Peter A Rohi Sang Jurnalis Pejuang
Ketika Koran Suara Indonesia Diteror Paket Kepala Manusia
Peter A Rohi | Foto: Internet
RIAUIN.COM - Pada 1983, banyak ditermukan mayat-mayat tak dikenal, itu terjadi di mana-mana di segenap penjuru Indonesia yang kelak dikenal sebagai peristiwa Petrus (Penembak Misterius).
Kala itu, warga Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia menjadi terbiasa dengan mayat-mayat bertebaran. Namun, mereka sama sekali tak mengetahui siapa pembunuhnya.
Pemerintah pada awalnya enggan menjelaskan penemuan mayat-mayat itu. Aparat keamanan pun menepis keterlibatan mereka. Panglima ABRI saat itu, Jenderal L.B. Moerdani, menyebut bahwa kematian-kematian misterius itu terjadi akibat perkelahian antargeng.
Pembunuhan yang bertubi-tubi itu, menurut Benny, bukan keputusan pemerintah. Meski ada yang mati ditembak petugas, tapi kata Benny itu akibat mereka melawan petugas.
Namun, dalam buku biografi Ucapan, Pikiran, dan Tindakan Saya, Presiden Soeharto justru membenarkan adanya petrus itu. Ia menyatakan, penembakan misterius itu sengaja dilakukan sebagai shock terapi untuk meredam kejahatan.
"Kejadian itu misterius juga tidak. Masalah yang sebenarnya adalah bahwa kejadian itu didahului ketakutan oleh rakyat," kata Soeharto, yang tertulis pada Bab 69 biografinya.
Orang-orang jahat itu, kata dia, sudah bertindak melebihi batas-batas perikemanusiaan. "Dengan sendirinya kita harus mengadakan treatment, tindakan yang tegas," begitu Pak Harto menuturkan.
Tak ada angka resmi jumlah korban petrus itu. Hingga Juli 1983, menurut Benny Moerdani, tercatat ada 300 korban di seluruh Indonesia. Jumlah sebenarnya bisa dipastikan lebih dari itu karena banyak bandit yang mayatnya tanpa bekas.
Ada cerita menarik tapi cukup mengerikan dari sisi lain Petrus ini. Pada awal tahun 1980an, Koran Suara Indonesia sempat menjadi yang terbesar di Jatim dengan tiras 40.000 eksemplar.
Redaktur pelaksananya adalah Peter Apollonius Rohi, seorang wartawan kawakan yang pernah menjadi prajurit Korps Komando Angkatan Laut atau KKO Marinir.
Dalam buku Peter A.Rohi, Jurnalis Pejuang, Pejuang Jurnalis menceritakan tentang kejadian Petrus itu. "Semua koresponden saya perintahkan membuat berita setiap korban 'petrus'," kata Peter dalam bukunya.
Mayat di dalam karung ditemukan di mana-mana. Sepanjang jalan dan tepi kali Brantas karung-karung berisi mayat yang diyakini sebagai mayat preman bertato, di jurang Bondowoso, di piket nol Semeru Selatan, mayat-mayat bergelimpangan, sebagian tanpa identitas.
Peter menyebut bahwa laporan yang masuk dari koresponden, setelah dirinya melakukan recheck ternyata tidak semua korban Petrus adalah preman. Peter mencatat identitas para korban petrus itu dan itulah kenapa dia dianggap melawan.
Nyaris setiap hari, koran ini dihiasi berita korban kekerasan 'petrus' itu. Rupanya, sikap kritis Suara Indonesia membuat pihak-pihak yang merasa tersudut melakukan semacam teror. Rabu dini hari, 16 November 1984, sekitar pukul 03.00 dini hari, kantor redaksi SI dikirimi paket mencurigakan.
Saat ditemukan oleh 3 karyawan Sinar Indonesia, paket itu dalam keadaan dibungkus plastic putih dan ditaruh dalam kotak karton baterai ABC. Awalnya paket itu disangka berisi batu, tapi setelah dibuka isinya ternyata potongan kepala manusia.
Potongan kepala yang ditengarai potongan kepala korban 'petrus' itu diletakkan persis di pintu masuk kantor redaksi. Peter Rohi menjadi salah satu saksi mata teror akibat sejumlah berita yang mereka tulis.
Atas kejadian tersebut, SI memutuskan untuk tidak terbit keesokan harinya. Ini adalah teror terdahsyat yang pernah dialami pers pada masa rezim Orde Baru. Tapi terror tersebut tidak menundukkan Suara Indonesia.
Peter Rohi dan kawan-kawan justru terus melawan dan memberitakan soal 'petrus. Tidak hanya berita, Suara Indonesia juga menyampaikan kritikan melalui tajuk rencananya.
Berita teror paket kepala manusia ini kemudian mendapat reaksi keras dari dunia internasional. Peter diwawancarai oleh wartawan dari Eropa, Ketua IGGI bahkan datang dari Belanda meminta Jend LB Moerdani menjamin keamanan.
Martha Meyer dari Amnesti Internasional menawarkan kepada Peter untuk keluar dari Indonesia untuk sementara waktu sebagai wartawan yang mendapat tugas belajar ke Amerika. Tapi tawaran itu ditolak oleh Peter.
Dia tetap bertahan di Indonesia meski telah mendapat terror yang mengerikan itu. Dia memilih tetap di Indonesia dan terus menulis sampai akhirnya Soeharto menghentikan operasi Petrus tersebut di Tanah Air.
Sebagai mantan pejuang dan mantan KKO, Peter tentu saja tidak takut akan terror seperti itu. Perjuangannya dalam mempertahankan idealism pers sangat patut diapresiasi. (ejk)
Berita Lainnya
Jangan Lewatkan! Telkomsel Hadirkan Promo Menarik dan Tukar Poin Gratis di Riau Bhayangkara Run 2026
Telkomsel Luncurkan Halo Optima, Paket Pascabayar dengan Kuota hingga 300 GB dan Hiburan Premium
Euforia Nobar Piala Dunia 2026 Memuncak, Capella Honda Ingatkan Pengendara Tetap #Cari_Aman
DPD KSPSI Riau Tegaskan Muscab FSP NIBA Pembaruan Sah, Tengku Darwin Resmi Nahkodai PC Pekanbaru
IKLA RGS Riau Bentuk Panitia Mubes II, Pemilihan Ketua Umum Digelar November 2026
Jadi Komisaris BUMD Riau di Usia 22 Tahun, Sambu Jawab Kritik dengan Kinerja
Jangan Lewatkan! Telkomsel Hadirkan Promo Menarik dan Tukar Poin Gratis di Riau Bhayangkara Run 2026
Telkomsel Luncurkan Halo Optima, Paket Pascabayar dengan Kuota hingga 300 GB dan Hiburan Premium
Euforia Nobar Piala Dunia 2026 Memuncak, Capella Honda Ingatkan Pengendara Tetap #Cari_Aman
DPD KSPSI Riau Tegaskan Muscab FSP NIBA Pembaruan Sah, Tengku Darwin Resmi Nahkodai PC Pekanbaru
IKLA RGS Riau Bentuk Panitia Mubes II, Pemilihan Ketua Umum Digelar November 2026
Jadi Komisaris BUMD Riau di Usia 22 Tahun, Sambu Jawab Kritik dengan Kinerja