• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Politik
  • Hukrim
  • Nasional
  • Riau
  • Iptek
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pilkada
  • Pendidikan
  • DPRD
    • DPRD Pekanbaru
    • DPRD Riau
    • DPRD Inhil
    • DPRD Inhu
  • More
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Siak
    • Indragiri Hulu
    • Indragiri Hilir
    • Bengkalis
    • Kuantan Singingi
    • Rokan Hilir
    • Rokan Hulu
    • Meranti
    • Dumai
    • Kampar
    • Galeri Foto
    • Video
    • Pemilu
    • Sumbar
    • Kepri
    • Peristiwa
    • Olahraga
    • TNI/Polri
    • Tokoh
    • CSR
    • Advertorial
    • Kesehatan
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Home
  • Politik
  • Hukrim
  • Nasional
  • Riau
  • Iptek
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pilkada
  • Pendidikan
  • DPRD
  • Pekanbaru
  • Pelalawan
  • Siak
  • Indragiri Hulu
  • Indragiri Hilir
  • Bengkalis
  • Kuantan Singingi
  • Rokan Hilir
  • Rokan Hulu
  • Meranti
  • Dumai
  • Kampar
  • Galeri Foto
  • Video
  • Pemilu
  • Sumbar
  • Kepri
  • Peristiwa
  • Olahraga
  • TNI/Polri
  • Tokoh
  • CSR
  • Advertorial
  • Kesehatan
  • DPRD Pekanbaru
  • DPRD Riau
  • DPRD Inhil
  • DPRD Inhu
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN
KPK Buru Sisa Rp1 Miliar Uang Petani Sawit Kuansing, Asisten I Kembali Diperiksa
14 Juli 2026
Plt Bupati Kuansing Mukhlisin Izinkan Kembali Sponsor Jalur
13 Juli 2026
Waktu Menipis, Belanja Pegawai Kuansing Jinak di Atas 60 Persen Jelang UU HKPD 2027
13 Juli 2026
OTT Kuansing: Warganet Desak KPK Seret Tersangka Baru di Kasus Suap Jabatan dan Lahan
13 Juli 2026
LSM di Kuansing Ingatkan Plt Bupati Mukhlisin Waspadai Lingkaran ‘Penjilat’ Pasca-OTT KPK
13 Juli 2026

  • Home
  • Ragam

Pesona Perahu Bidar Musi Potensi yang Belum Tergarap dan Pacu Jalur Kuansing yang Menginspirasi

Redaksi

Rabu, 17 September 2025 12:10:26 WIB
Cetak

TampanTampak warga menonton Festival Lomba Perahu Bidar dan Perahu Hias di Sungai Musi. | Foto : Ovie

RIAUIN.COM- Suasana meriah langsung terasa di sepanjang Sungai Musi. Sorak-sorai penonton bersahut-sahutan menyambut setiap langkah dari Lomba Perahu Bidar pada Minggu siang  (17/8/2025) itu. Di bawah langit cerah yang seolah turut mengarak semangat, tepian sungai—dari start hingga finish—dipadati oleh lautan manusia yang tak henti memberi semangat. Meski view terbaik konon ada di Jembatan Ampera, sensasi menonton yang paling seru dan adrenalin justru datang dari atas perahu yang berbaur dengan arus. Peringatan Pemkot Palembang agar warga tidak turun ke sungai seakan tenggelam oleh euforia. Puluhan perahu milik warga dengan berani mengiringi para peserta lomba dari belakang, seakan tak ingin ketinggalan momen bersejarah ini.

Ombak pun semakin menggila, membuat perahu-perahu kecil itu meliuk-liuk bak ikut menari di antara riuh rendah sorakan. Para peetugas Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Dinas Perhubungan (Dishub), dan Kepolisian Air dan Udara (Polairud) sigap berjaga, mengibaskan tangan untuk mengarahkan perahu warga agar tetap aman dari lintasan lomba. Namun, di balik upaya mereka, terpancar jelas semangat warga yang tak terbendung untuk menyaksikan secara dekat warisan budaya mereka berlaga. Acara belum dimulai, tapi suasana kemeriahan sudah terasa kuat sekali.

