Oleh: Hendrianto.
KUANTAN Singingi tidak hanya soal gemuruh sorak-sorai di tepian sungai saat Pacu Jalur. Di pedalaman Kecamatan Hulu Kuantan, alam telah memahat sebuah mahakarya, Air Terjun Batang Koban.
Dengan tujuh tingkatan air terjun yang menjulang, tempat ini seharusnya menjadi "tambang emas" pariwisata Riau. Namun sayang, realitanya saat ini, Batang Koban sedang berada dalam fase "hidup segan mati tak mau".
Siapa pun yang pernah menjejakkan kaki di sana pasti sepakat bahwa Batang Koban adalah potongan surga. Gemuruh air yang jatuh dari ketinggian puluhan meter berpadu dengan orkestra alami dari kicauan burung hutan Sumatera.
Di sini, pecinta burung bisa menemukan spesies eksotis yang mulai langka, menjadikan kawasan ini bukan hanya tempat berwisata, tapi laboratorium alam yang tak ternilai harganya.
Kita tidak boleh amnesia sejarah. Pada masa pemerintahan Bupati Sukarmis hingga Bupati Mursini, Batang Koban adalah primadona. Wisatawan lokal maupun luar daerah berbondong-bondong datang.
Saat itu, sentuhan pembangunan sarana pendukung terasa nyata. Tangga-tangga semen dibangun untuk memudahkan akses antar tingkat, memberikan rasa aman bagi pengunjung.
Namun, memasuki masa pemerintahan Drs. Suhardiman Amby saat ini, seolah ada garis pemisah antara potensi dan kebijakan. Batang Koban tampak seperti anak tiri yang kehilangan pengasuhnya. Tidak ada lagi sentuhan pembangunan yang berarti.
Fasilitas yang dulu megah kini mulai dimakan usia, tanpa ada upaya renovasi atau peningkatan infrastruktur yang signifikan. Masalah utama yang mencekik napas pariwisata Batang Koban adalah aksesibilitas.
Hingga hari ini, satu-satunya cara untuk mencapai lokasi adalah melalui jalur sungai menggunakan perahu mesin (pompong). Bagi sebagian orang, ini mungkin petualangan. Namun bagi keluarga yang membawa anak kecil atau wisatawan yang mengutamakan keselamatan, jalur sungai menimbulkan rasa was-was.
Biaya sewa perahu yang tidak murah serta risiko keamanan air sungai yang tidak menentu menjadi tembok penghalang yang tebal bagi kunjungan massal.
Sudah saatnya Pemerintah Kabupaten Kuansing berhenti berwacana dan mulai membangun akses jalan darat menuju Air Terjun Batang Koban.
Jalan darat akan memangkas biaya perjalanan secara drastis, membuat objek wisata ini terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.
Wisatawan tidak perlu lagi bertaruh nyawa di jalur sungai jika cuaca buruk melanda. Dengan adanya jalan darat, usaha mikro seperti warung, dan jasa pemandu wisata di sekitar lokasi akan tumbuh subur, meningkatkan PAD dan kesejahteraan warga Hulu Kuantan.
Pemerintah Kabupaten Kuansing di bawah kepemimpinan Drs. Suhardiman Amby harus sadar bahwa pariwisata adalah investasi jangka panjang yang tidak akan habis seperti batu bara atau sawit. Membiarkan Batang Koban telantar tanpa akses jalan darat adalah sebuah kerugian besar bagi daerah.
Masyarakat menanti keberanian pemerintah untuk mendobrak keterisolasian ini. Jangan biarkan kemegahan tujuh tingkat Batang Koban hanya menjadi cerita pengantar tidur bagi generasi mendatang, sementara daerah lain sudah berlari kencang membangun infrastruktur wisatanya. Batang Koban butuh jalan, bukan sekadar janji di atas kertas. (***)