• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Politik
  • Hukrim
  • Nasional
  • Riau
  • Iptek
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pilkada
  • Pendidikan
  • DPRD
    • DPRD Pekanbaru
    • DPRD Riau
    • DPRD Inhil
    • DPRD Inhu
  • More
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Siak
    • Indragiri Hulu
    • Indragiri Hilir
    • Bengkalis
    • Kuantan Singingi
    • Rokan Hilir
    • Rokan Hulu
    • Meranti
    • Dumai
    • Kampar
    • Galeri Foto
    • Video
    • Pemilu
    • Sumbar
    • Kepri
    • Peristiwa
    • Olahraga
    • TNI/Polri
    • Tokoh
    • CSR
    • Advertorial
    • Kesehatan
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Home
  • Politik
  • Hukrim
  • Nasional
  • Riau
  • Iptek
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pilkada
  • Pendidikan
  • DPRD
  • Pekanbaru
  • Pelalawan
  • Siak
  • Indragiri Hulu
  • Indragiri Hilir
  • Bengkalis
  • Kuantan Singingi
  • Rokan Hilir
  • Rokan Hulu
  • Meranti
  • Dumai
  • Kampar
  • Galeri Foto
  • Video
  • Pemilu
  • Sumbar
  • Kepri
  • Peristiwa
  • Olahraga
  • TNI/Polri
  • Tokoh
  • CSR
  • Advertorial
  • Kesehatan
  • DPRD Pekanbaru
  • DPRD Riau
  • DPRD Inhil
  • DPRD Inhu
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN
Dahaga Fiskal di Negeri Kaya Minyak: Menagih Hak Bagi Hasil Siak yang Mengendap di Pusat
06 Oktober 2026
Enam Pabrik Sawit di Kuansing Disegel, Ribuan Petani Terimpit Disrupsi
06 Oktober 2026
Garuda Mengukir Sejarah di Gelora Bung Karno
05 Oktober 2026
Saat Netanyahu Pidato di Depan Kursi Kosong
25 September 2026
Sebanyak 21 Anggota DPRD Kuansing Sempat Jadi Temuan NHP BPK Senilai Rp163 Juta, Polisi Dalami Bukti Lain
23 September 2026

  • Home
  • Nasional

Topeng Koperasi di Kebun Oligarki: Mengurai Benang Kusut Korupsi Hutan Kuansing

Redaksi

Sabtu, 08 Agustus 2026 11:06:40 WIB
Cetak

Pertemuan Menhut Raja Juli Antoni dengan Bupati Kuansing nonaktif Suhardiman Amby. 

"Mengurai skandal Suhardiman Amby: dari lelang jabatan bermotor mewah, gergaji TPP pegawai negeri, hingga kongkalikong pelepasan hutan produksi demi kepentingan oligarki.'

Laporan: Hendrianto.

RIAUIN. COM- Dari garasi rumah hingga lorong-lorong kementerian di Jakarta, bau sangit persekongkolan itu akhirnya tercium juga. Sebuah Toyota Land Cruiser 300 GR-S senilai Rp2,05 miliar yang catnya masih berkilau disita penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Tak jauh dari situ, satu unit Mitsubishi Pajero Sport Dakar—mobil yang sehari-hari digunakan oleh istri kedua Bupati Kuantan Singingi (Kuansing) nonaktif Suhardiman Amby—turut diangkut truk derek.

Mobil sport bongsor itu bukan hanya kendaraan pemuas gengsi. Di mata penyidik lembaga rasuah, deretan armada kelas atas tersebut adalah penanda fisik dari sebuah transaksi gelap: mahar langsung dari Zulkarnain demi memuluskan langkahnya menuju kursi Sekretaris Daerah (Sekda) Kuansing.

Penyitaan dua unit kendaraan mewah itu menandai terkuaknya garong birokrasi di Kabupaten Kuantan Singingi. Penyidik KPK memetakan kejahatan Suhardiman ke dalam tiga bidang yang tertata rapi: jual-beli jabatan berimbalan armada mewah, gratifikasi pembebasan lahan hutan produksi, hingga pemerasan sistematis terhadap pegawai negeri di tanah kelahirannya sendiri.

