PILIHAN
Jangan Cari Walikota "Pakak"
Intsiawati Ayus Ibaratkan Firdaus Autis
Diskusi grup WA Cakaplah
KARENA berkali-kali tak berhasil mengajak Walikota Pekanbaru, Firdaus mendiskusikan hasil penjaringan aspirasi masyarakat Kota Pekanbaru, anggota DPD RI, Intsiawati Ayus geram. Pasalnya, dari 12 kabupaten/kota di Riau, hanya Pekanbaru yang tak bisa diajak berdiskusi satu meja.
Kekesalan ini disampaikan Iin, sapaan akrab anggota DPD RI tiga periode pada kesempatan diskusi ringan yang digelar salah satu grup komunitas jejaring sosial media WhatsApp Cakaplah, Minggu (27/3/2016) di salah satu cafe di Pekanbaru. Pasalnya, sejak Firdaus memimpin Kota Pekanbaru dirinya sudah dua kali bahkan meminta agar dapat diterima bertatap muka dengan walikota membahas kinerja dan menggali aspirasi masyarakat Kota Pekanbaru.
Firdaus yang tak menghiraupkan ajakan untuk membahas mengenai aspirasi masyarakat dan perkembangan Kota Pekanbaru diibaratkan Iin sebagai seorang yang autis, asyik dengan dirinya sendiri tanpa mau mendengarkan orang lain. Sehingga tidak mau tau apa yang terjadi di tengah masyarakatnya.
"Cari pemimpin yang mau mendengarkan baru berbicara, saat dia berbicara dia terlebih dahulu harus mendengarkan agar dia bisa menjawab dan mencari solusi setiap masalah. Kita berharap nantinya akan lahir pemimpin yang tidak autis, kita butuh pemimpin yang tidak 'pakak' pemimpin yang bisa pendengarannya masih bagus," katanya kesal
Dari 12 bupati dan walikota, hanya walikota Pekanbarulah yang belum pernah bicara tentang masalah lokal kepada wakil rakyatnya yang duduk di DPD RI. Karena itu, kedepan Iin mengimbau agar mencari pemimpin yang bisa mendengar dan tak dibatasi sekat. Antara pemimpin dan rakyatnya harus satu gelombang, satu frekwensi.
"Karena Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau yang dikelilingi 11 kabupaten/kota, sudah menjadi keharusan bahwa walikota kedepan adalah orang yang terbaik," ujar Iin.
Iin juga menyinggung mengenai perubahan slogan Kota Pekanbaru dari Kota Bertuah menjadi Kota Madani. Dikatakannya Disitulah letak bertuahnya dari banyak daerah se-nusantara yang menggunakan kata marwah dan bermartabat hanyalah Provinsi Riau.
"Disitulan letak bertuahnya negeri kita, jangan main-main dan sembarangan saat menggunakan kata tersebut. Yang jelas bila suatu negeri sudah bertuah sudah dapat dipastikan ia madani, namun sebaliknya bila suatu negeri menjadi madani belum tentu ia bertuah," tuturnya. Fio
Kekesalan ini disampaikan Iin, sapaan akrab anggota DPD RI tiga periode pada kesempatan diskusi ringan yang digelar salah satu grup komunitas jejaring sosial media WhatsApp Cakaplah, Minggu (27/3/2016) di salah satu cafe di Pekanbaru. Pasalnya, sejak Firdaus memimpin Kota Pekanbaru dirinya sudah dua kali bahkan meminta agar dapat diterima bertatap muka dengan walikota membahas kinerja dan menggali aspirasi masyarakat Kota Pekanbaru.
Firdaus yang tak menghiraupkan ajakan untuk membahas mengenai aspirasi masyarakat dan perkembangan Kota Pekanbaru diibaratkan Iin sebagai seorang yang autis, asyik dengan dirinya sendiri tanpa mau mendengarkan orang lain. Sehingga tidak mau tau apa yang terjadi di tengah masyarakatnya.
"Cari pemimpin yang mau mendengarkan baru berbicara, saat dia berbicara dia terlebih dahulu harus mendengarkan agar dia bisa menjawab dan mencari solusi setiap masalah. Kita berharap nantinya akan lahir pemimpin yang tidak autis, kita butuh pemimpin yang tidak 'pakak' pemimpin yang bisa pendengarannya masih bagus," katanya kesal
Dari 12 bupati dan walikota, hanya walikota Pekanbarulah yang belum pernah bicara tentang masalah lokal kepada wakil rakyatnya yang duduk di DPD RI. Karena itu, kedepan Iin mengimbau agar mencari pemimpin yang bisa mendengar dan tak dibatasi sekat. Antara pemimpin dan rakyatnya harus satu gelombang, satu frekwensi.
"Karena Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau yang dikelilingi 11 kabupaten/kota, sudah menjadi keharusan bahwa walikota kedepan adalah orang yang terbaik," ujar Iin.
Iin juga menyinggung mengenai perubahan slogan Kota Pekanbaru dari Kota Bertuah menjadi Kota Madani. Dikatakannya Disitulah letak bertuahnya dari banyak daerah se-nusantara yang menggunakan kata marwah dan bermartabat hanyalah Provinsi Riau.
"Disitulan letak bertuahnya negeri kita, jangan main-main dan sembarangan saat menggunakan kata tersebut. Yang jelas bila suatu negeri sudah bertuah sudah dapat dipastikan ia madani, namun sebaliknya bila suatu negeri menjadi madani belum tentu ia bertuah," tuturnya. Fio
Berita Lainnya
Tarif Listrik Triwulan III 2026 Tetap, PLN Jalankan Kebijakan Pemerintah dan Jaga Kualitas Layanan Masyarakat
Sebut Kasus Amplop Bupati Kuansing Masuk Gratifikasi, LSM: Seharusnya Lapor KPK, Bukan Dikembalikan
KPK Selidiki Pertemuan Bupati Kuansing dan Menteri Kehutanan Terkait Alih Fungsi 3.800 Hektare Lahan
Balai Riau Matangkan Usulan Tepian Narosa Jadi Proyek Strategis Nasional
Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Matangkan Usulan RUU Hak Cipta Bersama Konstituen
PLN UIP3B Sumatera Salurkan 40 Ekor Sapi dan 12 Ekor Kambing, Ribuan Masyarakat Rasakan Manfaatnya
Tarif Listrik Triwulan III 2026 Tetap, PLN Jalankan Kebijakan Pemerintah dan Jaga Kualitas Layanan Masyarakat
Sebut Kasus Amplop Bupati Kuansing Masuk Gratifikasi, LSM: Seharusnya Lapor KPK, Bukan Dikembalikan
KPK Selidiki Pertemuan Bupati Kuansing dan Menteri Kehutanan Terkait Alih Fungsi 3.800 Hektare Lahan
Balai Riau Matangkan Usulan Tepian Narosa Jadi Proyek Strategis Nasional
Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Matangkan Usulan RUU Hak Cipta Bersama Konstituen
PLN UIP3B Sumatera Salurkan 40 Ekor Sapi dan 12 Ekor Kambing, Ribuan Masyarakat Rasakan Manfaatnya