Kanal

Pasar Higienis Pekanbaru Jadi Bangunan Mati Suri Akibat Pedagang Pilih Berjualan di Jalanan

RIAUIN.COM - Pengalihan fungsi bangunan bekas sekolah dasar menjadi Pasar Higienis di Jalan Teratai, Kota Pekanbaru, berujung sia-sia. Aset milik Pemerintah Kota Pekanbaru tersebut kini terbengkalai dan mengalami kerusakan parah di berbagai sudut akibat ditinggal kabur oleh para pedagang.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Sabtu (27/6/2026), kondisi fisik pasar tampak memprihatinkan dengan plafon bocor, sisa gipsum yang hilang dicuri, serta hilangnya fasilitas kelistrikan seperti saklar dan kotak MCB. Sampah yang menumpuk di area dalam gedung semakin mempertegas kesan kumuh pada bangunan yang awalnya diproyeksikan sebagai pusat ekonomi bersih di Provinsi Riau tersebut.

Asisten II Sekretariat Daerah Kota Pekanbaru Ingot Ahmad Hutasuhut menjelaskan bahwa proyek pasar ini sebenarnya sempat berjalan, namun tidak bertahan lama. Keberadaan pasar tumpah di luar area gedung menjadi pemicu utama kegagalan sterilisasi pedagang ke dalam fasilitas resmi.

"Pedagang di sana hanya bertahan sekitar enam bulan. Karena banyak pedagang lain yang tetap berjualan di luar, sepanjang Jalan Teratai, akhirnya pedagang yang di dalam ikut-ikutan keluar semua," ujar Ingot saat dikonfirmasi, Sabtu (27/6/2026).

Ingot menambahkan, tata kelola aset ini ke depan masih memerlukan kajian mendalam. Pemerintah daerah belum menelurkan keputusan final mengenai kelanjutan fungsi bangunan tersebut, meski pembahasannya sudah sempat bergulir di internal pemerintahan.

"Apakah nanti harus dimanfaatkan kembali atau seperti apa, itu perlu dikaji lagi. Penanganannya harus lintas OPD, jadi kami akan berkoordinasi dengan dinas terkait seperti Disperindag dan BPKAD," kata Ingot menjelaskan.

Masalah desain arsitektur juga dituding menjadi biang keladi keengganan masyarakat untuk berbelanja di dalam gedung. Alih fungsi dari fasilitas pendidikan dinilai dipaksakan tanpa merombak total aksesibilitas yang dibutuhkan oleh sebuah pasar modern.

Andi, salah seorang pedagang yang sempat mencicipi berjualan di dalam fasilitas tersebut, mengungkapkan bahwa struktur bangunan asli sekolah yang memiliki pagar pembatas justru membuat pasar menjadi terisolasi dari pandangan calon pembeli.

"Tempatnya tertutup dan berpagar, jadi masyarakat tidak tahu kalau di dalam itu ada aktivitas pasar. Akses keluar masuknya juga membingungkan karena ini dasarnya bangunan sekolah. Dipaksakan untuk tempat jualan, ya akhirnya sepi dan ambruk usahanya," kata Andi. (Bil)

Ikuti Terus Riauin

Berita Terkait

Berita Terpopuler