Dominasi Kasus Kekerasan Seksual pada Anak di Riau Capai Ribuan Laporan dalam Tiga Tahun
RIAUIN.COM - Kekerasan seksual terus menjadi ancaman paling dominan bagi anak-anak di Provinsi Riau. Data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Riau mencatat setidaknya 1.691 kasus kekerasan seksual terjadi sepanjang periode 2023 hingga 2025. Angka tersebut mencakup mayoritas dari total 2.665 kasus kekerasan anak yang terdata di 12 kabupaten dan kota.
Tren laporan kasus fluktuatif selama tiga tahun terakhir. Pada 2023, tercatat 833 kasus dengan rincian 217 korban laki-laki dan 795 korban perempuan. Jumlah ini meningkat pada 2024 menjadi 951 kasus (306 korban laki-laki dan 766 korban perempuan), sebelum akhirnya turun menjadi 881 kasus pada 2025 (298 korban laki-laki dan 679 korban perempuan).
Kasi Pengaduan DP3AP2KB Riau Hendri Samantha merincikan bahwa dari berbagai jenis tindak kejahatan terhadap anak, kekerasan seksual menempati posisi tertinggi saban tahun.
"Pada 2023, jenis kekerasan seksual tercatat sebanyak 572 kasus, kekerasan psikis 197 kasus, fisik 135 kasus, penelantaran 36 kasus, eksploitasi 13 kasus, perdagangan orang (trafficking) 4 kasus, dan kategori lainnya 168 kasus," kata Hendri, Selasa (11/8/2026).
Peta sebaran jenis kekerasan tersebut relatif tidak banyak berubah pada tahun-tahun berikutnya.
"Tahun 2024, kekerasan seksual tetap berada di angka 572 kasus, disusul kekerasan psikis 193 kasus, fisik 142 kasus, penelantaran 72 kasus, eksploitasi 14 kasus, trafficking 9 kasus, serta kategori lain 77 kasus," ujar Hendri.
Sementara untuk 2025, angka kekerasan seksual tercatat 547 kasus, kekerasan psikis 169 kasus, fisik 131 kasus, penelantaran 60 kasus, eksploitasi 34 kasus, trafficking 4 kasus, dan kategori lainnya 198 kasus.
Guna menekan angka kejahatan terhadap anak, pemerintah provinsi terus menggalakkan program pencegahan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
"Kami rutin memberikan edukasi dan sosialisasi dari tingkat sekolah dasar, perguruan tinggi, hingga ke lapisan masyarakat umum," kata Hendri.
Selain upaya preventif, penanganan terhadap para korban juga dilakukan secara menyeluruh mencakup aspek psikologis hingga sosial.
"Kami juga menyediakan layanan pendampingan psikologi, asesmen, mediasi, penjangkauan, rehabilitasi sosial, pendampingan khusus bagi korban disabilitas, pemberdayaan ekonomi, hingga pemulihan spiritual," tutur Hendri. (Bil)
Berita Lainnya
Suhu Udara Riau Tembus 34 Derajat Celsius, BMKG Perkirakan Cuaca Didominasi Berawan
Pemprov Riau Tuntaskan 7 Syarat Pembangunan Sekolah Rakyat Sebelum Temui Kemensos
Atasi Keresahan Warga Desa Danai Inhil, Tim Gabungan Pasang Perangkap Harimau Sumatera
Kernel Anjlok, Harga TBS Kelapa Sawit Swadaya Riau Tertekan Turun Jadi Rp3.874 per Kg
Baru Selesai Diperbaiki, Pemprov Riau Minta Truk Tonase Besar Tak Lewati Jalan Sontang-Duri
Pemprov Riau Anggarkan Perbaikan Eskalator Masjid Agung An-Nur pada 2027
Suhu Udara Riau Tembus 34 Derajat Celsius, BMKG Perkirakan Cuaca Didominasi Berawan
Pemprov Riau Tuntaskan 7 Syarat Pembangunan Sekolah Rakyat Sebelum Temui Kemensos
Atasi Keresahan Warga Desa Danai Inhil, Tim Gabungan Pasang Perangkap Harimau Sumatera
Kernel Anjlok, Harga TBS Kelapa Sawit Swadaya Riau Tertekan Turun Jadi Rp3.874 per Kg
Baru Selesai Diperbaiki, Pemprov Riau Minta Truk Tonase Besar Tak Lewati Jalan Sontang-Duri
Pemprov Riau Anggarkan Perbaikan Eskalator Masjid Agung An-Nur pada 2027