RIAUIN.COM - Badan Pusat Statistik Provinsi Riau mencatat inflasi tahunan (year on year) pada April 2026 sebesar 2,37 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 112,03. Berbeda dengan tren sebelumnya yang sering dipicu oleh gejolak harga pangan, inflasi kali ini didorong signifikan oleh kenaikan biaya pada kelompok perawatan pribadi dan sektor pendidikan.
Kepala BPS Riau Asep Riyadi mengungkapkan bahwa dinamika harga di tingkat konsumen masih berada dalam rentang kendali pemerintah. Meski demikian, terdapat pergeseran kelompok pengeluaran yang memberikan andil besar terhadap kenaikan angka inflasi di Bumi Lancang Kuning tersebut.
"Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami kenaikan tertinggi hingga 12,57 persen. Sektor ini memberikan andil inflasi tahunan terbesar bagi Riau, yakni mencapai 0,94 persen," kata Asep di Pekanbaru, Senin (4/5/2026).
Selain perawatan pribadi, sektor pendidikan menjadi penyumbang kenaikan harga kedua terbesar dengan inflasi sebesar 5,08 persen. Komoditas lain yang terpantau konsisten memberikan tekanan inflasi tahunan adalah emas perhiasan, daging ayam ras, tarif angkutan udara, serta beras.
Secara spasial, dari beberapa wilayah yang dipantau di Provinsi Riau, Tembilahan mencatatkan angka inflasi tertinggi mencapai 3,61 persen. Sebaliknya, tingkat kenaikan harga paling rendah berada di Kabupaten Kampar yang hanya menyentuh angka 1,51 persen.
Meskipun secara tahunan terjadi kenaikan, kondisi harga pada periode April 2026 jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (month to month) hanya mengalami inflasi tipis sebesar 0,17 persen. Pendorong utama kenaikan bulanan ini adalah fluktuasi harga bawang merah, tarif transportasi udara, dan minyak goreng.
"Jika dilihat secara tahun berjalan (year to date), Riau sebenarnya masih mencatatkan deflasi sebesar 0,15 persen. Ini menandakan bahwa daya beli masyarakat masih terjaga di tengah dinamika harga komoditas global maupun lokal," lanjut Asep.
Di sisi lain, tekanan inflasi di Riau sedikit teredam oleh penurunan harga pada kelompok pengeluaran perlengkapan rumah tangga serta kelompok rekreasi dan olahraga. Sejumlah komoditas pangan seperti cabai merah, bawang putih, dan kentang juga tercatat mengalami deflasi sehingga membantu menyeimbangkan neraca inflasi daerah.
Asep menilai stabilitas ekonomi Riau secara keseluruhan masih terjaga dengan baik. Struktur inflasi yang didominasi oleh kelompok non-pangan menunjukkan bahwa pasokan bahan pokok di pasar relatif aman, meskipun masyarakat perlu mewaspadai kenaikan biaya jasa dan gaya hidup. (Bil)