Langit Kota Palembang tampak cerah, Matahari tepat berada di atas kepala. Ribuan orang sejak pagi ramai berdatangan menuju Benteng Kuto Besak. Hari itu adalah puncak finish Lomba Perahu Bidar di Sungai Musi, bersamaan dengan peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 80. Informasi yang diterima dari panitia, acara yang baru akan dimulai sekitar pukul 14.00 WIB.

Di bawah podium utama tempat acara pembukaan Lomba Perahu Bidar dan Perahu Hias, tampak sebuah perahu kayu berukuran kecil berwarna biru bersandar. Sekitar 10 orang yang berada diatasnya ikut bergoyang terombang-ambing mengikuti gelombang arus sungai yang datang silih berganti. "Kita makan dulu, kita isi perut sebentar. Acara sebentar lagi mau dimulai," kata seorang lelaki berusia sekitar 38 tahun dengan logat kental Palembangnya mengajak anggota keluarganya di sela-sela Lomba perahu Bidar. Sambil membungkuk dia masuk ke dalam “rumah-rumah” mengambil perbekalan yang dibawa dari rumah. Tak berselang satu keluarga besar itu tampak dengan lahap menikmati menu makan siang. Tidak hanya perahu itu, suasana makan siang diatas perahu juga terlihat pada perahu-perahu lain di sekitarnya. Sepertinya perahu-perahu rombongan keluarga itu datang dari kabupaten tetangga. Terlihat dari perbekalan yang cukup lengkap mereka bawa.

Lomba Perahu Bidar dan Perahu Hias di Sungai Musi merupakan agenda rutin Dinas Pariwisata Kota Palembang dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI, biasanya dipusatkan di depan Benteng Kuto Besak (BKB). Acara tahun ini digelar tiga hari sebelum tanggal 17 Agustus 2025, dengan peserta dari jajaran Organisasi Perangkat Daerah Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, dan kabupaten/kota dan BUMD se-Sumsel.

Perahu Bidar, sang ikon budaya Palembang, adalah jantung dari acara ini. Berbentuk ramping dan memanjang hingga 31 meter, perahu kayu tradisional ini mirip seekor naga yang siap melesat di atas air. Setiap dayungannya tidak hanya tentang kecepatan, tetapi juga tentang kekompakan dan semangat kebersamaan yang telah diwariskan sejak era Kesultanan Palembang, dahulu kala digunakan untuk menjaga kedaulatan perairan Sungai Musi. Tradisi ini juga hidup dalam cerita rakyat, dikisahkan terkait dengan legenda cinta Putri Dayang Merindu, menambah magisnya perlombaan ini.

Tahun 2025 ini, antusiasme semakin tinggi. Sebanyak 47 perahu ambil bagian dalam festival ini, terdiri dari 12 peserta perahu bidar dan 35 perahu hias. Dengan begitu jumlah peserta bertambah dari tahun sebelumnya yang hanya diikuti 9 perahu bidar dan 25 perahu hias. Keluar sebagai juara tahun ini adalah peserta mewakili OPD Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Selatan berhak bawa pulang uang pembinaan sebesar Rp25 juta, dan juara kedua diraih Kabupaten Ogan Ilir dengan besar hadiah Rp22,5 juta dan juara ketiga disandang Bank Sumsel Babel dengan membawa pulang uang Rp20 juta.

