• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Politik
  • Hukrim
  • Nasional
  • Riau
  • Iptek
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pilkada
  • Pendidikan
  • DPRD
    • DPRD Pekanbaru
    • DPRD Riau
    • DPRD Inhil
    • DPRD Inhu
  • More
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Siak
    • Indragiri Hulu
    • Indragiri Hilir
    • Bengkalis
    • Kuantan Singingi
    • Rokan Hilir
    • Rokan Hulu
    • Meranti
    • Dumai
    • Kampar
    • Galeri Foto
    • Video
    • Pemilu
    • Sumbar
    • Kepri
    • Peristiwa
    • Olahraga
    • TNI/Polri
    • Tokoh
    • CSR
    • Advertorial
    • Kesehatan
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Home
  • Politik
  • Hukrim
  • Nasional
  • Riau
  • Iptek
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pilkada
  • Pendidikan
  • DPRD
  • Pekanbaru
  • Pelalawan
  • Siak
  • Indragiri Hulu
  • Indragiri Hilir
  • Bengkalis
  • Kuantan Singingi
  • Rokan Hilir
  • Rokan Hulu
  • Meranti
  • Dumai
  • Kampar
  • Galeri Foto
  • Video
  • Pemilu
  • Sumbar
  • Kepri
  • Peristiwa
  • Olahraga
  • TNI/Polri
  • Tokoh
  • CSR
  • Advertorial
  • Kesehatan
  • DPRD Pekanbaru
  • DPRD Riau
  • DPRD Inhil
  • DPRD Inhu
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN
Polsek Cerenti Bakar 31 Rakit Tambang Emas Ilegal, Kapolres Kuansing Minta Tokoh Adat Turun Tangan
09 Juni 2026
Tiga Kali Razia Dua Minggu: PETI di Cerenti Tetap Menjamur, Hukum Dinilai Ompong
09 Juni 2026
Baru Diperbaiki Kurang dari Setahun, Irigasi Bendungan Pauh Pangean Kuansing Jebol Lagi
09 Juni 2026
Cerenti 'Menyala' Lagi: Baru Dua Hari Razia, Ratusan Rakit PETI Kembali Beroperasi
08 Juni 2026
Sebut Bakar Rakit Hanya Sandiwara, Warga Kuansing Tantang Polisi Tangkap Pengepul Emas
08 Juni 2026

  • Home
  • Opini

Ketika Hukum Jadi Senjata

Redaksi

Sabtu, 02 Agustus 2025 17:05:53 WIB
Cetak

Ilustrasi

Ditulis : Hendrianto

HUKUM seharusnya menjadi benteng terakhir keadilan, penjaga moralitas, dan penjamin kesetaraan bagi seluruh warga negara.

Namun, apa jadinya jika hukum itu sendiri menjadi alat yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah, atau lebih parah lagi, menjadi senjata politik untuk menyingkirkan lawan?

Kasus yang menimpa Tom Lembong menjadi sebuah cermin yang menunjukkan betapa rapuhnya integritas hukum di negeri ini.

Hukuman yang dijatuhkan kepadanya terasa lebih sebagai "show of force" politik daripada penegakan hukum yang berlandaskan fakta.

Tom Lembong adalah sosok yang tidak lazim dalam kancah politik Indonesia. Dia bukan kader partai atau hasil dari tawar-menawar politik, melainkan seorang profesional yang ditarik ke dalam pemerintahan karena rekam jejak dan keahliannya.

Namun, di balik senyum itu, intrik politik tetap berjalan. Ketika seorang profesional seperti Tom mulai mengganggu kepentingan segelintir partai politik besar, ia pun dianggap sebagai masalah.

Kriminalisasi yang dialaminya bukan karena ia korup atau tidak becus bekerja, melainkan karena ia dianggap bermasalah dengan salah satu kekuatan politik yang ingin mengamankan posisinya.

Tom Lembong diduga dipenjarakan sebelum ia sempat membongkar kelakuan busuk para elite partai.

Kasus hukumnya dipercepat, disajikan ke publik, dan divonis dengan segera, seolah-olah ada ketakutan besar jika ia mulai "bernyanyi" dan mengungkapkan fakta-fakta yang bisa menjadi bukti hukum.

Ini adalah taktik klasik dalam politik, di mana pihak yang berpotensi membongkar skandal harus dibungkam terlebih dahulu sebelum suaranya terlalu nyaring.

Pola ini tidak hanya terjadi pada Tom Lembong. Kasus Sekjen Hasto Kristiyanto juga menunjukkan kemiripan.

Ia pun seolah harus "dikandangkan" atau dipersulit secara hukum agar tidak membuka fakta-fakta yang tak terbantahkan, termasuk isu sensitif seperti siapa sebenarnya "Si Raja Jawa" atau keabsahan ijazah.

Hal ini mengindikasikan adanya pola sistematis di mana hukum digunakan sebagai alat untuk membungkam para politisi yang dianggap berpotensi merusak narasi atau mengancam kekuasaan yang sedang berjalan.

Penegakan hukum yang tebang pilih ini melahirkan teror psikologis. Mereka yang pernah terlibat korupsi tetapi "lupa" menyetorkan uang pengamanan kini hidup dalam ketakutan. Mereka tahu bahwa hukum tidak berlaku adil dan bisa diatur oleh kepentingan.

Semua fenomena ini membawa kita pada sebuah kesadaran yang pahit: politik bukan lagi tentang siapa yang berkuasa, tetapi tentang siapa yang paling licik dialah yang selamat.

