PILIHAN
Menunggu Palu Hakim, Membaca Langkah Catur Mukhlisin
10 September 2026
Mahasiswa KKN Edukasi Etika Bermedia Sosial bagi Siswa SD di Benai Kecil
08 September 2026
Mahasiswa KKN Kelompok 81 Edukasi Anak TK Pentingnya Menabung Sejak Dini
08 September 2026
SBY Minta Tak Diusik, PDIP: Itu Gejala Post Power Syndrome
Jakarta, Riauin.com - Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berpesan untuk tidak diganggu saat berkampanye pada Januari 2019 mendatang. Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin heran dengan pesan itu.
Direktur Program Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Aria Bima, mengaku tidak mengetahui maksud dan kepada siapa pernyataan mantan Presiden ke-6 RI itu dilontarkan. Namun, menurutnya pesan itu menunjukkan gejala post power syndrome atau sindrom pensiun SBY.
"Meskipun SBY bukan caleg maupun capres. Jadi, diksi semacam itu, cenderung ditanggapi sebagai ekspresi lebay, sebagaimana yang selama ini erat dengan tampilan curhatnya. Jelas SBY nikmat dalam curhat-curhat, begitu gejala post power syndrome," ujar Direktur Program Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Aria Bima, saat dihubungi, Jumat (21/12/2018).
Gejala post power syndrome memang kerap menyerang orang yang pernah memegang jabatan penting, gejala itu muncul jika dia tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan atau tidak dimintai pendapat. Bisa juga rasa curiga dan tersinggung muncul ketika saran atau pendapatnya tidak dijalankan.
Aria juga menilai, pesan SBY yang tidak ingin diganggu saat berkampanye, seolah menunjukkan ketidakpercayaan diri sang jenderal. Dia berpandangan, hal itu juga mengesankan SBY meminta untuk dihormati selayaknya masih menjabat presiden.
"Pernyataan SBY dalam kampanye jangan diganggu, terkesan tidak percaya diri dan menempatkan diri seolah-olah masih menjabat presiden yang harus dihormati. Pilihan diksi jangan diganggu mengisyaratkan kebutuhan untuk dihormati," katanya.
Sebelumnya, usai bertemu dengan capres Prabowo Subianto di kediamannya, SBY menggelar jumpa pers. Dalam jumpa pers itu, dia mengungkapkan bahwa partainya akan intensif berkampanye mulai Januari 2019. Dia kemudian berpesan untuk tidak diganggu.
Politikus PDIP itu pun menyayangkan sikap SBY itu. Aria lantas menyarankan SBY untuk belajar banyak dari Prabowo yang dinilainya tidak banyak mengeluh seperti SBY.
"SBY masih spt yang dulu, bayak mengeluh kata 'Bung Karno orang terlalu banyak mengeluh tanda jiwanya lemah'. Sebaiknya SBY perlu belajar banyak ke Pak Prabowo yang lebih punya jiwa sportif dalam berkompetisi," pungkas Aria. (int/nol)
Direktur Program Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Aria Bima, mengaku tidak mengetahui maksud dan kepada siapa pernyataan mantan Presiden ke-6 RI itu dilontarkan. Namun, menurutnya pesan itu menunjukkan gejala post power syndrome atau sindrom pensiun SBY.
"Meskipun SBY bukan caleg maupun capres. Jadi, diksi semacam itu, cenderung ditanggapi sebagai ekspresi lebay, sebagaimana yang selama ini erat dengan tampilan curhatnya. Jelas SBY nikmat dalam curhat-curhat, begitu gejala post power syndrome," ujar Direktur Program Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Aria Bima, saat dihubungi, Jumat (21/12/2018).
Gejala post power syndrome memang kerap menyerang orang yang pernah memegang jabatan penting, gejala itu muncul jika dia tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan atau tidak dimintai pendapat. Bisa juga rasa curiga dan tersinggung muncul ketika saran atau pendapatnya tidak dijalankan.
Aria juga menilai, pesan SBY yang tidak ingin diganggu saat berkampanye, seolah menunjukkan ketidakpercayaan diri sang jenderal. Dia berpandangan, hal itu juga mengesankan SBY meminta untuk dihormati selayaknya masih menjabat presiden.
"Pernyataan SBY dalam kampanye jangan diganggu, terkesan tidak percaya diri dan menempatkan diri seolah-olah masih menjabat presiden yang harus dihormati. Pilihan diksi jangan diganggu mengisyaratkan kebutuhan untuk dihormati," katanya.
Sebelumnya, usai bertemu dengan capres Prabowo Subianto di kediamannya, SBY menggelar jumpa pers. Dalam jumpa pers itu, dia mengungkapkan bahwa partainya akan intensif berkampanye mulai Januari 2019. Dia kemudian berpesan untuk tidak diganggu.
Politikus PDIP itu pun menyayangkan sikap SBY itu. Aria lantas menyarankan SBY untuk belajar banyak dari Prabowo yang dinilainya tidak banyak mengeluh seperti SBY.
"SBY masih spt yang dulu, bayak mengeluh kata 'Bung Karno orang terlalu banyak mengeluh tanda jiwanya lemah'. Sebaiknya SBY perlu belajar banyak ke Pak Prabowo yang lebih punya jiwa sportif dalam berkompetisi," pungkas Aria. (int/nol)
Berita Lainnya
Beredar Kabar Bupati Kuansing Nonaktif Bakal Bongkar Dugaan Pungutan PPPK Miliaran Rupiah ke KPK
Menyilangkan Faksi di Hari Merdeka: Rekonsiliasi Politik Kuansing di Lapangan Limuno
PLN UPT Pekanbaru Gelar Simulasi Tanggap Darurat Objek Vital Nasional Sambut Masa Siaga Kemerdekaan RI ke-81
Tim SAR Gabungan Temukan Jasad Remaja 13 Tahun yang Hanyut di Sungai Siak Depan Taman Singapura
Polisi Masuk Gedung Dewan: Jejak Gelap APBD Kuansing 2025 Mulai Diurai
Validasi Teriakan Aktivis dari Balik Sel: Skandal APBD Kuansing Akhirnya Diusut KPK
Beredar Kabar Bupati Kuansing Nonaktif Bakal Bongkar Dugaan Pungutan PPPK Miliaran Rupiah ke KPK
Menyilangkan Faksi di Hari Merdeka: Rekonsiliasi Politik Kuansing di Lapangan Limuno
PLN UPT Pekanbaru Gelar Simulasi Tanggap Darurat Objek Vital Nasional Sambut Masa Siaga Kemerdekaan RI ke-81
Tim SAR Gabungan Temukan Jasad Remaja 13 Tahun yang Hanyut di Sungai Siak Depan Taman Singapura
Polisi Masuk Gedung Dewan: Jejak Gelap APBD Kuansing 2025 Mulai Diurai
Validasi Teriakan Aktivis dari Balik Sel: Skandal APBD Kuansing Akhirnya Diusut KPK