Oleh: Hendrianto.
NAMANYA Jalur Kematian. Begitulah sejarah mencatatnya.
Lokasinya di Kuansing. Melintasi hutan lebat. Membelah perbukitan Riau. Menuju Muaro Sijunjung di Sumatra Barat.
Jepang yang punya ambisi. Waktunya mepet: 1943 sampai 1945. Hanya dua tahun lebih sedikit. Tapi harganya mahal sekali. Nyawa pelakunya.
Tujuannya satu: Batu bara. Jepang butuh energi untuk perang. Lewat laut tidak aman. Ada kapal selam Sekutu mengintai di Selat Melaka. Maka daratan pun dibelah. Rel kereta api dipasang.
Siapa yang kerja? Puluhan ribu Romusha. Mereka didatangkan dari Jawa. Ada juga tawanan perang. Tentara Belanda, Inggris, sampai Australia. Mereka kerja paksa. Makan susah. Penyakit malaria mengintai setiap saat.
Di Kuansing, jejaknya masih ada. Ada Kamp 9 di Logas. Ini tempat paling kelam. Banyak pekerja tumbang di sana. Lalu ada Lubuk Ambacang di Kamp 10. Ada juga Petai di Singingi Hilir.
Ironisnya, jalur ini selesai pas di hari Jepang menyerah. 15 Agustus 1945. Jalur jadi, tapi perang usai. Kereta api itu akhirnya hanya jadi monumen kegagalan ambisi.
Setelah merdeka, jalur ini sunyi. Ditinggalkan. Relnya dicabut. Sebagian terkubur tanah. Sebagian lagi jadi hutan kembali.
Sekarang, ada kabar besar bertiup. Angkanya fantastis. Rencana pemerintah membangun rel kereta api sepanjang 14.000 kilometer.
Investasinya? Tidak main-main. Rp1.200 triliun. Duit sebanyak itu tentu bukan untuk Jawa saja. Jawa sudah penuh. Sudah sesak dengan rel.
Targetnya sekarang adalah luar Jawa. Termasuk menyambungkan ujung Sumatra ke ujung lainnya. Kalau rencana ini benar jalan, Logas tidak akan lagi jadi nama yang sunyi.
Jalur di Kuansing yang dulu dibangun dengan darah Romusha itu mestinya masuk hitungan. Bayangkan saja. Rp1.200 triliun itu angka yang kolosal.
Kalau hanya jadi tumpukan aspal jalan tol, umurnya terbatas. Jalan tol itu tiap tahun minta perawatan.
Makin berat truk yang lewat, makin cepat dia remuk. Tapi kalau rel? Ini soal efisiensi berjangka panjang. Jalur Trans-Sumatra harusnya punya tulang punggung besi. Dari Aceh sampai Lampung. Lewat Pekanbaru. Lewat Kuansing. Terus ke selatan.
Kita sudah bosan dengar berita truk sawit terguling. Atau jalan lintas yang berlubang setiap musim hujan. Penyebabnya jelas: beban jalan sudah melampaui batas.
Solusinya ya kereta api. Satu rangkaian kereta bisa menggantikan ratusan truk di jalan raya. Lebih hemat energi. Lebih murah biaya logistiknya.
Hilirisasi yang sering kita bicarakan itu butuh angkutan massal. Pabrik minyak goreng di Kuansing —kalau nanti ada— butuh cara cepat kirim barang ke pelabuhan. Kereta adalah jawabannya.
Dulu, Jepang bisa bangun jalur Kuansing hanya dalam dua tahun. Padahal alatnya terbatas. Medannya rimba belantara. Harusnya, dengan teknologi sekarang dan duit ribuan triliun, membangun kembali jalur itu bukan hal mustahil.
Kita tidak ingin lagi melihat sejarah kereta di Kuansing hanya tinggal bangkai lokomotif yang karatan di tengah hutan. Kita ingin melihat dia kembali melaju. Membawa kemakmuran, bukan lagi membawa air mata.
Rakyat di daerah sudah lama menunggu. Menunggu giliran untuk maju. Bukan hanya jadi penonton kemajuan di Pulau Jawa. Mungkin ini saatnya "Jalur Kematian" itu lahir kembali menjadi "Jalur Kehidupan".
Kita tunggu saja, apakah angka 14.000 kilometer itu akan benar-benar melindas ego pembangunan yang selama ini hanya berputar di Jawa. (***)