PILIHAN
Selalu Dibawanya, Buku Kecil Itu yang Akan Mengikat Hati Syamsuar dengan Masyarakat Riau
PEKANBARU, Riauin.com - Calon Gubernur Riau, Drs H Syamsuar MSi kemana pergi tak pernah lupa membawa buku kecil yang selalu disimpannya dalam saku (kantong) celananya.
Buku itu sesekali dikeluarkannya untuk dibaca dan mencatat apa saja yang menjadi keluhan masyarakat Riau selama ini.
Tidak satupun aspirasi masyarakat yang terlewatkan dicatat olehnya saat melakukan temu ramah dan kampanye dialogis menjelang Pilkada Riau 2018.
Bahkan saat diberikan kesempatan berdiri saat kampanye dialogis, Syamsuar membutuhkan meja untuk mengalas buku kecilnya itu.
Catatan atau tulisan tangannya itu, akan menjadi ingatan yang kental bagi Syamsuar ketika diamanahkan masyarakat Riau menjadi pemimpin Riau bersama Edy Natar Nasution.
Ibaratkan anak sekolah yang diberikan tugas atau pekerjaan rumah (PR) oleh gurunya. Maka PR itu menjadi kewajiban bagi si anak itu untuk mengerjakannya hingga tuntas.
Syamsuar tidak ingin segala harapan masyarakat Riau yang tertunda ini tidak terealisasi saat Allah memberikannya kesempatan menjadi pemimpin Riau.
Aspirasi masyarakat ini sangat banyak, jika tidak dicatat tentunya kelak akan terabaikan karena lupa. Dan masyarakat yang pernah menyampaikan harapannya akan kecewa.
Seperti yang terlihat saat kampanye dialogis di Bangkinang Kota, Senin (19/2/2018) lalu. Bukan hanya coretan biasa yang ditulis Syamsuar saat itu.
Begitu juga saat kampanye dialogis di Desa Air Putih, Kecamatan Tampan, Pekanbaru. Tokoh masyarakat Malin Syaidi, tampak bahagia.
Betapa tidak, Calon Gubernur Riau, Drs H Syamsuar, adalah calon yang pertama kali mau bersilaturahmi dengan masyarakat setempat.
Malin juga menyampaikan aspirasinya, bahwa Jalan Garuda Sakti yang sejak zaman Gubernur Riau, Saleh Djasit, sampai sekarang tak pernah diperbaiki. Karenanya diharapkan, hal ini menjadi program 100 hari kerja Pak Syamsuar jika nantinya jadi Gubernur Riau.
Tidak hanya aspirasi Malin saja yang ada dalam buku catatan itu, warga lainnya, Ibu Ida, sempat meluahkan rasa isi hatinya terkait lapangan kerja. Terutama untuk anak warga perantau yang sulit bekerja di pemerintahan.
Tugas kepala daerah itu, kata Syamsuar, menjamin pelayanan dasar yakni kesehatan dan pendidikan. Artinya, undang-undang sudah mengaturnya tinggal mengalokasi anggarannya dan ditentunya disesuaikan dengan kondisi keuangan yang ada.
Mengenai tenaga kerja di pemerintah daerah, menurut Syamsuar, rasanya tidak ada yang membedakannya. "Bagi saya, bagaimana kinerjanya. Jadi saya tidak akan membedakan etnis. Kita di sini semuanya adalah orang Riau dan tak usah merasa kecil hati," ungkap Syamsuar.
Dalam memimpin daerah, jelas Syamsuar, dia merujuk pada peninggalan atau mencontoh Sultan Siak yang merangkul semua masyarakat tanpa mengenal dari mana asalnya.
"Sultan Siak memberi contoh hidup berdampingan sehingga di Siak sejak zaman dulu sudah ada gereja dan klenteng. Inilah yang menjadi contoh saya dalam memimpin," ungkap Syamsuar.
Persoalan zakat, kata Syamsuar, Insya Allah dikembangkan di Provinsi Riau. Apalagi zakat ini selain disebutkan dalam Al-qur'an juga ada peraturannya.
"Zakat adalah salah satu upaya pengetasan kemiskinan yang menjadi program pemerintah," ungkap Syamsuar. (int/nol)
Buku itu sesekali dikeluarkannya untuk dibaca dan mencatat apa saja yang menjadi keluhan masyarakat Riau selama ini.
Tidak satupun aspirasi masyarakat yang terlewatkan dicatat olehnya saat melakukan temu ramah dan kampanye dialogis menjelang Pilkada Riau 2018.
Bahkan saat diberikan kesempatan berdiri saat kampanye dialogis, Syamsuar membutuhkan meja untuk mengalas buku kecilnya itu.
Catatan atau tulisan tangannya itu, akan menjadi ingatan yang kental bagi Syamsuar ketika diamanahkan masyarakat Riau menjadi pemimpin Riau bersama Edy Natar Nasution.
