PILIHAN
Petani di Rokan Hulu Keluhkan Harga Komoditi Karet
ROHUL, Riauin.com - Sejumlah petani perkebunan karet di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) mengeluhkan harga komoditi karet yang tak kunjung stabil. Mereka berharap kepada pemerintah baik di daerah hingga ke pusat bisa mencarikan solusi, agar harga karet bisa membaik.
Seperti yang dirasakan salah seorang petani, Eman warga Kelurahan Pasir Pengaraaian, Kecamatan Rambah. Dia menceritakan, akibat terus anjloknya harga karet yang hanya bekisar 5 sampai 6 ribu per kilogramnya, berdampak terhadap penghasilan para petani di sana.
"Kami heran, persoalan ini sudah lama terjadi, tapi sampai sekarang pemerintah belum dapat mencari solusinya. Kami tidak banyak meminta, cukup stabilkan harga karet, Insyaallah taraf ekonomi petani meningkat," terang Eman kepada wartawan, Selasa (3/7/2018).
Eman mengungkapkan, jika persoalan ini terus berlarut dan belum ada solusi dari pemerintah, tidak menutup kemungkinan akan menambah daftar panjang anak petani putus sekolah, karena orang tuanya yang tidak dapat menyekolahkan, akibat penghasilan yang kian menurun.
Jika dibanding dengan perkebunan sawit yang selalu mendapat dukungan serta diprogramkan oleh pemerintah, ini juga menambah kekecewaan petani karet di daerah berjuluk Negeri Seribu Suluk tersebut.
Diutarakan Eman, untuk perkebunan sawit mengapa cepat mendapat respon dari pemerintah mulai dari harga, produksi sampai ke program peremajaannya (replanting). Dan untuk petani karet bertahun-tahun harus merasakan pesakitan, karena harga yang terus anjlok.
"Sangat minim perhatian pemerintah, kalau pun ada bantuan hanya sebatas bibit. Bukan kami tidak mensyukuri, tapi apalah guna bibit dibantu, hasilnya tidak sesuai," keluhnya.
Eman mengakui, bahwa perkebunan sawit yang cukup luas di Provinsi Riau pada umumnya, menjadikan pemerintah cukup memperhatikan harga komoditi pengahasil minyak makan itu.
Namun, kata Eman dampak lingkungan yang diakibatkan sawit lebih besar daripada karet. Bukan hanya itu, biaya operasional untuk sawit lebih besar jiak dibandingkan dengan perkebunan karet.
"Kami hanya bisa berharap, semoga Allah SWT mengetuk hati mereka yang mengambil kebijakan. Semoga mereka bisa memperhatikan kesulitan kami alami sebagai petani karet," harapnya.(int/nol)
Seperti yang dirasakan salah seorang petani, Eman warga Kelurahan Pasir Pengaraaian, Kecamatan Rambah. Dia menceritakan, akibat terus anjloknya harga karet yang hanya bekisar 5 sampai 6 ribu per kilogramnya, berdampak terhadap penghasilan para petani di sana.
"Kami heran, persoalan ini sudah lama terjadi, tapi sampai sekarang pemerintah belum dapat mencari solusinya. Kami tidak banyak meminta, cukup stabilkan harga karet, Insyaallah taraf ekonomi petani meningkat," terang Eman kepada wartawan, Selasa (3/7/2018).
Eman mengungkapkan, jika persoalan ini terus berlarut dan belum ada solusi dari pemerintah, tidak menutup kemungkinan akan menambah daftar panjang anak petani putus sekolah, karena orang tuanya yang tidak dapat menyekolahkan, akibat penghasilan yang kian menurun.
Jika dibanding dengan perkebunan sawit yang selalu mendapat dukungan serta diprogramkan oleh pemerintah, ini juga menambah kekecewaan petani karet di daerah berjuluk Negeri Seribu Suluk tersebut.
Diutarakan Eman, untuk perkebunan sawit mengapa cepat mendapat respon dari pemerintah mulai dari harga, produksi sampai ke program peremajaannya (replanting). Dan untuk petani karet bertahun-tahun harus merasakan pesakitan, karena harga yang terus anjlok.
"Sangat minim perhatian pemerintah, kalau pun ada bantuan hanya sebatas bibit. Bukan kami tidak mensyukuri, tapi apalah guna bibit dibantu, hasilnya tidak sesuai," keluhnya.
Eman mengakui, bahwa perkebunan sawit yang cukup luas di Provinsi Riau pada umumnya, menjadikan pemerintah cukup memperhatikan harga komoditi pengahasil minyak makan itu.
Namun, kata Eman dampak lingkungan yang diakibatkan sawit lebih besar daripada karet. Bukan hanya itu, biaya operasional untuk sawit lebih besar jiak dibandingkan dengan perkebunan karet.
"Kami hanya bisa berharap, semoga Allah SWT mengetuk hati mereka yang mengambil kebijakan. Semoga mereka bisa memperhatikan kesulitan kami alami sebagai petani karet," harapnya.(int/nol)
Berita Lainnya
Tim SAR Temukan Lansia yang Hilang di Perkebunan Sawit Rohul
PW KAMMI Riau Salurkan Al-Qur’an dan Sembako ke TPQ Malika Rohul Saat Ramadan
Dugaan Upaya Adu Domba Masyarakat Adat di Rokan Hulu
Setelah Pencarian Panjang, Tim SAR Temukan Jasad Bocah yang Hanyut di Sungai Ngaso Rohul
Seorang Anak Hanyut di Sungai Ngaso Rohul, Tim Basarnas Pekanbaru Masih Lakukan Pencarian
Banjir Rendam Jalan Rohul-Duri hingga Surau Suluk Setinggi 1 Meter, Aktivitas Masyarakat Lumpuh
Tim SAR Temukan Lansia yang Hilang di Perkebunan Sawit Rohul
PW KAMMI Riau Salurkan Al-Qur’an dan Sembako ke TPQ Malika Rohul Saat Ramadan
Dugaan Upaya Adu Domba Masyarakat Adat di Rokan Hulu
Setelah Pencarian Panjang, Tim SAR Temukan Jasad Bocah yang Hanyut di Sungai Ngaso Rohul
Seorang Anak Hanyut di Sungai Ngaso Rohul, Tim Basarnas Pekanbaru Masih Lakukan Pencarian
Banjir Rendam Jalan Rohul-Duri hingga Surau Suluk Setinggi 1 Meter, Aktivitas Masyarakat Lumpuh