Oleh: Hendrianto.
HARI Pers Nasional (HPN) yang kita peringati setiap tanggal 9 Februari bukan sekadar seremonial tahunan untuk mengenang sejarah. Di tahun 2026 ini, HPN menjadi momentum bagi insan pers untuk mereposisi diri.
Saat ini, dunia tidak sedang baik-baik saja; kita berada di era polikrisis, di mana ketegangan geopolitik, fluktuasi ekonomi global, dan disrupsi teknologi terjadi secara simultan.
Dalam pusaran ketidakpastian ini, pers nasional harus berdiri tegak sebagai pilar pendukung pembangunan sekaligus benteng kedaulatan informasi.
Dunia saat ini diwarnai oleh rivalitas kekuatan besar yang memicu fragmentasi ekonomi dan politik. Bagi Indonesia, dampak geopolitik ini nyata: mulai dari gangguan rantai pasok hingga serangan siber dan propaganda asing yang masuk melalui celah digital.
Di sinilah pers diuji. Pers tidak boleh hanya menjadi pengamat pasif, tetapi harus menjadi instrumen ketahanan nasional. Ketika ruang publik dibanjiri oleh hoaks yang dirancang untuk memecah belah, pers wajib hadir sebagai clearing house—lembaga penjernih informasi yang memisahkan antara fakta dan manipulasi.
Pembangunan nasional tidak akan berjalan mulus tanpa adanya kepercayaan publik. Pers memiliki korelasi langsung dalam menjaga stabilitas ini melalui tiga peran strategis antara lain:, peran edukasi kebijakan. Pers menjelaskan kompleksitas tantangan global kepada masyarakat agar tidak terjadi kepanikan kolektif.
Peran selanjutnya sebagai kontrol sosial yang Konstruktif. Pers memastikan pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia tetap berada pada jalur yang benar, transparan, dan bebas dari praktik korupsi, bahkan di tengah tekanan ekonomi.
Serta Pers membangun optimisme Di tengah narasi global yang seringkali suram, pers bertugas menyoroti potensi dan keberhasilan domestik guna menjaga gairah investasi dan partisipasi masyarakat.
Menghadapi era geopolitik yang tidak menentu berarti juga menghadapi perang narasi. Kita tidak boleh membiarkan agenda pembangunan kita didikte oleh persepsi asing yang belum tentu sejalan dengan kepentingan nasional.
Pers nasional harus berani menyuarakan kepentingan Indonesia di panggung dunia. Namun, hal ini hanya bisa tercapai jika pers kita mandiri secara ekonomi dan berdaulat secara teknologi.
Keamanan nasional di masa depan tidak lagi hanya diukur dari kekuatan militer, tetapi juga dari ketangguhan informasinya. Pers yang kredibel adalah aset strategis negara. Tanpa pers yang sehat, pembangunan akan kehilangan arah dan masyarakat akan mudah terombang-ambing oleh kepentingan luar.
Selamat Hari Pers Nasional. Mari jadikan pena dan kamera sebagai senjata untuk menjaga persatuan, mengawal pembangunan, dan memastikan Indonesia tetap tangguh di tengah kegaduhan dunia. (***)