PILIHAN
Menunggu Palu Hakim, Membaca Langkah Catur Mukhlisin
10 September 2026
Mahasiswa KKN Edukasi Etika Bermedia Sosial bagi Siswa SD di Benai Kecil
08 September 2026
Mahasiswa KKN Kelompok 81 Edukasi Anak TK Pentingnya Menabung Sejak Dini
08 September 2026
Ijtimak Ulama di Balik Kegagalan Prabowo Menggaet Yenny Wahid
Jakarta, Riauin.com - Prabowo Subianto gagal meraih dukungan dari salah satu tokoh Nahdlatul Ulama Yenny Wahid. Putri Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu pada Rabu (26/9), menyatakan dukungan kepada pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin dalam Pilpres 2019.
Dukungan ini sekaligus meruntuhkan klaim koalisi Prabowo bahwa Yenny masuk anggota Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Uno.
Prabowo bukannya tanpa usaha. Tercatat beberapa kali dia bertemu dan berdiskusi dengan Yenny. Saat bertandang ke rumah mendiang Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, Prabowo bahkan mengatakan merasa nyaman dengan NU.
Gerilya Prabowo tak membuahkan hasil. Kegagalan merangkul Yenny dan keluarga Gus Dur itu menurut pengamat politik dari Universitas Padjajaran, Firman Manan tak lepas dari keberadaan forum itjimak ulama.
Hasil itjimak ulama beberapa waktu lalu telah menyatakan dukungan pada Prabowo-Sandi. Di forum itu Prabowo-Sandi juga menandatangani kontrak politik atau Pakta Integritas terkait sejumlah hal.
Salah satu poin Pakta Integritas itu adalah melakukan rehabilitasi dan menjamin kepulangan Rizieq Shihab yang kini masih berada di Arab Saudi.
Menurut Firman, ada perbedaan antara ulama yang bergabung dalam itjimak dengan ulama yang merepresentasikan NU. Perbedaan inilah yang menjadi faktor gagalnya dukungan NU tersebut.
"Termasuk perbedaan dalam ide dan gagasannya. Jadi ya logis jika kekuatan besar NU cenderung mendukung Jokowi-Ma'ruf," ujar Firman kepada wartawan.
Terlebih, lanjut Firman, Ma'ruf Amin pernah menjabat Rais Aam PBNU. Sementara dukungan para ulama yang berada dalam itjimak ulama dianggap tak mewakili kepentingan NU.
Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Rafif Pamenang Imawan meyakini keberadaan Yenny Wahid dapat berpengaruh signifikan dalam perolehan suara Jokowi-Ma'ruf. Sebab, menurut Rafif, Yenny mencerminkan ketokohan besar yang dibutuhkan dalam memengaruhi massa.
Yenny disebut Rafif mencerminkan Gus Dur. Sebaliknya, di kubu Prabowo, Rafif memandang tak ada sosok yang mencerminkan ketokohan besar.
Ia menilai forum itjimak ulama tak mencerminkan ketokohan kuat serupa Gus Dur maupun ulama NU lainnya.
Ijtimak ulama juga dinilai tak mencerminkan dukungan ormas dengan jumlah massa dan simpatisan besar seperti NU.
Rafif mengakui ada peran besar Rizieq Shihab dalam ijtimak ulama. Tetapi Rafif menyebut sosok Rizieq tak mencerminkan tokoh-tokoh besar lain, selain ormas FPI yang ia pimpin. Massa FPI pun disebut Rafif tak sebesar NU.
"Itjimak ulama ini tidak memberi dukungan yang signifikan karena orang di dalamnya tidak mencerminkan tokoh. Contoh Yenny ya mencerminkan Gus Dur, sementara Habib Rizieq ya mencerminkan FPI. Jadi ya itjimak ulama ini mewakili FPI bukan NU," terangnya.
Prabowo sebenarnya juga didukung oleh tokoh dari ormas besar Muhammadiyah, Dahnil Anzar.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah itu menjabat sebagai juru bicara tim pemenangan Prabowo-Sandi. Akan tetapi ketokohan Dahnil pun diragukan oleh Firman Manan.
Menurut Firman, sosok Dahnil 'hanya' mewakili tokoh muda Muhammadiyah, bukan level elite yang sangat dihormati.
Hal lain, kata Firman, Muhammadiyah selama ini cenderung mengambil jalan tengah dalam kontestasi politik di Indonesia.
"Tidak seolah-olah ada Dahnil, kemudian warga Muhammadiyah dukung Prabowo-Sandi. Dari waktu ke waktu pilihan politik Muhammadiyah tetap di tengah saja," katanya.(int/nol)
Dukungan ini sekaligus meruntuhkan klaim koalisi Prabowo bahwa Yenny masuk anggota Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Uno.
Prabowo bukannya tanpa usaha. Tercatat beberapa kali dia bertemu dan berdiskusi dengan Yenny. Saat bertandang ke rumah mendiang Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, Prabowo bahkan mengatakan merasa nyaman dengan NU.
