Imbas Kasus Ginjal Akut, Buruh Demo Minta Menkes dan Kepala BPOM Dicopot
RIAUIN.COM - Puluhan buruh berunjuk rasa di depan Kantor Kementerian Kesehatan di Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (28/10). Mereka mulai menyampaikan orasi sejak pukul 10.30 WIB.
Mereka menyuarakan lima tuntutan. Pertama, buruh meminta pemerintah mengusut tuntas kasus meninggalnya 157 pasien anak akibat gangguan ginjal akut progresif atipikal (GGAPA) di Indonesia.
Kedua, mereka juga mendesak Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengundurkan diri. Jika tidak, pemerintah perlu mencopot mereka dari jabatannya.
"Kami meminta ketegasan pemerintah, hari ini juga memecat secara tidak hormat Menteri Kesehatan dan Kepala BPOM," kata Perwakilan Serikat Pekerja Nasional (SNP) Buya, Jumat (28/10).
Tuntutan ketiga, buruh mendesak agar dilakukan investigasi terpadu terhadap industri obat-obatan yang diduga menjadi penyebab penyakit GGAPA pada anak.
Keempat, pemerintah diminta membentuk tim pencari fakta nasional. Kelima, buruh meminta kejadian ini ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) GGAPA.
"Ini adalah sesuatu yang tidak bisa kita biarkan. Meninggalnya ratusan anak karena obat, itu pasti ada kelalaian," ujar Buya dikutip dari cnnindonesia.
Puluhan buruh berunjuk rasa di depan Kantor Kementerian Kesehatan di Kuningan,Jakarta Selatan, Jumat (28/10). Mereka menuntut Menkes dan Kepala BPOM mundur imbas kasus gangguan ginjal akut yang menyebabkan ratusan anak di Indonesia dunia (CNN Indonesia/Khaira Ummah)
Dalam mengawal demonstrasi ini, polisi mengerahkan setidaknya 184 personel.
"Ada 184 personel (yang dikerahkan)," kata Kapolsek Metro Setiabudi Kompol Agung Permana saat dihubungi.
Berdasarkan surat pemberitahuan aksi, kata Agung, massa buruh yang akan mengikuti aksi demo berkisar sebanyak 200 orang.
"Tapi yang hadir enggak sampai 200, ini sudah berlangsung," ucap Agung.
Agung menyampaikan tak ada penutupan maupun pengalihan arus lalu lintas akibat aksi demo buruh ini.
"Satu lajur tetap seperti biasa, enggak ada yang ditutup atau dialihkan," ujarnya.
Sejauh ini, Kementerian Kesehatan mencatat total ada 269 kasus gagal ginjal akut per 26 Oktober tersebar di 27 provinsi. Pasien yang meninggal dunia telah mencapai 157 orang. (*)
Berita Lainnya
Uang Rp 122 Miliar Menanti di Tepian Narosa, Syaratnya Satu: Stempel PSN!
Bayang-Bayang Kasus Hukum Suhardiman Amby di Balik Penciutan Dana Sponsor Pacu Jalur
Tak Mempan Operasi Lokal, Pemulihan Sungai Kuantan Menunggu Perintah Langsung Presiden Prabowo
Dirut PLN Kawal Langsung Kelistrikan Nasional Jelang HUT Ke-81 Kemerdekaan RI dari Posko NTT
Geliat Pacu Jalur Tak Berbekas di Kas Daerah: Potensi Pajak Hotel Rp1,44 M Menguap
Realisasi Retribusi Perikanan Baru 5,16 Persen, Pajak Sarang Walet Kuansing Masih Nol
Uang Rp 122 Miliar Menanti di Tepian Narosa, Syaratnya Satu: Stempel PSN!
Bayang-Bayang Kasus Hukum Suhardiman Amby di Balik Penciutan Dana Sponsor Pacu Jalur
Tak Mempan Operasi Lokal, Pemulihan Sungai Kuantan Menunggu Perintah Langsung Presiden Prabowo
Dirut PLN Kawal Langsung Kelistrikan Nasional Jelang HUT Ke-81 Kemerdekaan RI dari Posko NTT
Geliat Pacu Jalur Tak Berbekas di Kas Daerah: Potensi Pajak Hotel Rp1,44 M Menguap
Realisasi Retribusi Perikanan Baru 5,16 Persen, Pajak Sarang Walet Kuansing Masih Nol