RIAUIN.COM- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pekanbaru menggelar Focus Group Discussion (FGD), Jumat (21/2/2024). Kegiatan ini dalam rangka menyusun laporan evaluasi pemilihan tahun 2024.
Kegiatan yang diikuti pers, penggiat dan pemantau membahas mengenai berbagi permasalahan dan kendala yang dihadapi selama pelaksanaan Pileg dan Pilkada tahun 2024. Termasuk diantaranya rendahnya partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan Pemilihan.
"Kegiatan ini untuk menyusun laporan apa yang menjadi masukan peserta kita catatan untuk dilaporkan ke KPU RI agar pelaksanaan Pemilu kedepan menjadi perbaikan-perbaikan untuk lebih baik dan maksimal," kata anggota KPU Kota Pekanbaru, Rizky Abadi.
Berbagai masukan mulai dari tahapan pencalonan, pendataan pemilihan hingga partisipasi masyarakat menjadi catatan dan dilaporkan ke KPU RI, agar dalam pelaksanaan kedepan lebih baik dan proporsional. Tapi ada sebagian dari masukan peserta FGD sudah dilaksanakan.
Rizky mengakui lemahnya tahapan sosialisasi, khususnya di Lembaga Pemasyarakatan. Karena tidak sempat melaksanakan, tetapi beberapa kali sudah ke Lapas agar hak-hak politik warga binaan bisa terakomodir.
"Memang kemarin kami lupa melaksanakan sosialisasi di Lapas. Karena memang kami ada beberapa kali ke Lapas untuk melakukan penyusunan data pemilihan agar tidak ada warga binaan yang tidak terdata dalam peserta pemilih. Memang kami lupa untuk melakukan sosialisasi di sana," ujar Rizky.
Dalam sesi diskusi Rizky menyebutkan partisipasi pemilih di Pilkada tahun ini temasuk sangat buruk dari sebelumnya. Persentase partisipasi Pilkada pada 27 November lalu hanya 46%.
"Kalau dilihat dari persentase, Pekanbaru peringkat pertama partisipasi rendah di Riau. Untuk tingkat nasional kita pada peringkat ketiga," kata Rizky.
Dikatakannya, banyak faktor yang menyebabkan rendahnya partisipasi masyarakat. Namun, kondisi ini bukan saja tanggung jawab KPU semata tapi juga semua pihak termasuk Pemda.
Partisipasi ini, kata Rizky adalah tanggung jawab semua pihak. KPU akan fokus kepada tugas-tugasnya yang menjadi sorotan publik.
Sementara itu Anton Mersianto mengatakan, salah satu penyebab rendahnya partisipasi Pilkada di Riau yakni penempatan TPS. Sulitnya masyarakat menjangkau TPS membuat keengganan warga untuk memberikan hak suaranya.
Wartawan Riauin.com, Novita mengatakan rendahnya angka partisipasi masyarakat harusnya dari tahun ke tahun harusnya sudah menjadi pembelajaran bagi KPU. Tapi sejauh ini tidak ada upaya maksimal yang dilakukan penyelenggaran Pemilu.
"Harusnya sosialisasi dilakukan selama 5 tahun. Pembelajaran politik bisa dilakukan langsung ke masyarakat dengan mendatangi majelis taklim, sekolah dan lewat forum RT/RW. Ini untuk meminimalisir kecurangan dan politik uang," ujarnya.
Hadir dalam acara tersebut, Komisioner KPU Pekanbaru, Siti Syamsiah, Salmon Daliyoto, Arya Guna Saputra dan moderator dalam FGD kali ini mantan anggota KPU Pekanbaru Destri Antoni.
Sementara di antara para peserta tampan mantan ketua KPU Pekanbaru Anton Mersianto, mantan Ketua KPU Kampar, mantan anggota Bawaslu Kampar Witrayeni. -vie