Peserta datang dari berbagai kabupaten yang berasal dari jajaran OPD Kota Palembang, Provinsi Sumsel, kabupaten/kota, dan BUMD se-Sumsel bersiap menunjukkan kebolehan. Menanggapi euforia ini, Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, memastikan keselamatan menjadi prioritas utama. "Kita telah berkoordinasi intensif dengan KSOP, Dishub, Satpol PP, dan Kepolisian. Area lomba akan steril, dan ratusan personel pengamanan serta petugas kesehatan dengan ambulans darat dan sungai telah disiagakan. Kita ingin masyarakat merayakan dengan gembira dan pulang dengan selamat," ujarnya penuh keyakinan, belajar dari pengalaman tahun lalu.

Harapan untuk acara ini pun melambung tinggi. Lomba Bidar tidak hanya dimaknai sebagai ajang adu ketangkasan dayung dan mencari bibit atlet andal, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi kerakyatan. Festival ini diharapkan dapat mengangkat Pendapatan Asli Daerah (PAD), khususnya dengan mendorong UMKM lokal untuk berpartisipasi dan merasakan dampak ekonominya.

Sebagai bukti prestasinya, Lomba Perahu Bidar telah masuk dalam 10 besar dari 110 event dalam Kalender Karisma Event Nusantara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Status nasional ini menunjukkan betapa budayanya telah diakui secara luas.

Dadang Risky Ratman, Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Utama, yang hadir mewakili Menteri Pariwisata RI, dalam sambutannya menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah event dinilai dari manfaat ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan yang dihasilkannya. "Kami mendorong Dinas Pariwisata Palembang untuk dapat mengukur dampak ekonomi bagi UMKM. Bagaimana festival ini mampu membuat wisatawan berkunjung dan membelanjakan uangnya. Dengan begitu, warisan budaya ini tidak hanya lestari, tetapi juga membawa kesejahteraan," tuturnya.

 

Keunikan Budaya Lokal

Keunikan budaya local semacam ini bukan hanya milik Palembang. Pada saat yang hampir , di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, juga digelar Lomba Pacu Jalur di Tepian Narosa. Keduanya lahir dari budaya masyarakat sungai yang egaliter dan komunal. Perahu panjang dengan puluhan pendayung yang berkompak menjadi simbol yang sama: bahwa di atas sungai, kebersamaan dan semangat gotong royonglah yang mengantarkan pada kemenangan.

Lomba Perahu Bidar lebih dari sekadar atraksi. Ia adalah cerita tentang identitas, warisan, dan semangat masyarakat Palembang yang terus mengalir laksana Sungai Musi. Dahulu jumlah pendayung perahu Bidar bervariasi. Tapi dalam lomba tradisional perahu yang dibuat dari batang kayu khusus dan sudah langka di Palembang ini, jumlah pendayung perahu 57 orang, terdiri dari 55 pendayung ditambah juru batu, penegak atau penabuh gong serta penyambut atau pemberi semangat atau biasa dikenal dengan juru timbo.    

Mokhtiar (41), warga Riau yang awalnya sangat antusias ingin melihat keseruan festival Lomba Perahu Bidar tampak kurang puas dengan festival tahunan terbesar di Kota Palembang ini. Menurutnya festival sebagus ini harusnya dapat mengundang lebih banyak wisatawan, apalagi fasilitas di Kota Palembang ini sudah sangat memadai. "Pemprov Sumsel maupun Pemkot Palembang harusnya saling bersinergi bagaimana berupaya menjadikan event ini lebih populer. Coba kita bandingkan dengan lomba Pacu Jalur di Kabupaten Kuansing, Riau. Meski letaknya hanya di kabupaten tapi mampu memanfaatkan sedikit keunikan di sana," kata Tiar.

Keterlibatan media massa dan media sosial untuk mempromosikan potensi lokal diera digitalisasi sekarang ini harus diperhitungkan dengan serius. Jika di Pacu Jalur Kuansing ada "anak coki" berdiri di ujung jalur untuk memberi semangat pendayung, di Perahu Bidar juga ada "juru timbo" dan "juru batu". Ada kemiripan dari kedua tradisi budaya di sana.

