Oleh: Hendrianto.
KABUPATEN Kuantan Singingi (Kuansing) hari ini tampak seperti seorang ibu yang sedang meratapi anak-anaknya. Negeri yang kental dengan semboyan adat ini kembali berduka.
Bukan karena takdir alam, melainkan karena "bencana" buatan tangan manusia yang dibiarkan merajalela tanpa rem. Kabar mengenai aset kebun milik Pemerintah Daerah yang kini porak-poranda akibat Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) menjadi tamparan keras di tengah wajah kita semua.
Aset negara saja bisa dijarah dan dirobek tanahnya, lantas bagaimana dengan nasib hutan lindung dan sungai-sungai kecil di pelosok desa? Yang lebih menyayat hati bukanlah deru mesin ekskavator itu sendiri, melainkan heningnya suara para tokoh yang biasanya lantang bicara soal marwah negeri.
Kita tentu belum lupa pada momen sakral 20 November 2025 lalu. Di bawah langit Kuansing, ratusan Dubalang Batang Kuantan dikukuhkan oleh Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan. Harapan besar membuncah saat itu. Dubalang, sosok tradisional yang secara historis adalah penjaga nagari, dipersiapkan sebagai garda terdepan dalam menjaga ekologi.
Kapolda bahkan menyematkan filosofi Green Policing, sebuah paradigma baru di mana polisi dan masyarakat adat bersinergi melawan kejahatan lingkungan. Dubalang disebut sebagai "Samurai" versi Riau—penjaga nilai yang harus berani membela sesuatu yang tidak bisa bersuara: alam.
Namun, hari ini kita dipaksa bertanya: ke mana taji para ksatria itu? Sejak dikukuhkan, kehadiran mereka seolah baru terasa sebagai simbol di atas kertas dan seragam dalam seremoni. Belum ada gebrakan nyata yang mampu membendung laju alat berat yang kian rakus merobek isi bumi Kuansing.
Jika penjaga yang diberi amanah saja memilih diam, kepada siapa lagi hutan dan sungai ini harus mengadu? Kita tidak boleh abai bahwa kerusakan ekosistem di hulu sungai adalah tiket VIP menuju bencana ekologis. Fenomena banjir bandang yang melanda Sumatera Barat beberapa waktu lalu seharusnya menjadi pelajaran yang sangat mahal.
Irjen Herry Heryawan dalam sambutannya pernah memperingatkan: "Ketika ekosistem rapuh, bencana tidak lagi menjadi cerita lain. Ia menjadi tamu yang semakin sering datang ke rumah kita sendiri."
Kerusakan yang kita buat hari ini mungkin tidak akan langsung menenggelamkan kita malam ini, tapi alam memiliki memori yang panjang. Ia akan "menagih hutang" atas setiap jengkal tanah yang dirusak dan setiap aliran sungai yang dikeruhkan oleh merkuri.
Kuansing tidak butuh sekadar gelar adat yang mentereng jika tidak dibarengi aksi di lapangan. Kita butuh Dubalang yang benar-benar menjadi "pagar nagari", yang berani berdiri di depan alat berat demi menyelamatkan nadi ekologi kita, Sungai Batang Kuantan.
Jangan sampai sejarah mencatat bahwa di era kita, para penjaga ada namun hanya menjadi penonton saat rumahnya sendiri dihancurkan.
Kepada para Dubalang, Bupati, dan aparat penegak hukum, masyarakat menanti bukti dari janji Green Policing. Keamanan bukan hanya soal menangkap pencuri di jalanan, tapi menghentikan pencuri masa depan anak cucu kita.
Jangan biarkan generasi mendatang hanya mewarisi lubang-lubang maut dan sungai yang keruh, sementara kita hari ini memilih bungkam demi kepentingan sesaat.
Saatnya Dubalang menunjukkan tajinya. Sebab, keberanian yang paling luhur adalah keberanian menjaga apa yang tidak bisa membela dirinya sendiri. Sebelum alam benar-benar bicara dengan caranya sendiri yang mematikan. (***)