PILIHAN
Workshop BRG
Sekat Kanal Gambut Perusahaan Sebabkan Lahan Masyarakat Kering
Kepala BRG Haris Gunawan
PEKANBARU, riauin.com-- Kebijakan membuat kanal pada lahan milik perusahaan untuk mengantisipasi kebakaran lahan oleh Kementerian Lingkungan Hidup membawa dampak kekeringan pada lahan milik masyarakat.
Kebijakan pemerintah membangun 15 ribu sekat kanal pada lahan gambut yang ada di Indonesia, tujuannya mempertahankan air di kawasan gambut agar tidak kering dan mudah terbakar.
Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG), Nazir Foead mengatakan, tahun 2016 lalu, Badan Restoeasi Gambut (BRG) telah membangun kanal tersebut. Untuk Riau, kanal dibangun di lahan gambut Giam Siak, Bengkalis. Hal itu dikatakannya menjawab wartawan usai worksop BRG tentang tata kelola air di kawasan gambut Giam Siak sebagai upaya antisipasi bencana kabut asap di Riau, Senin (13/11/2017).
"Kita beruntung, tahun 2016-2017 Riau bisa dikatakan bebas asap. Selain kinerja tim penanggulangan karlahut yang sangat baik, juga keramahan alam yang memberikan curah hujan yang cukup sepanjang tahun," terang Deputi Bidang Penelitian dan Pengembangan, Haris Gunawan.
Menurutnya, keunikan permasalahan tata kelola gambut di Giam Siak adalah, perlakuan sekat kanal oleh perusahaan yang membuat kawasan gambut di lahan masyarakat menjadi tidak terairi dengan baik. Kawasan gambut di lahan masyarakat cenderung kering dan rawan terbakar di musim kering.
"Untuk itu perlu adanya koordinasi antara pemerintah desa dan satker terkait untuk meminta pihak perusahaan untuk berbagi air dengan kawasan gambut lahan masyarakat," terang Haris.
Dengan perlakuan sekat kanal oleh perusahaan, tambah Haris, jika musim kemarau, kawasan gambut perusahaan relatif basah. Sementara, kawasan gambut di lahan warga justru kering dan rawan terbakar.
Sebaliknya, jika musim hujan, pembukaan sekat kawasan gambut perusahaan membuat kawasan gambut lahan warga terendam banjir.
"Di titik titik tertentu, kita sudah membangun sekat sekat kanal agar ketersediaan air di musim kemarau mencukupi. Tahun 2017-2018 ini, sesuai intruksi Presiden, kita akan kembali membangun sekat sekat kanal," terang Haris.
Disingggung mengenai restorasi gambut yang sudah dilakukan BRG, Haris Gunawan mengatakan dari 900 ribu hektar kawasan gambut di Riau yang harus di restorasi, sudah lebih 200 ribu hektar yang sudah dilakukan restorasi oleh BRG.
"Namun ini kerja bersama. Bukan hanya kerja Badan Restorasi Gambut (BRG) saja. Untuk itu kita mengajak seluruh stakeholder bersama-sama melakukan restorasi gambut di Riau dan Indonesia pada umumnya untuk meminimalisasi terjadinya bencana kabu asap," imbuh Haris. (vie)
Kebijakan pemerintah membangun 15 ribu sekat kanal pada lahan gambut yang ada di Indonesia, tujuannya mempertahankan air di kawasan gambut agar tidak kering dan mudah terbakar.
Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG), Nazir Foead mengatakan, tahun 2016 lalu, Badan Restoeasi Gambut (BRG) telah membangun kanal tersebut. Untuk Riau, kanal dibangun di lahan gambut Giam Siak, Bengkalis. Hal itu dikatakannya menjawab wartawan usai worksop BRG tentang tata kelola air di kawasan gambut Giam Siak sebagai upaya antisipasi bencana kabut asap di Riau, Senin (13/11/2017).
"Kita beruntung, tahun 2016-2017 Riau bisa dikatakan bebas asap. Selain kinerja tim penanggulangan karlahut yang sangat baik, juga keramahan alam yang memberikan curah hujan yang cukup sepanjang tahun," terang Deputi Bidang Penelitian dan Pengembangan, Haris Gunawan.
Menurutnya, keunikan permasalahan tata kelola gambut di Giam Siak adalah, perlakuan sekat kanal oleh perusahaan yang membuat kawasan gambut di lahan masyarakat menjadi tidak terairi dengan baik. Kawasan gambut di lahan masyarakat cenderung kering dan rawan terbakar di musim kering.
"Untuk itu perlu adanya koordinasi antara pemerintah desa dan satker terkait untuk meminta pihak perusahaan untuk berbagi air dengan kawasan gambut lahan masyarakat," terang Haris.
Dengan perlakuan sekat kanal oleh perusahaan, tambah Haris, jika musim kemarau, kawasan gambut perusahaan relatif basah. Sementara, kawasan gambut di lahan warga justru kering dan rawan terbakar.
Sebaliknya, jika musim hujan, pembukaan sekat kawasan gambut perusahaan membuat kawasan gambut lahan warga terendam banjir.
"Di titik titik tertentu, kita sudah membangun sekat sekat kanal agar ketersediaan air di musim kemarau mencukupi. Tahun 2017-2018 ini, sesuai intruksi Presiden, kita akan kembali membangun sekat sekat kanal," terang Haris.
Disingggung mengenai restorasi gambut yang sudah dilakukan BRG, Haris Gunawan mengatakan dari 900 ribu hektar kawasan gambut di Riau yang harus di restorasi, sudah lebih 200 ribu hektar yang sudah dilakukan restorasi oleh BRG.
"Namun ini kerja bersama. Bukan hanya kerja Badan Restorasi Gambut (BRG) saja. Untuk itu kita mengajak seluruh stakeholder bersama-sama melakukan restorasi gambut di Riau dan Indonesia pada umumnya untuk meminimalisasi terjadinya bencana kabu asap," imbuh Haris. (vie)
Berita Lainnya
Balai Riau Matangkan Usulan Tepian Narosa Jadi Proyek Strategis Nasional
Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Matangkan Usulan RUU Hak Cipta Bersama Konstituen
PLN UIP3B Sumatera Salurkan 40 Ekor Sapi dan 12 Ekor Kambing, Ribuan Masyarakat Rasakan Manfaatnya
FWK Minta Presiden Benahi MBG & Naikkan Subsidi Kebutuhan Pokok
Duka di Serdang Bedagai, Prajurit yang Gugur di Lebanon Itu Dikenal Sosok Ramah dan Pekerja Keras
Gerakan APPMBGI: Mengawal Gizi dari Desa Hingga Kota
Balai Riau Matangkan Usulan Tepian Narosa Jadi Proyek Strategis Nasional
Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Matangkan Usulan RUU Hak Cipta Bersama Konstituen
PLN UIP3B Sumatera Salurkan 40 Ekor Sapi dan 12 Ekor Kambing, Ribuan Masyarakat Rasakan Manfaatnya
FWK Minta Presiden Benahi MBG & Naikkan Subsidi Kebutuhan Pokok
Duka di Serdang Bedagai, Prajurit yang Gugur di Lebanon Itu Dikenal Sosok Ramah dan Pekerja Keras
Gerakan APPMBGI: Mengawal Gizi dari Desa Hingga Kota