Dalam perbincangan tersebut, Erika (48) seorang jurnalis salah satu media di Palembang menyampaikan keresahannya terhadap tradisi Perahu Bidar dan kekagumannya atas pacu jalur yang sekarang mendunia, meski berasal dari sebuah kabupaten dengan fasilitas yang masih belum memadai untuk menyambut para tamu yang penasaran akan aura farming pacu jalur, termasuk wisatawan mancanegara.

"Sebenarnya disini dituntut komitmen dari pemerintah daerah untuk menjadikan tradisi budaya Perahu Bidar menjadi besar. Apalagi tradisi ini sudah ada sejak jaman kerajaan Majapahit. Dilihat dari berbagai aspek, Kota Palembang yang merupakan kota besar tentunya fasilitas yang dimiliki lebih lengkap dari Kabupaten Kuansing. Hanya saja mungkin bagaimana mengemas Festival Lomba Perahu Bidar yang masih kurang dapat perhatian pemerintah daerah," papar Erika.

Seperti apa kelebihan Pacu Jalur Teluk Kuantan, Riau, yang dapat dijadikan inspirasi bagi pelaksanaan Lomba Perahu Bidar dan Perahu Hias ke depannya? Menurut Erika, Pacu Jalur sukses membangun narasi budaya yang kuat dan mudah diingat melalui simbol-simbol ikonik seperti "anak coki" - anak kecil yang berdiri di ujung perahu dengan pose heroik. Narasi ini tidak hanya menjadi daya tarik visual, tetapi juga mengandung nilai filosofis tentang keberanian dan regenerasi budaya. Palembang dapat mengoptimalkan peran "juru timbo" dan "juru batu" dalam Perahu Bidar sebagai simbol serupa, dengan mengemasnya menjadi konten kreatif yang mudah divisualisasikan dan diingat publik. Aksi "anak coki" yang bernama Rayyan Arkan Dikha lewat aksi aura farming-nya viral ke seluruh dunia yang menjadikan Pacu Jalur seolah-olah sebagai event dunia.

"Yang kedua, Pacu Jalur telah berhasil membangun ekosistem event yang melibatkan seluruh masyarakat, mulai dari prosesi ritual pra-lomba, festival kuliner khas, hingga pentas seni rakyat yang berlangsung hampir sebulan penuh. Pendekatan ini mentransformasi event dari sekadar lomba menjadi perhelatan budaya berskala besar yang menarik minat wisatawan untuk tinggal lebih lama," kata jurnalis asal Palembang ini. Palembang, katanya, dapat mengadopsi model ini dengan mengembangkan rangkaian acara pendukung seperti festival songket, pameran sejarah Kesultanan Palembang, dan tur heritage menyusuri Sungai Musi yang terintegrasi dengan Lomba Perahu Bidar.

Sementara itu, Mokhtiar warga Riau yang juga seorang jurnalis, menambahkan kesuksesan Pacu Jalur terletak pada kolaborasi strategis antara pemerintah daerah, komunitas budaya, dan pelaku industri kreatif dalam mengemas tradisi menjadi produk wisata yang kompetitif. Mereka secara konsisten melakukan dokumentasi profesional, memanfaatkan platform digital untuk menjangkau audiens global, dan mengembangkan merchandise khas yang menjadi oleh-oleh wajib wisatawan. Untuk Perahu Bidar, Palembang perlu membangun kemitraan yang lebih erat dengan influencer budaya, kreator konten, dan pelaku UMKM untuk menciptakan ekosistem promosi yang berkelanjutan dan berdampak ekonomi nyata bagi masyarakat.