Di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuansing, jabatan publik tak ditukar dengan kapasitas dan rekam jejak. Kursi-kursi strategis diduga memiliki daftar harga. Jabatan pemuncak karier seperti Sekda hingga Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) ditransaksikan lewat pola klasik—jabatan ditukar kunci kendaraan bermotor berharga miliaran rupiah.

Namun, permainan Suhardiman tak berhenti di lingkup birokrasi internal. Dalam klaster kedua, komplotan ini menyasar Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT). Areal bernilai ekologis tinggi yang seharusnya dilindungi negara diubah menjadi komoditas demi mengeduk dana dari kelompok tani dan Koperasi Unit Desa (KUD).

Isu aliran dana di klaster gratifikasi ini terus membengkak. Penelusuran KPK menemukan fakta bahwa aliran uang tak cuma berhenti pada angka 14.000 dolar Singapura yang diserahkan pada awal Juni. Sebulan sebelumnya—sekitar Mei—aliran valuta asing sebesar 12.500 dolar Singapura sudah lebih dulu meluncur dari pejabat Pemkab Kuansing kepada oknum di kementerian pusat.

"Artinya, ini juga mengonfirmasi bahwa pemberian dari pihak Pemkab Kuansing kepada pihak-pihak di kementerian berkaitan dengan pelepasan izin kawasan hutan... bahwa pemberian yang dilakukan oleh pihak bupati itu bukan pemberian yang pertama. Artinya, ada pemberian sebelumnya," tegas Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, di Gedung Merah Putih KPK belum lama ini.

Dari penelusuran transaksi penggalangan dana di katakan KPK, total dana yang dihimpun dari para petani melalui KUD Prima Sehati—yang dipimpin oleh Juprizal—membengkak hingga mencapai 46.500 dolar Singapura.

Penyidik kini mengusut selisih angka dan ketidakcocokan nominal antara uang yang diserahkan dengan yang dikembalikan oleh pihak kementerian—sebuah petunjuk adanya bagian uang yang tertahan di celah-celah lorong birokrasi.

Muslihat ketiga melukai langsung para abdi negara di Kota Teluk Kuantan. Hak Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) PNS digergaji hingga 50 persen. Tak berhenti di situ, para ASN dipaksa melakukan "patungan" wajib untuk menutupi temuan kelebihan bayar dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)—sebuah kewajiban pribadi sang bupati yang ditimpakan ke pundak para bawahannya.

Uang rampasan itu dikumpulkan secara sistematis melalui sejumlah pihak.

Maraton pemeriksaan digelar KPK di Pekanbaru maupun Jakarta. Puluhan saksi dari unsur Kepala Dinas, anggota DPRD Kuansing, hingga pengurus KUD dipanggil bertubi-tubi. Saksi kunci seperti Juprizal, yang menjabat sebagai Ketua KUD Prima Sehati sekaligus Ketua DPRD Kuansing, terus diperiksa intensif terkait penggalangan dana dan perannya dalam pengurusan izin kawasan hutan.

Di tengah penyidikan yang kian memanas, sorotan warga tertuju pada dalang di balik kepemilikan lahan HPT secara ilegal. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Suluh Kuansing mendesak KPK untuk memperluas jangkauan radarnya dan tidak hanya berhenti pada pejabat publik.

Melalui Ketuanya, Nerdi Wantomes, S.H., LSM Suluh Kuansing meminta KPK secara eksplisit mengusut tuntas proses pelepasan kawasan HPT di Kecamatan Hukum Kuantan. Lokasi tersebut mencakup areal perkebunan kelapa sawit berskala besar milik pengusaha Alianto Wijaya yang diduga kuat beroperasi di balik kedok Koperasi Guna Karya.

Kebun sawit raksasa di dalam kawasan HPT yang membentang di Desa Setosa, Tanjung Medang, dan Sumpu serta Koto Kombu ini diprediksi luasnya menembus lebih dari 2.000 hektar.

Kejanggalan luas lahan ini sempat memicu adu argumentasi panas dalam rapat dengar pendapat (hearing) di DPRD Kuansing. Pihak Koperasi Guna Karya yang diwakili oleh Dani dinilai melakukan pengaburan data secara sistematis.

"Di dalam hearing, Dani hanya mengakui 700 hektar, dan sisanya 300 hektar itu mereka mengaku berada di kawasan putih," ungkap Satria Mandala Putra, Wakil Ketua I DPRD Kuansing.