Di tengah pertempuran ini, rakyat biasa hanya bisa menjadi penonton. Kita menyaksikan bagaimana hukum dan keadilan dipermainkan, bagaimana integritas dikorbankan demi kekuasaan, dan bagaimana kebenaran dibungkam demi kepentingan sesaat.

Narasi ini menjadi semakin kompleks dengan adanya kabar bahwa Presiden Prabowo Subianto memberikan amnesti dan abolisi kepada Tom Lembong dan Hasto.

Keputusan ini, bisa diinterpretasikan sebagai pengakuan tidak langsung dari pemerintah bahwa kasus-kasus tersebut memang kental dengan nuansa politis dan bukan murni penegakan hukum.

Langkah ini juga dapat dilihat sebagai upaya rekonsiliasi politik, di mana Presiden baru ingin merangkul semua pihak. Namun, hal ini juga berisiko mengikis kepercayaan publik terhadap institusi peradilan.

Jika kasus yang sudah divonis bisa dihentikan melalui keputusan politik, maka masyarakat akan semakin skeptis terhadap kemandirian hukum.

Ketika sistem sudah sangat rusak, di mana hukum tidak lagi bisa diandalkan, rasa frustrasi dan apatis pun muncul.

Menjadi penonton adalah respons logis dari sebuah masyarakat yang merasa tidak berdaya. Namun, apatis bukanlah solusi.

Saatnya masyarakat bersikap kritis, memantau setiap kejanggalan, dan menuntut penegakan hukum yang adil dan tanpa pandang bulu.

Sebab, jika hukum sudah tunduk pada politik, maka keadilan hanya akan menjadi kata-kata kosong yang tidak memiliki makna. (***)


Sumber : Riauin.com /  Editor : Hendrianto


[Ikuti Riauin.com Melalui Sosial Media]


Riauin.com

Berita Lainnya

Memelihara Harapan

Cek Kosong dan Dongkolnya Prabowo

Pendidikan Hibrida Bukan Lagi Pilihan, Tetapi Kebutuhan

Gagal Buli BBM, Sapi Pun Jadi

Newsfluencer Menggantikan Wartawan? Menimbang Sertifikasi dan Kode Etik

Jabatan Tak Boleh Berkurban

Memelihara Harapan

Cek Kosong dan Dongkolnya Prabowo

Pendidikan Hibrida Bukan Lagi Pilihan, Tetapi Kebutuhan

Gagal Buli BBM, Sapi Pun Jadi

Newsfluencer Menggantikan Wartawan? Menimbang Sertifikasi dan Kode Etik

Jabatan Tak Boleh Berkurban

TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Cerenti 'Menyala' Lagi: Baru Dua Hari Razia, Ratusan Rakit PETI Kembali Beroperasi
  • 2 Sebut Bakar Rakit Hanya Sandiwara, Warga Kuansing Tantang Polisi Tangkap Pengepul Emas
  • 3 Usai Minta Maaf dan Bikin Pernyataan, Polisi Lepaskan Dua 'Pocong' Jadi-jadian di Taluk Kuansing
  • 4 Dua Remaja Berbaju Pocong Keliling Pakai Motor, Diamankan Polres Kuansing
  • 5 Menanam 'Emas Hijau' di Tanah Nelayan Dabo Singkep
  • 6 Tim Gabungan Bakar 145 Rakit Emas Ilegal di Inuman dan Cerenti
  • 7 Capaian Rendah, Pekanbaru Berada di Peringkat 9 Program Cek Kesehatan Gratis di Riau
  • 8 Kebijakan Pemindahan Pohon di Pekanbaru Dinilai Tabrak Semangat Ranperda Penghijauan
  • 9 Harga TBS Swadaya Riau Turun Akibat Merosotnya Nilai Jual CPO KPBN
Terkini +INDEKS

Tahun Ajaran Baru, Rahn BRK Syariah Jadi Solusi Cepat Penuhi Biaya Pendidikan Anak

10 Juni 2026
Sekda Kuansing Instruksikan Integrasi Lintas Sektoral demi Sukses MTQ Riau
10 Juni 2026
Telat Hadir Ujian CAT, Calon Anggota KPID Riau Gugur Otomatis
10 Juni 2026
Vario 160 Jadi Magnet, Astra Honda Dream Cup 2026 Regional Riau Sukses Digelar
10 Juni 2026
Polsek Cerenti Bakar 31 Rakit Tambang Emas Ilegal, Kapolres Kuansing Minta Tokoh Adat Turun Tangan
09 Juni 2026
Polisi Selidiki Kepemilikan Lahan Gambut yang Terbakar di Rupat
09 Juni 2026
Camat di Pekanbaru Kini Punya Kuasa Evaluasi dan Usulkan Copot Lurah
09 Juni 2026
Pemko Pekanbaru Siap Tambah Anggaran untuk Percepat Perbaikan Jalan
09 Juni 2026
Jelang Kunjungan Mendagri, Pemprov Riau Rampungkan Laporan Tiga Program Prioritas Pusat
09 Juni 2026
Sukseskan MTQ Riau 2026, Pemkab Kuansing dan Telkomsel Matangkan Infrastruktur Digital
09 Juni 2026

KABUPATEN+INDEKS
  • 1 Pekanbaru
  • 2 Pelalawan
  • 3 Siak
  • 4 Indragiri Hulu
  • 5 Indragiri Hilir
  • 6 Bengkalis
  • 7 Kuantan Singingi
  • 8 Rokan Hilir
  • 9 Rokan Hulu
  • 10 Meranti
  • 11 Dumai
  • 12 Kampar
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Riauin.com ©2015 By Delapa Media Tenologi | All Right Reserved