Pacu Jalur yang Menginspirasi

Pacu Jalur adalah sebuah festival budaya yang berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, yang telah menjadi warisan budaya takbenda Indonesia sejak 2014 . Festival ini menampilkan perlombaan dayung menggunakan perahu tradisional yang disebut jalur, yang terbuat dari kayu gelondongan utuh tanpa sambungan, dengan panjang mencapai 25–40 meter dan dinaiki oleh 40–80 pendayung . Awalnya, jalur digunakan sebagai alat transportasi masyarakat di sepanjang Sungai Kuantan untuk mengangkut hasil bumi dan penumpang pada abad ke-17 . Seiring waktu, fungsinya bergeser menjadi simbol status sosial bagi bangsawan dan akhirnya menjadi bagian dari perlombaan yang diadakan untuk memperingati hari-hari besar Islam serta hari kemerdekaan Indonesia . Festival ini tidak hanya mencerminkan kekayaan budaya masyarakat setempat tetapi juga menjadi ajang pelestarian nilai-nilai kebangsaan dan gotong royong.

Dari segi pariwisata, Pacu Jalur telah menjadi magnet wisatawan domestik dan mancanegara, dengan jumlah pengunjung mencapai 1,6 juta orang pada tahun 2025, meningkat signifikan dari tahun sebelumnya. Festival ini biasanya diadakan pada akhir Agustus di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, dan melibatkan serangkaian acara seperti pawai budaya, pertunjukan seni, dan pameran UMKM. Dampak ekonominya sangat besar, dengan perputaran uang selama festival mencapai Rp165 miliar pada tahun 2025. Viralnya video "anak coki" di media sosial, seperti Rayyan Arkan Dhika, juga turut mempopulerkan festival ini hingga ke tingkat internasional dan menarik perhatian selebritas global. Pemerintah mendukung festival ini melalui promosi digital dan kolaborasi dengan pihak internasional, menjadikannya sebagai bagian dari kalender wisata nasional.

Kearifan lokal masyarakat Kuansing tercermin dalam proses pembuatan jalur dan pelaksanaan pacu jalur, yang melibatkan nilai-nilai kebersamaan, penghormatan terhadap alam, dan spiritualitas. Pembuatan jalur dimulai dengan musyawarah masyarakat dan pemilihan kayu yang melibatkan pawang (spiritual guide) untuk memastikan kayu yang digunakan memenuhi syarat fisik dan magis. Proses ini diikuti upacara adat seperti semah (ritual untuk menghormati roh alam) dan maelo jalur (penghelatan perahu ke sungai), yang menekankan harmonisasi antara manusia dan lingkungan . Dalam perlombaan, setiap tim memiliki peran khusus seperti Tukang Concang (komandan), Tukang Pinggang (juru mudi), dan Tukang Onjai (pemberi irama), yang mencerminkan keterampilan kolektif dan disiplin. Nilai-nilai ini tidak hanya memperkuat identitas budaya tetapi juga menjadi pendidikan lingkungan bagi generasi muda.

Pacu Jalur telah berkembang menjadi simbol kebanggaan masyarakat Riau dan Indonesia, yang berhasil memadukan tradisi dengan modernitas. Pengakuan internasional terhadap festival ini ditunjukkan dengan ditampilkannya ilustrasi Pacu Jalur sebagai Google Doodle pada tahun 2022 . Keberhasilan ini tidak lepas dari komitmen masyarakat dan pemerintah dalam melestarikan warisan budaya sambil mengadaptasikannya dengan tren terkini, seperti livestreaming dan eco-tourism . Festival ini tidak hanya menjadi ajang hiburan tetapi juga sarana untuk mempromosikan persatuan, ketahanan budaya, dan kesejahteraan ekonomi melalui pariwisata berkelanjutan. Dengan demikian, Pacu Jalur merupakan contoh nyata bagaimana kearifan lokal dapat menjadi penggerak pembangunan budaya dan pariwisata di Indonesia.

Hebatnya lagi, event Pacu Jalur tahun ini yang dilaksanakan pada 20-24 Agustus 2025, tidak hanya dihadiri oleh pejabat setingkat menteri atau Gubernur Riau seperti tahun-tahun sebelumnya, melainkan juga oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, beserta sejumlah menteri terkait. Kehadiran Wakil Presiden ini merupakan sebuah prestasi dan pencapaian tersendiri bagi Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi, yang menunjukkan semakin tingginya apresiasi dan tingkat pentingnya festival budaya ini di kancah nasional.