Dari klaim 700 hektar yang diakui pengurus koperasi tersebut, sebanyak 417 hektar di antaranya telah resmi disita oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH). Jurang perbedaan antara luas riil di lapangan (2.000 hektar) dengan pengakuan formal di meja legislatif (700 hektar) menguatkan indikasi adanya aksi penyembunyian aset perkebunan ilegal berskala masif.

Panitia Khusus (Pansus) DPRD Kuansing kini menjadwalkan turun langsung menyisir lapangan guna mengukur kembali seluruh jengkal luas perkebunan bersama tim teknis Badan Pertanahan Nasional (BPN), sebelum menyerahkan rekomendasinya ke DPR RI.

Informasi yang dihimpun LSM Suluh Kuansing juga mengindikasikan bahwa dalam rentang pertemuan dengan pejabat kementerian di Jakarta pada periode April hingga Mei, seorang perwakilan dari pihak Alianto Wijaya yang merupakan oknum pensiunan Polisi Kehutanan (Polhut) terdeteksi ikut serta dalam rombongan Bupati nonaktif Suhardiman Amby.

Kehadiran aktor swasta ini menguatkan dugaan bahwa pengurusan izin kawasan hutan bukanlah demi rakyat kecil, melainkan demi memutihkan kebun sawit ilegal milik oligarki lokal yang berselimut nama koperasi.

Pihak KPK menegaskan bahwa hingga saat ini uang 12.500 dolar Singapura yang mengalir pada periode Mei tersebut belum dikembalikan oleh penerimanya. Penyidik sedang mendalami saksi-saksi terkait entitas swasta maupun rombongan bupati yang hadir dalam pertemuan tersebut.

Masing-masing kubu melayangkan bantahan atas tudingan penyidik. Melalui kuasa hukumnya, Alfikri, S.H., M.H., Juprizal menegaskan bahwa kapasitas kliennya saat diperiksa KPK adalah murni sebagai pengurus KUD Prima Sehati, bukan dalam porsi jabatannya di lembaga legislatif.

"Keterangan itu telah disampaikan di hadapan penyidik KPK RI. Bahwa klien kami tidak mengetahui secara detail proses pengumpulan uang operasional untuk pengurusan pelepasan kawasan hutan. Permintaan sejumlah uang itu berasal dari Pemda, dan mengenai penyerahan uang itu ke Kementerian jelas klien kami tidak mengetahui dan tidak melihat langsung. Klien kami berkomitmen untuk selalu kooperatif," ujar Alfikri.

Sementara itu, tim penasihat hukum Suhardiman Amby yang dipimpin Rizky JP Poliang, S.H., M.H., menyatakan bersikap kooperatif dan memastikan tidak akan mengajukan permohonan praperadilan atas penetapan tersangka maupun penahanan kliennya.

"Terkait isu praperadilan yang beredar luas di tengah masyarakat, saya tegaskan bahwa kami selaku kuasa hukum tidak mengajukan permohonan praperadilan. Kami sangat menghormati wewenang penyidik KPK dan klien kami berkomitmen kooperatif menjalani seluruh tahapan hukum," kata Rizky JP Poliang.
.
Skandal yang menjerat Suhardiman Amby menelanjangi bagaimana kekuasaan di daerah berkelindan dengan kepentingan modal. Uang simpanan petani, potongan gaji pegawai negeri, hingga aset bergerak miliaran rupiah dikonversi menjadi instrumen transaksi politik.

Pengusutan KPK di Kuantan Singingi kini menjadi pertaruhan: apakah hukum mampu menjangkau hingga ke akar-akarnya—menyeret oknum penerima di kementerian dan oligarki swasta penyokong dana atau sekadar berhenti pada sang bupati.

Di tanah di mana helat Pacu Jalur biasa dirayakan dengan deru kayuh kebersamaan, rakyat kini menyaksikan bahwa kayuh kekuasaan pemimpin mereka telah melenceng jauh menuju muara jeruji besi. (***) 
 


Sumber : Riauin.com /  Editor : Hendrianto


[Ikuti Riauin.com Melalui Sosial Media]


Riauin.com

Berita Lainnya

Dahaga Fiskal di Negeri Kaya Minyak: Menagih Hak Bagi Hasil Siak yang Mengendap di Pusat

Jaga Penyu, Lestarikan Laut: PLN Peduli Perkuat Konservasi dan Ekonomi Pesisir Pulau Mapur

