PILIHAN
Pengamat Sebut Golkar-PDIP Ingin Kendalikan Pilpres 2019
JAKARTA, Riauin.com -- Pengamat Politik dari Universitas Paramadina Toto Sugiarto mengatakan Partai Golkar dan PDI Perjuangan ingin mengendalikan jalannya kontestasi Pemilihan Presiden 2019.
Karena itu, dua partai dengan suara terbanyak pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 itu bersikukuh menginginkan ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) dengan angka yang tinggi.
Dengan ambang batas yang tinggi, partai-partai besar yang bakal menentukan kandidat pada Pilpres 2019. "Ini kepentingan politik saja," kata dia saat dihubungi wartawan, Rabu (14/6).
Toto menambahkan ambang batas pencalonan presiden yang tinggi bakal mengurangi partai yang bisa mencalonkan presiden. Dengan demikian, ini mengurangi calon yang berkontestasi di Pilpres 2019.
Di sisi lain, partai-partai besar seperti PDI Perjuangan dan Golkar juga tidak khawatir dengan ambang batas yang tinggi. Mereka yakin bakal memenuhi ambang batas itu. Kalaupun harus menggalang kekuatan dengan partai lain, mereka hanya membutuhkan satu teman koalisi.
"Itu harapannya nanti calonnya atau pesaingnya akan sedikit," kata Toto.
Saat ini suara di parlemen terkait ambang batas pencalonan presiden masih terbelah. Partai pendukung pemerintah seperti Golkar, PDI Perjuangan, dan Nasdem, menginginkan penerapan ambang batas.
Ketiga parpol ini sepakat presiden dan wakil presiden dicalonkan parpol atau gabungan parpol yang minimal memiliki 20 persen kursi di DPR atau 25 persen suara sah nasional pada pemilu legislatif sebelumnya.
PAN mengusulkan agar ambang batas pencalonan presiden ditiadakan atau sebesar nol persen. Ide ini didukung oleh Demokrat yang bersikukuh ambang batas pencalonan presiden tidak diterapkan pada pilpres mendatang.(rol)
Karena itu, dua partai dengan suara terbanyak pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 itu bersikukuh menginginkan ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) dengan angka yang tinggi.
Dengan ambang batas yang tinggi, partai-partai besar yang bakal menentukan kandidat pada Pilpres 2019. "Ini kepentingan politik saja," kata dia saat dihubungi wartawan, Rabu (14/6).
Toto menambahkan ambang batas pencalonan presiden yang tinggi bakal mengurangi partai yang bisa mencalonkan presiden. Dengan demikian, ini mengurangi calon yang berkontestasi di Pilpres 2019.
Di sisi lain, partai-partai besar seperti PDI Perjuangan dan Golkar juga tidak khawatir dengan ambang batas yang tinggi. Mereka yakin bakal memenuhi ambang batas itu. Kalaupun harus menggalang kekuatan dengan partai lain, mereka hanya membutuhkan satu teman koalisi.
"Itu harapannya nanti calonnya atau pesaingnya akan sedikit," kata Toto.
Saat ini suara di parlemen terkait ambang batas pencalonan presiden masih terbelah. Partai pendukung pemerintah seperti Golkar, PDI Perjuangan, dan Nasdem, menginginkan penerapan ambang batas.
Ketiga parpol ini sepakat presiden dan wakil presiden dicalonkan parpol atau gabungan parpol yang minimal memiliki 20 persen kursi di DPR atau 25 persen suara sah nasional pada pemilu legislatif sebelumnya.
PAN mengusulkan agar ambang batas pencalonan presiden ditiadakan atau sebesar nol persen. Ide ini didukung oleh Demokrat yang bersikukuh ambang batas pencalonan presiden tidak diterapkan pada pilpres mendatang.(rol)
Berita Lainnya
Beredar Kabar Bupati Kuansing Nonaktif Bakal Bongkar Dugaan Pungutan PPPK Miliaran Rupiah ke KPK
Menyilangkan Faksi di Hari Merdeka: Rekonsiliasi Politik Kuansing di Lapangan Limuno
PLN UPT Pekanbaru Gelar Simulasi Tanggap Darurat Objek Vital Nasional Sambut Masa Siaga Kemerdekaan RI ke-81
Tim SAR Gabungan Temukan Jasad Remaja 13 Tahun yang Hanyut di Sungai Siak Depan Taman Singapura
Polisi Masuk Gedung Dewan: Jejak Gelap APBD Kuansing 2025 Mulai Diurai
Validasi Teriakan Aktivis dari Balik Sel: Skandal APBD Kuansing Akhirnya Diusut KPK
Beredar Kabar Bupati Kuansing Nonaktif Bakal Bongkar Dugaan Pungutan PPPK Miliaran Rupiah ke KPK
Menyilangkan Faksi di Hari Merdeka: Rekonsiliasi Politik Kuansing di Lapangan Limuno
PLN UPT Pekanbaru Gelar Simulasi Tanggap Darurat Objek Vital Nasional Sambut Masa Siaga Kemerdekaan RI ke-81
Tim SAR Gabungan Temukan Jasad Remaja 13 Tahun yang Hanyut di Sungai Siak Depan Taman Singapura
Polisi Masuk Gedung Dewan: Jejak Gelap APBD Kuansing 2025 Mulai Diurai
Validasi Teriakan Aktivis dari Balik Sel: Skandal APBD Kuansing Akhirnya Diusut KPK