Potensi yang Belum Tergarap

Sebenarnya, Festival Lomba Perahu Bidar dan Perahu Hias memiliki potensi yang sangat besar untuk diangkat menjadi destinasi wisata bertaraf internasional. Kunci utamanya terletak pada pengemasan acara yang lebih apik, pelibatan media massa dan media sosial secara masif, serta partisipasi aktif masyarakat sebagai penggerak utama yang akan mempercepat popularitas even budaya ini.

Seperti disampaikan oleh Diah (40), seorang jurnalis dan warga Palembang, komitmen dan dukungan penuh dari pemerintah daerah, termasuk Gubernur, menjadi faktor penentu kesuksesan. "Perahu Bidar memiliki sejarah dan nilai budaya yang sangat tinggi, sayangnya belum dikelola secara maksimal," ujarnya. Hal ini diperkuat dengan harapan bahwa dukungan tidak hanya datang dari pemerintah kota, tetapi juga dari pemerintah provinsi yang memiliki visi kuat untuk memajukan pariwisata lokal.

Namun, di tengah antusiasme tersebut sempat ada pernyataan kurang tepat dilontarkan oleh Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, dalam sambutannya di acara puncak festival. Gubernur menyatakan bahwa untuk membuat Perahu Bidar viral cukup dengan menampilkan hal-hal lucu seperti ibu-ibu menari di ujung perahu dan menyebarkan videonya di media sosial. "Tampilkan yang lucu, ibu-ibu menari diujung perahu kemudian diambil videonya disebarkan di medsos, nanti pasti viral," ucapnya.

Pernyataan yang terkesan sederhana dan tidak serius ini memberikan kesan bahwa pemerintah provinsi belum benar-benar mendalami kelemahan dan kekuatan tradisi Perahu Bidar, serta belum mempelajari kesuksesan event serupa seperti Pacu Jalur di Kuantan Singingi yang justru dapat menjadi inspirasi.

Menutup pembicaraan, Diah menegaskan keyakinannya akan kehebatan Festival Perahu Bidar. "Dengan mempelajari event sejenis yang lebih maju, saya yakin pelaksanaan Perahu Bidar dan Perahu Hias di tahun-tahun mendatang akan jauh lebih sukses," katanya. Pendapat ini didukung oleh sejumlah rekan jurnalis lainnya yang sepakat bahwa langkah evaluasi dan adaptasi strategi menjadi kunci untuk mengangkat martabat festival kebanggaan Palembang ini. -vie


 Editor : Novita


[Ikuti Riauin.com Melalui Sosial Media]


Riauin.com

Berita Lainnya

IKLA RGS Riau Bentuk Panitia Mubes II, Pemilihan Ketua Umum Digelar November 2026

Jadi Komisaris BUMD Riau di Usia 22 Tahun, Sambu Jawab Kritik dengan Kinerja

Merajut Kembali Mimpi yang Hanyut: Kisah Pengrajin Tenun Srikandi Serumpun Bangkit Bersama PHR

Dari Pekanbaru Muslimat NU Serukan PBB Hentikan Perang dan Lindungi Korban Sipil

Rumah Budaya Kacip Tembaga Bikin Takjub Batam Lewat Musikalisasi dan Teatrikal Syair Datuk Laksamana

Muktamar XIV KAMMI Tetapkan Amri Akbar sebagai Ketua Umum, Serukan Organisasi Jadi Rumah Nyaman bagi Seluruh Kader

IKLA RGS Riau Bentuk Panitia Mubes II, Pemilihan Ketua Umum Digelar November 2026