Gerilya Prabowo tak membuahkan hasil. Kegagalan merangkul Yenny dan keluarga Gus Dur itu menurut pengamat politik dari Universitas Padjajaran, Firman Manan tak lepas dari keberadaan forum itjimak ulama.
Hasil itjimak ulama beberapa waktu lalu telah menyatakan dukungan pada Prabowo-Sandi. Di forum itu Prabowo-Sandi juga menandatangani kontrak politik atau Pakta Integritas terkait sejumlah hal.
Salah satu poin Pakta Integritas itu adalah melakukan rehabilitasi dan menjamin kepulangan Rizieq Shihab yang kini masih berada di Arab Saudi.
Menurut Firman, ada perbedaan antara ulama yang bergabung dalam itjimak dengan ulama yang merepresentasikan NU. Perbedaan inilah yang menjadi faktor gagalnya dukungan NU tersebut.
"Termasuk perbedaan dalam ide dan gagasannya. Jadi ya logis jika kekuatan besar NU cenderung mendukung Jokowi-Ma'ruf," ujar Firman kepada wartawan.
Terlebih, lanjut Firman, Ma'ruf Amin pernah menjabat Rais Aam PBNU. Sementara dukungan para ulama yang berada dalam itjimak ulama dianggap tak mewakili kepentingan NU.
Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Rafif Pamenang Imawan meyakini keberadaan Yenny Wahid dapat berpengaruh signifikan dalam perolehan suara Jokowi-Ma'ruf. Sebab, menurut Rafif, Yenny mencerminkan ketokohan besar yang dibutuhkan dalam memengaruhi massa.
Yenny disebut Rafif mencerminkan Gus Dur. Sebaliknya, di kubu Prabowo, Rafif memandang tak ada sosok yang mencerminkan ketokohan besar.
Ia menilai forum itjimak ulama tak mencerminkan ketokohan kuat serupa Gus Dur maupun ulama NU lainnya.
Ijtimak ulama juga dinilai tak mencerminkan dukungan ormas dengan jumlah massa dan simpatisan besar seperti NU.
Rafif mengakui ada peran besar Rizieq Shihab dalam ijtimak ulama. Tetapi Rafif menyebut sosok Rizieq tak mencerminkan tokoh-tokoh besar lain, selain ormas FPI yang ia pimpin. Massa FPI pun disebut Rafif tak sebesar NU.
"Itjimak ulama ini tidak memberi dukungan yang signifikan karena orang di dalamnya tidak mencerminkan tokoh. Contoh Yenny ya mencerminkan Gus Dur, sementara Habib Rizieq ya mencerminkan FPI. Jadi ya itjimak ulama ini mewakili FPI bukan NU," terangnya.
Prabowo sebenarnya juga didukung oleh tokoh dari ormas besar Muhammadiyah, Dahnil Anzar.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah itu menjabat sebagai juru bicara tim pemenangan Prabowo-Sandi. Akan tetapi ketokohan Dahnil pun diragukan oleh Firman Manan.
Menurut Firman, sosok Dahnil 'hanya' mewakili tokoh muda Muhammadiyah, bukan level elite yang sangat dihormati.
Hal lain, kata Firman, Muhammadiyah selama ini cenderung mengambil jalan tengah dalam kontestasi politik di Indonesia.
"Tidak seolah-olah ada Dahnil, kemudian warga Muhammadiyah dukung Prabowo-Sandi. Dari waktu ke waktu pilihan politik Muhammadiyah tetap di tengah saja," katanya.(int/nol)
Berita Lainnya
Beredar Kabar Bupati Kuansing Nonaktif Bakal Bongkar Dugaan Pungutan PPPK Miliaran Rupiah ke KPK
Menyilangkan Faksi di Hari Merdeka: Rekonsiliasi Politik Kuansing di Lapangan Limuno
PLN UPT Pekanbaru Gelar Simulasi Tanggap Darurat Objek Vital Nasional Sambut Masa Siaga Kemerdekaan RI ke-81
Tim SAR Gabungan Temukan Jasad Remaja 13 Tahun yang Hanyut di Sungai Siak Depan Taman Singapura
Polisi Masuk Gedung Dewan: Jejak Gelap APBD Kuansing 2025 Mulai Diurai
Validasi Teriakan Aktivis dari Balik Sel: Skandal APBD Kuansing Akhirnya Diusut KPK
Beredar Kabar Bupati Kuansing Nonaktif Bakal Bongkar Dugaan Pungutan PPPK Miliaran Rupiah ke KPK
Menyilangkan Faksi di Hari Merdeka: Rekonsiliasi Politik Kuansing di Lapangan Limuno
PLN UPT Pekanbaru Gelar Simulasi Tanggap Darurat Objek Vital Nasional Sambut Masa Siaga Kemerdekaan RI ke-81
Tim SAR Gabungan Temukan Jasad Remaja 13 Tahun yang Hanyut di Sungai Siak Depan Taman Singapura
Polisi Masuk Gedung Dewan: Jejak Gelap APBD Kuansing 2025 Mulai Diurai
Validasi Teriakan Aktivis dari Balik Sel: Skandal APBD Kuansing Akhirnya Diusut KPK