Kanal

Sektor Non-migas Jadi Penopang Utama Pertumbuhan Ekonomi Riau

RIAUIN.COM - Ketahanan ekonomi Provinsi Riau di tengah fluktuasi global mulai menunjukkan pergeseran ketergantungan. Meski secara umum tumbuh positif, performa sektor non-migas tercatat melampaui capaian pertumbuhan ekonomi secara makro pada triwulan I-2026. Pertumbuhan ini sekaligus mengukuhkan posisi Riau sebagai kontributor ekonomi terbesar kedua di luar Pulau Jawa.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Riau yang dirilis di Pekanbaru, Selasa (5/5/2026), ekonomi Bumi Lancang Kuning pada tiga bulan pertama tahun ini tumbuh 4,89 persen secara tahunan (year-on-year). Jika variabel minyak dan gas bumi (migas) dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan ekonomi Riau justru melonjak hingga 5,86 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan capaian periode yang sama tahun lalu sebesar 5,59 persen.

Kepala BPS Riau Asep Riyadi menjelaskan bahwa nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Riau atas dasar harga berlaku kini telah menyentuh Rp 317,14 triliun. Menurut dia, penguatan di sektor non-migas menjadi sinyal positif terjaganya aktivitas ekonomi di tingkat masyarakat.

"Perekonomian Riau tanpa migas tumbuh 5,86 persen. Hal ini menunjukkan adanya penguatan yang signifikan pada sektor-sektor di luar pertambangan minyak," ujar Asep Riyadi.

Dari kacamata produksi, geliat ekonomi paling terasa pada lapangan usaha jasa lainnya yang melesat 13,87 persen. Sektor penyediaan akomodasi serta makan minum juga mencatatkan pertumbuhan dua digit, yakni 13,67 persen, diikuti oleh sektor jasa pendidikan sebesar 10,37 persen. Sementara itu, industri pengolahan tetap menjadi jangkar utama struktur ekonomi dengan pertumbuhan 6,21 persen.

Secara nasional, peran Riau tergolong vital dengan menyumbang 5,14 persen terhadap perekonomian Indonesia. Dengan besaran tersebut, Riau kini menduduki peringkat keenam sebagai provinsi dengan PDRB terbesar di Indonesia.

Namun, BPS juga memberikan catatan terkait kontraksi ekonomi sebesar 0,33 persen jika dibandingkan dengan triwulan IV-2025 (quarter-to-quarter). Penurunan ini dipicu oleh melambatnya sektor transportasi dan pergudangan yang terkoreksi hingga 10,50 persen, serta penurunan konsumsi rumah tangga sebesar 2,06 persen.

Dilihat dari struktur pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor penggerak utama dengan porsi 33,47 persen. Disusul kemudian oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi sebesar 31,60 persen dan ekspor luar negeri sebesar 28,53 persen.

Asep Riyadi menegaskan bahwa meski terdapat tekanan pada beberapa komponen pengeluaran dan lapangan usaha secara triwulanan, pondasi ekonomi Riau secara keseluruhan masih sangat solid. Lima sektor utama, yakni industri pengolahan, pertanian, pertambangan, perdagangan, dan konstruksi, secara akumulatif masih menguasai 93,75 persen struktur ekonomi daerah tersebut. (Bil)

Ikuti Terus Riauin

Berita Terkait

Berita Terpopuler