Jadi Komisaris BUMD Riau di Usia 22 Tahun, Sambu Jawab Kritik dengan Kinerja

Merajut Kembali Mimpi yang Hanyut: Kisah Pengrajin Tenun Srikandi Serumpun Bangkit Bersama PHR

Dari Pekanbaru Muslimat NU Serukan PBB Hentikan Perang dan Lindungi Korban Sipil

Rumah Budaya Kacip Tembaga Bikin Takjub Batam Lewat Musikalisasi dan Teatrikal Syair Datuk Laksamana

Muktamar XIV KAMMI Tetapkan Amri Akbar sebagai Ketua Umum, Serukan Organisasi Jadi Rumah Nyaman bagi Seluruh Kader

TERPOPULER +INDEKS
  • 1 KPK Buru Sisa Rp1 Miliar Uang Petani Sawit Kuansing, Asisten I Kembali Diperiksa
  • 2 Plt Bupati Kuansing Mukhlisin Izinkan Kembali Sponsor Jalur
  • 3 Waktu Menipis, Belanja Pegawai Kuansing Jinak di Atas 60 Persen Jelang UU HKPD 2027
  • 4 OTT Kuansing: Warganet Desak KPK Seret Tersangka Baru di Kasus Suap Jabatan dan Lahan
  • 5 LSM di Kuansing Ingatkan Plt Bupati Mukhlisin Waspadai Lingkaran ‘Penjilat’ Pasca-OTT KPK
  • 6 Sejuk di Tengah Bising
  • 7 Perjuangan Sejak Jadi Wabup Terwujud, Proyek Sekolah Rakyat Kuansing Besutan Mukhlisin Capai 82 Persen
  • 8 Beda Gaya di Acara Pacu Jalur: Plt Bupati Mukhlisin Pilih Tampil Tradisional Tanpa Kacamata Hitam
  • 9 Bupati Kuansing Suhardiman Amby Ditahan KPK, Netizen Soroti Pernyataan Lama 'Siapkan Tiang Gantungan'
Terkini +INDEKS

Satpolairud Polres Dumai Selidiki Jaringan Penyelundup Pekerja Migran di Pesisir Riau

14 Juli 2026
LPS Sidomulyo Timur Raih Juara Umum, Pemko Pekanbaru Pacu Pengelolaan Sampah Berbasis Kelurahan
14 Juli 2026
Atasi Masalah Sanitasi dan Rumah Tak Layak, Riau Targetkan Perbaikan 5.000 Hunian
14 Juli 2026
KPK Buru Sisa Rp1 Miliar Uang Petani Sawit Kuansing, Asisten I Kembali Diperiksa
14 Juli 2026
Sampah Pekanbaru Mulai Bergeser ke Perbatasan Kampar, Pengawasan Lintas Wilayah Ditingkatkan
14 Juli 2026
Lahan Terbakar di Pekanbaru Capai 38 Hektar, Status Siaga Darurat Ditetapkan hingga November
14 Juli 2026
Kasus Suhardiman Amby Meluas, KPK Dalami Dugaan Suap Izin Hutan Produksi Kuansing
14 Juli 2026
Hanya Tersisa Lima Titik Panas di Riau, Warga Tetap Diminta Waspada
14 Juli 2026
Pemprov Riau Evaluasi Direksi dan Komisaris BUMD untuk Kejar Setoran PAD
14 Juli 2026
FASI Riau Gelar MUSPROV 2026, Perkuat Sinergi Menuju Prestasi Dirgantara
14 Juli 2026

KABUPATEN+INDEKS
  • 1 Pekanbaru
  • 2 Pelalawan
  • 3 Siak
  • 4 Indragiri Hulu
  • 5 Indragiri Hilir
  • 6 Bengkalis
  • 7 Kuantan Singingi
  • 8 Rokan Hilir
  • 9 Rokan Hulu
  • 10 Meranti
  • 11 Dumai
  • 12 Kampar
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Riauin.com ©2015 By Delapa Media Tenologi | All Right Reserved