RIAUIN.COM – Pementasan monolog "3431" yang dibawakan oleh sutradara sekaligus aktor tunggal Fedli Azis sukses memukau para penonton di Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 9 Mei 2026 , menghadirkan adaptasi bebas dari cerpen Putu Wijaya berjudul Babi.
Sepanjang pertunjukan, Fedli Azis yang tampil seorang diri di atas panggung mampu mengekspresikan konflik batin tokoh "Anwar" dengan intensitas tinggi. Penonton disuguhi adegan seorang pasien yang sedang menunggu panggilan di rumah sakit, namun terus diganggu bisikan-bisikan aneh. Kedua tangannya seolah memiliki kemauan sendiri—tangan kanan selalu bergerak melawan, menampar, meninju, bahkan mencakar tubuhnya sendiri, sementara tangan kiri bersembunyi di punggung atau saku celana.
Salah satu momen paling mengharukan terjadi ketika tokoh Anwar, setelah bergulat dengan tangan kanannya yang dianggap "berideologi lain", akhirnya menyerah pada tekanan. Dalam adegan klimaks, sang dokter yang berpenampilan ramah namun manipulatif memaksa Anwar menulis nama sendiri di selembar kertas. Dengan gemetar, Anwar menuliskan kata yang selama ini ia hindari. Kutipan dari naskah monolog menggambarkan detik itu:
"Seluruh mukaku basah dan mataku sulit untuk dibuka. Aku merasakan, dokter itu mengusap mukaku, pasti sapu tangan. Mereka memberiku segelas air dan aku meminumnya hingga habis. Dokter itu menepuk-nepuk pundakku dan berkata, 'Sudah, sudah, semuanya sudah selesai. Sekarang bukalah mata saudara. Sekarang bacalah?' Akhirnya, meski susah payah, aku berhasil membuka mataku dan dengan berat hati membaca tulisan itu. Di kertas itu tertulis 'ANWAR'. Dengan berat hati aku membacanya juga, 'BABI!!!'"
Penonton terdiam hening menyaksikan transformasi tokoh yang tadinya melawan, akhirnya menginternalisasi stigma yang dilekatkan kepadanya. Beberapa penonton terlihat menyeka air mata.
Usai pementasan, Fedli Azis bersama komposer Micko Celo menyatakan rasa puas atas penampilan maksimal yang telah mereka persembahkan. Proses latihan yang terus digenjot sebelumnya terbukti membuahkan hasil.
"Kami berdiskusi dengan beberapa seniman di kabupaten dan kota untuk menjalankan misi ini. Alhamdulillah, sebagian besar tertarik. Kami segera merancang helatan itu secara bersama. Untuk materi karya dan class acting sudah oke. Tinggal bagaimana caranya helatan tersebut bisa terlaksana di lokus yang dituju," ungkap Fedli kepada wartawan usai pertunjukan, disetujui oleh Micko.
Micko menambahkan bahwa dirinya cukup termotivasi oleh gagasan yang ditawarkan Fedli. Tanpa bantuan dana dari pemerintah daerah maupun pihak swasta, helatan seni ini dapat terselenggara dengan baik berkat kerja sama dengan seniman lokal.
"Saya kira gagasan ini perlu diapresiasi oleh kawan-kawan seniman dan pihak yang berkompeten, baik pemerintah maupun swasta. Saya akui, seniman kreatif itu memang tak ada matinya. Jika tersumbat satu jalan, dia akan menemukan jalan lain—jalan tikus—untuk tetap eksis di depan masyarakat pendukungnya," ulas Micko.
Yossafat Rose Lidya, seniman asal Cerenti yang bertindak sebagai tuan rumah, mengaku gembira dan bersyukur atas kesuksesan acara tersebut. Tenaga pendidik di SD Negeri 007 Kampung Baru, Cerenti, ini mengatakan bahwa kunjungan seniman asal Pekanbaru ke Cerenti memberikan semangat baru bagi komunitas teater lokal.
"Kami tidak mau menyia-nyiakan tawaran baik dari Bang Fedli dan Micko. Kami berharap peserta class acting dan pembelian tiket pementasan monolog '3431' diapresiasi oleh siswa dan masyarakat secara luas," ungkap Rose yang akrab disapa itu.
Pantauan di lokasi, antusiasme masyarakat Cerenti terlihat dari padatnya kursi penonton yang terdiri dari pelajar, guru, seniman muda, hingga tokoh masyarakat. Dukungan dari camat dan Polsek setempat turut menciptakan suasana kondusif sehingga pementasan berlangsung aman dan meriah.
Monolog "3431" yang mengangkat isu resistensi dan intervensi kekuasaan eksternal ini rencananya akan terus dibawa ke lokasi-lokasi lain di Riau sebagai bagian dari misi penyuntikkan semangat seni teater di daerah-daerah yang minim akses pertunjukan. - rum