Ibaratkan anak sekolah yang diberikan tugas atau pekerjaan rumah (PR) oleh gurunya. Maka PR itu menjadi kewajiban bagi si anak itu untuk mengerjakannya hingga tuntas.
Syamsuar tidak ingin segala harapan masyarakat Riau yang tertunda ini tidak terealisasi saat Allah memberikannya kesempatan menjadi pemimpin Riau.
Aspirasi masyarakat ini sangat banyak, jika tidak dicatat tentunya kelak akan terabaikan karena lupa. Dan masyarakat yang pernah menyampaikan harapannya akan kecewa.
Seperti yang terlihat saat kampanye dialogis di Bangkinang Kota, Senin (19/2/2018) lalu. Bukan hanya coretan biasa yang ditulis Syamsuar saat itu.
Begitu juga saat kampanye dialogis di Desa Air Putih, Kecamatan Tampan, Pekanbaru. Tokoh masyarakat Malin Syaidi, tampak bahagia.
Betapa tidak, Calon Gubernur Riau, Drs H Syamsuar, adalah calon yang pertama kali mau bersilaturahmi dengan masyarakat setempat.
Malin juga menyampaikan aspirasinya, bahwa Jalan Garuda Sakti yang sejak zaman Gubernur Riau, Saleh Djasit, sampai sekarang tak pernah diperbaiki. Karenanya diharapkan, hal ini menjadi program 100 hari kerja Pak Syamsuar jika nantinya jadi Gubernur Riau.
Tidak hanya aspirasi Malin saja yang ada dalam buku catatan itu, warga lainnya, Ibu Ida, sempat meluahkan rasa isi hatinya terkait lapangan kerja. Terutama untuk anak warga perantau yang sulit bekerja di pemerintahan.
Tugas kepala daerah itu, kata Syamsuar, menjamin pelayanan dasar yakni kesehatan dan pendidikan. Artinya, undang-undang sudah mengaturnya tinggal mengalokasi anggarannya dan ditentunya disesuaikan dengan kondisi keuangan yang ada.
Mengenai tenaga kerja di pemerintah daerah, menurut Syamsuar, rasanya tidak ada yang membedakannya. "Bagi saya, bagaimana kinerjanya. Jadi saya tidak akan membedakan etnis. Kita di sini semuanya adalah orang Riau dan tak usah merasa kecil hati," ungkap Syamsuar.
Dalam memimpin daerah, jelas Syamsuar, dia merujuk pada peninggalan atau mencontoh Sultan Siak yang merangkul semua masyarakat tanpa mengenal dari mana asalnya.
"Sultan Siak memberi contoh hidup berdampingan sehingga di Siak sejak zaman dulu sudah ada gereja dan klenteng. Inilah yang menjadi contoh saya dalam memimpin," ungkap Syamsuar.
Persoalan zakat, kata Syamsuar, Insya Allah dikembangkan di Provinsi Riau. Apalagi zakat ini selain disebutkan dalam Al-qur'an juga ada peraturannya.
"Zakat adalah salah satu upaya pengetasan kemiskinan yang menjadi program pemerintah," ungkap Syamsuar. (int/nol)
Berita Lainnya
Dua Pekerja Tewas Akibat Serangan Harimau, BBKSDA Riau Desak Perusahaan Benahi Sistem Pengamanan
Bimtek Demokrat di Pacitan, HM Sumardany Tekankan Pentingnya Komitmen Kader Perjuangkan Program Pro Rakyat
Absen Paripurna, Ketua DPRD Kuansing Juprizal Diperiksa KPK di Pekanbaru
Wabup Mukhlisin Jadi Plt Bupati Kuansing, Warga Ingatkan Filosofi 'Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti'
Kasus Jual Beli Jabatan Sekda Kuansing Terbongkar, KPK Diminta Usut Posisi Kepala Dinas
Konsisten Cetak Juara, YAME Taekwondo Kembali Harumkan Nama Riau di Level Nasional
Dua Pekerja Tewas Akibat Serangan Harimau, BBKSDA Riau Desak Perusahaan Benahi Sistem Pengamanan
Bimtek Demokrat di Pacitan, HM Sumardany Tekankan Pentingnya Komitmen Kader Perjuangkan Program Pro Rakyat
Absen Paripurna, Ketua DPRD Kuansing Juprizal Diperiksa KPK di Pekanbaru
Wabup Mukhlisin Jadi Plt Bupati Kuansing, Warga Ingatkan Filosofi 'Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti'
Kasus Jual Beli Jabatan Sekda Kuansing Terbongkar, KPK Diminta Usut Posisi Kepala Dinas
Konsisten Cetak Juara, YAME Taekwondo Kembali Harumkan Nama Riau di Level Nasional