Dugaan Limbah PT SIM Cemari Sungai Singingi, DPRD Kuansing Gelar Hearing Besok
Ketua Komisi II DPRD Kuansing Fedrios Gusni
RIAUIN. COM– Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kuantan Singingi (Kuansing) akan menggelar rapat dengar pendapat (hearing) pada Senin (26/5/2025) besok, terkait dugaan pencemaran Sungai Singingi yang menyebabkan ribuan ikan mati pada Sabtu (24/5/2025).
Hearing ini akan melibatkan pihak PT Sinergi Inti Makmur (SIM), Tokoh Adat Antau Singingi, dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
Ketua Komisi II DPRD Kuansing, Fedrios Gusni, menyatakan bahwa pencemaran ini diduga kuat akibat perusahaan yang abai terhadap aspek lingkungan.
"Kami masyarakat Antau Singingi meminta pertanggung jawaban pihak perusahaan yang membuang limbah," tegas Fedrios, Minggu (25/5/2025).
Dampak pencemaran ini tak hanya dirasakan warga Singingi dan Singingi Hilir, namun juga meluas hingga ke Kampar Kiri, di mana ribuan ikan mati ditemukan di muara Sungai Singingi yang bermuara ke Sungai Kampar Kiri. Warga Kampar Kiri pun berencana menggelar pertemuan untuk membahas masalah ini.
Dugaan awal mengarah pada pembuangan limbah pabrik kelapa sawit PT SIM. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kuansing bahkan telah menutup sementara operasional PT SIM pada Sabtu kemarin hingga persoalan tuntas.
Kepala DLH Kuansing, Deflides Gusni, mengungkapkan bahwa perusahaan tersebut belum memiliki izin operasional kelayakan pembuangan limbah.
Mantan anggota DPRD Provinsi Riau, Mardianto Manan, menyarankan agar Pemkab Kuansing segera menguji sampel air dan ikan yang tercemar di laboratorium untuk mengetahui kandungan zat penyebabnya.
"Gampang saja mencari faktor penyebabnya kalau Pemkab berani sebagai penguasa kabupaten kita," ujarnya.
Sementara itu, Manajer PT SIM, Toni Wijaya, membenarkan penghentian sementara operasional pabriknya. Namun, ia membantah tudingan bahwa ikan-ikan mati disebabkan oleh limbah pabriknya.
Toni mengklaim tidak ada kolam penampungan limbah yang bocor, bahkan di Sungai Lantak Payo dan Sungai Lembu Keruh yang lebih dekat dengan pabrik, tidak ditemukan ikan mati.
"Logikanya, kalau memang oleh limbah pabrik kami, maka ikan lebih dulu mati di Sungai Lantak Payo atau Sungai Lembu Keruh yang berada di dekat pabrik bukan di Sungai Singingi yang lebih jauh jaraknya. Jadi penyebab kami belum tahu, tapi kami ikut anjuran DLH dulu," jelas Toni. (hen)
Berita Lainnya
Demi Aliri 300 Hektar Sawah, Warga Pauh Pangean Swadaya Perbaiki Irigasi Jebol
Baru Diperbaiki Kurang dari Setahun, Irigasi Bendungan Pauh Pangean Kuansing Jebol Lagi
Agung Nugroho Pimpin Kembali Demokrat Riau, Fokus pada Penguatan Struktur
Pemkab Kampar Sosialisasikan Permendagri Nomor 2 Tahun 2026 Terkait Keterbukaan Informasi
Hadirkan Air Bersih dan Bibit Produktif untuk Desa Talang Gedabu, Wujud PLN Menyalakan Harapan Masyarakat
Sebanyak 439 JCH Kloter BTH 11 Riau Diberangkatkan ke Madinah
Demi Aliri 300 Hektar Sawah, Warga Pauh Pangean Swadaya Perbaiki Irigasi Jebol
Baru Diperbaiki Kurang dari Setahun, Irigasi Bendungan Pauh Pangean Kuansing Jebol Lagi
Agung Nugroho Pimpin Kembali Demokrat Riau, Fokus pada Penguatan Struktur
Pemkab Kampar Sosialisasikan Permendagri Nomor 2 Tahun 2026 Terkait Keterbukaan Informasi
Hadirkan Air Bersih dan Bibit Produktif untuk Desa Talang Gedabu, Wujud PLN Menyalakan Harapan Masyarakat
Sebanyak 439 JCH Kloter BTH 11 Riau Diberangkatkan ke Madinah