Pesona Diva Kuansing di Panggung DA8

Jaga Nadi Energi Nasional, Danantara, PLN, dan Pertamina Perkuat Keandalan Kelistrikan WK Rokan

PLN Dorong Songket Banyuasin Naik Kelas, Perkuat Perajin Lokal hingga Bidik Pasar Global

PLN Hidupkan Regenerasi Penenun Muda, Kilau Songket Banyuasin Gerakkan Ekonomi Desa Merah Mata

Dahaga Fiskal di Negeri Kaya Minyak: Menagih Hak Bagi Hasil Siak yang Mengendap di Pusat

Jaga Penyu, Lestarikan Laut: PLN Peduli Perkuat Konservasi dan Ekonomi Pesisir Pulau Mapur

Pesona Diva Kuansing di Panggung DA8

Jaga Nadi Energi Nasional, Danantara, PLN, dan Pertamina Perkuat Keandalan Kelistrikan WK Rokan

PLN Dorong Songket Banyuasin Naik Kelas, Perkuat Perajin Lokal hingga Bidik Pasar Global

PLN Hidupkan Regenerasi Penenun Muda, Kilau Songket Banyuasin Gerakkan Ekonomi Desa Merah Mata

TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Dahaga Fiskal di Negeri Kaya Minyak: Menagih Hak Bagi Hasil Siak yang Mengendap di Pusat
  • 2 Enam Pabrik Sawit di Kuansing Disegel, Ribuan Petani Terimpit Disrupsi
  • 3 Garuda Mengukir Sejarah di Gelora Bung Karno
  • 4 Warga Pekanbaru Bisa Beli Sembako Murah di 5 Lokasi Ini hingga Jumat
  • 5 Jaga Ketahanan Wilayah Riau, TNI dan Pemprov Tekankan Kerja Sama Lintas Sektor
  • 6 BMKG Minta Warga Riau Waspadai Hujan Badai dan Potensi Asap
  • 7 IHK Riau Naik Jadi 114,27, Inflasi Bulanan September 2026 Tembus 0,64 Persen
  • 8 Pedagang STC Tetap Bisa Berdagang Pasca-BGS Berakhir, Pemko Pekanbaru Buka Skema Sewa Langsung
  • 9 BMKG Riau Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem dan Minta Warga Waspadai 11 Hotspot
Terkini +INDEKS

Lonjakan Hotspot di Sumatera Tembus 4.806 Titik, BMKG Imbau Pakai Masker

07 Oktober 2026
Jarak Pandang Hanya 600 Meter, Pesawat Lion Air Gagal Mendarat di Bandara SSK II Pekanbaru
07 Oktober 2026
Aksi Telepon Palsu ke Layanan TRC 112 Ancam Keselamatan Warga Pekanbaru
06 Oktober 2026
Harga TBS Sawit Mitra Swadaya Riau Turun Jadi Rp3.733 per Kilogram
06 Oktober 2026
Tiga Jalan Utama Pekanbaru Diperlebar, Kemacetan Mulai Terurai
06 Oktober 2026
Kasus Penipuan Proyek Batu Bara Rp495 Juta, Ayah Selebgram di Pekanbaru Jadi Tersangka
06 Oktober 2026
BSSN Beri Penghargaan Riau atas Pemenuhan Tim Tanggap Insiden Siber
06 Oktober 2026
Dahaga Fiskal di Negeri Kaya Minyak: Menagih Hak Bagi Hasil Siak yang Mengendap di Pusat
06 Oktober 2026
Pasokan Terbagi ke Jakarta, Cabai Bukittinggi di Pekanbaru Tembus Rp120 Ribu
06 Oktober 2026
Sisir Sungai Kuantan, Tim Gabungan Polsek Cerenti Tutup Paksa Tambang Ilegal
06 Oktober 2026

KABUPATEN+INDEKS
  • 1 Pekanbaru
  • 2 Pelalawan
  • 3 Siak
  • 4 Indragiri Hulu
  • 5 Indragiri Hilir
  • 6 Bengkalis
  • 7 Kuantan Singingi
  • 8 Rokan Hilir
  • 9 Rokan Hulu
  • 10 Meranti
  • 11 Dumai
  • 12 Kampar
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Riauin.com ©2015 By Delapa Media Tenologi | All Right Reserved