, 13 orang hilang dan korban luka-luka 25 orang. Kemudian di Kabupaten Kupang dilaporkan 12 orang meninggal,3 hilang dan 26 orang mengalami luka-luka.
Di Kabupaten Lembata tercatat ada 46 orang meninggal, 22 orang hilang dan 53 luka-luka. Di Malaka terdapat 11 orang yang meninggal akibatbanjirbandang tersebut. Di Kabupaten Saibu Raijua ada orang yang tiga meninggal, dan tujuh hilang. Di Ende dan Rote Ndao tercatat satu orang meninggal. Lalu di Kota Kupang enam orang meninggal, satu hilang dan delapan lainnya luka-luka.
Belum usai penanganan bencana di NTT, musibah kembali terjadi. Kali ini menimpa kilang Pertamina RU VI Balongan, Indramayu, Jawa Barat. Kilang terbesar di Asia Tenggara tersebut meledak, Rabu (31/3/2021). Tiga orang dilaporkan hilang akibat ledakan yang terjadi Senin (29/3/2021) tersebut.
Berdasarkan rilis dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Senin. Diduga, ketiga orang itu terpental ke sawah saat melewati jalan Balongan setelah pulang dari pondok pesantren. Selain itu, ada lima orang menderita luka berat dan 15 orang mengalami luka ringan.
BNPB juga melaporkan, ratusan warga mengungsi akibat ledakan ini. Ada tiga titik lokasi pengungsian yakni GOR Kompleks Perum Pertamina Bumi Patra (200 pengungsi), Pendopo Kantor Bupati Indramayu (300 pengungsi), dan Gedung Islamic Center Indrayu (392 pengungsi).
Yang terbaru adalah peristiwa nahas yang menimpa KRI Nanggala-402 pada Rabu (21/4) pukul 04.30 WIB. Kapal selam KRI Nanggala-402 milik TNI AL tersebut hilang kontak di perairan utara Bali dengan membawa 53 awak di dalamnya. Kapal selam itu hilang kontak saat latihan penembakan torpedo.
Pada Sabtu (24/4/2021) kapal selam KRI Nanggala-402 resmi dinyatakan tenggelam (subsunk). Penetapan status ini berdasarkan penemuan peralatan kapal yang keluar akibat terjadi retakan.
"Dengan ditemukannya peralatan yang sudah keluar ini, terjadi keretakan. Memang terjadi tekanan kedalaman yang dalamnya sampai 700-800 meter, ini tentunya terjadi keretakan terhadap kapal selam tersebut," ujar Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono dalam konferensi pers, Sabtu (24/5/2021).
Hingga akhirnya, KRI Nanggala-402 berhasil ditemukan pada Ahad, 25 April 2021. Kapal selam milik TNI Angkatan Laut tersebut ditemukan terbelah menjadi tiga bagian, 53 orang personil dinyatakan tewas.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono, mengatakan Penemuan ini bermula dari langkah KRI Rigel yang menggunakan multibeam echo sounder di sekitar lokasi pencarian pada kedalaman 800 meter pada pukul 01.00 WITA. Saat itu, KRI Rigel menemukan kontak bawah air di sekitar situ.
"Karena peralatan KRI Rigel yang ROV-nya hanya mampu (di kedalaman) 800 meter, maka diserahkan pada MV Swift Rescue," kata Yudo dalam konferensi pers, Ahad, 25 April 2021. -dani
Berita Lainnya
KPK Geledah Rumah Kadisbun Kuansing Hingga Larut Malam, Penyidik Bawa Koper Hitam Dikawal Polisi Bersenjata
Breaking News: KPK Geledah Rumah Kadis Perkebunan Kuansing Malam Ini, Dijaga Polisi Bersenjata Laras Panjang
LSM Desak KPK Telusuri Aset Bupati Non-Aktif Kuansing, Diduga Sembunyikan Kebun Sawit Miliaran Rupiah
KPK Buru Aktor Pengumpul Duit Koperasi dalam Kasus Suap Bupati Kuansing
Tarif Listrik Triwulan III 2026 Tetap, PLN Jalankan Kebijakan Pemerintah dan Jaga Kualitas Layanan Masyarakat
Sebut Kasus Amplop Bupati Kuansing Masuk Gratifikasi, LSM: Seharusnya Lapor KPK, Bukan Dikembalikan
KPK Geledah Rumah Kadisbun Kuansing Hingga Larut Malam, Penyidik Bawa Koper Hitam Dikawal Polisi Bersenjata
Breaking News: KPK Geledah Rumah Kadis Perkebunan Kuansing Malam Ini, Dijaga Polisi Bersenjata Laras Panjang
LSM Desak KPK Telusuri Aset Bupati Non-Aktif Kuansing, Diduga Sembunyikan Kebun Sawit Miliaran Rupiah
KPK Buru Aktor Pengumpul Duit Koperasi dalam Kasus Suap Bupati Kuansing
Tarif Listrik Triwulan III 2026 Tetap, PLN Jalankan Kebijakan Pemerintah dan Jaga Kualitas Layanan Masyarakat
Sebut Kasus Amplop Bupati Kuansing Masuk Gratifikasi, LSM: Seharusnya Lapor KPK, Bukan Dikembalikan