Polisi Kopi dan Harga Diri
AIPDA Vicky Aristo Katiandagho
Oleh: Hendrianto.
AIPDA Vicky Aristo Katiandagho. Nama itu mendadak riuh. Ia mantan Kanit Tipidkor di Polres Minahasa.
Tugasnya berat: mengusut korupsi tas belanja. Nilainya Rp2,2 miliar. Dana desa.
Di tengah jalan, ia dimutasi. Jauh. Ke Kepulauan Talaud. Di perbatasan.
Vicky merasa ada yang janggal. Ia menyurat ke Kapolri. Tak ada jawaban. Akhirnya ia memilih mundur. Tanggalkan seragam.
Sekarang? Ia jualan kopi. Lebih tenang, katanya. Daripada tunduk pada "penjilat".
Kisah Vicky ini menarik. Ia membuktikan satu hal: polisi jujur itu ada. Masih banyak. Hanya saja, mereka sering terjepit.
Kita sering menghujat polisi. Mem-bully mereka habis-habisan di media sosial. Seolah semua polisi itu miring. Padahal tidak.
Tapi, mari kita jujur pada diri sendiri.
Kadang, kitalah yang menjadi "guru" korupsi bagi mereka. Contoh paling kecil: di jalan raya.
Kena tilang. Salah sendiri. Tapi malas urus surat. Tak mau repot ke pengadilan.
Lalu mulut mulai berbisik: "Bisa damai saja, Pak?"
Kalau polisinya geleng kepala, kita cari alibi. Kita sebut mereka kaku. Tidak fleksibel. Lalu kita cari kenalan "orang dalam".
Kita yang menyodorkan uang. Kita yang menawarkan jalan pintas. Lalu, saat oknum polisi menerimanya, kita maki-maki institusinya di Facebook.
Ini simbiosis yang aneh. Kita benci korupsi, tapi kita cinta jalan pintas.
Polisi seperti Vicky adalah cermin. Cermin yang bersih. Tapi cermin itu seringkali pecah karena sistem—atau karena godaan yang kita sodorkan sendiri.
Kita ingin polisi yang tegak lurus. Tapi kita sendiri sering jalan berkelok-kelok.
Memang ada polisi yang kurang jujur. Itu fakta. Tapi jangan lupa, banyak juga dari mereka yang ingin bekerja lurus tapi selalu "ditarik-tarik" oleh tawaran damai kita.
Vicky sudah membuktikan integritasnya. Ia memilih kopi daripada harga diri yang dibeli.
Sekarang tinggal kita. Mau terus menyalahkan polisi, atau mulai belajar jujur saat kena tilang di pinggir jalan?
Perubahan itu dua arah. Dari atas ke bawah. Dan dari kita, warga biasa, kepada petugas di lapangan.
Jangan ajari mereka curang. Agar polisi jujur tak perlu berakhir jadi tukang kopi. (***)
Berita Lainnya
Beredar Kabar Bupati Kuansing Nonaktif Bakal Bongkar Dugaan Pungutan PPPK Miliaran Rupiah ke KPK
Menyilangkan Faksi di Hari Merdeka: Rekonsiliasi Politik Kuansing di Lapangan Limuno
PLN UPT Pekanbaru Gelar Simulasi Tanggap Darurat Objek Vital Nasional Sambut Masa Siaga Kemerdekaan RI ke-81
Tim SAR Gabungan Temukan Jasad Remaja 13 Tahun yang Hanyut di Sungai Siak Depan Taman Singapura
Polisi Masuk Gedung Dewan: Jejak Gelap APBD Kuansing 2025 Mulai Diurai
Validasi Teriakan Aktivis dari Balik Sel: Skandal APBD Kuansing Akhirnya Diusut KPK
Beredar Kabar Bupati Kuansing Nonaktif Bakal Bongkar Dugaan Pungutan PPPK Miliaran Rupiah ke KPK
Menyilangkan Faksi di Hari Merdeka: Rekonsiliasi Politik Kuansing di Lapangan Limuno
PLN UPT Pekanbaru Gelar Simulasi Tanggap Darurat Objek Vital Nasional Sambut Masa Siaga Kemerdekaan RI ke-81
Tim SAR Gabungan Temukan Jasad Remaja 13 Tahun yang Hanyut di Sungai Siak Depan Taman Singapura
Polisi Masuk Gedung Dewan: Jejak Gelap APBD Kuansing 2025 Mulai Diurai
Validasi Teriakan Aktivis dari Balik Sel: Skandal APBD Kuansing Akhirnya Diusut KPK