DPRD Riau Minta Distribusi Minyakita di Pekanbaru Segera Dievaluasi
RIAUIN.COM - Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Pekanbaru mulai mengeluhkan pembengkakan biaya produksi akibat hilangnya pasokan minyak goreng bersubsidi, Minyakita, di pasaran. Kondisi yang berlangsung sejak awal April 2026 ini memaksa para pedagang beralih ke minyak goreng nonsubsidi yang harganya jauh lebih tinggi.
Lonjakan beban operasional dirasakan langsung oleh Alia, seorang pengusaha ayam geprek di kawasan Arengka. Ia menyebutkan bahwa ketiadaan stok Minyakita di tingkat pengecer membuat ia harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli minyak goreng kemasan premium agar tetap bisa berjualan.
"Stok sangat sulit didapat di banyak toko. Kalaupun ada, harganya sudah melampaui ketentuan pemerintah. Ini sangat menyulitkan kami yang modalnya terbatas," ujar Alia saat ditemui, Jumat (10/4/2026).
Kesulitan serupa dialami Iwan, seorang pedagang gorengan, yang mengaku margin keuntungannya terus tergerus. Penggunaan minyak goreng nonsubsidi menjadi pilihan terakhir meski konsekuensinya adalah penurunan laba harian, mengingat harga jual makanan di tingkat konsumen sulit untuk dinaikkan secara mendadak.
Di sisi lain, Abbas yang mengelola usaha keripik di Pekanbaru menilai ketergantungan UMKM terhadap Minyakita sangat tinggi karena harganya yang lebih ekonomis dibanding minyak curah. Namun, ketersediaan yang tidak menentu dalam dua pekan terakhir membuat stabilitas usahanya terganggu.
Merespons fenomena ini, anggota Komisi II DPRD Riau Hardi Candra menyatakan bahwa laporan mengenai kelangkaan komoditas tersebut sudah mulai meningkat. Ia menekankan perlunya evaluasi pada rantai distribusi guna memastikan pasokan kembali normal di tingkat pasar rakyat.
"Kami meminta instansi terkait segera melakukan langkah taktis di lapangan. Kelancaran distribusi harus diprioritaskan, terutama untuk melindungi kelompok masyarakat bawah dan pelaku usaha kecil agar tidak semakin terbebani ekonomi," tutur Hardi Candra.
Hingga saat ini, pantauan di sejumlah pasar tradisional menunjukkan harga Minyakita telah menembus di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Jika pasokan tidak segera dipulihkan, dikhawatirkan akan terjadi efek domino terhadap kenaikan harga pangan olahan lainnya di Pekanbaru. (*)
Berita Lainnya
KPK Buru Sisa Rp1 Miliar Uang Petani Sawit Kuansing, Asisten I Kembali Diperiksa
Perkuat Keandalan Listrik Riau, PLN Ganti CT 150 kV di GI Balai Pungut
OTT Kuansing: Warganet Desak KPK Seret Tersangka Baru di Kasus Suap Jabatan dan Lahan
Perjuangan Sejak Jadi Wabup Terwujud, Proyek Sekolah Rakyat Kuansing Besutan Mukhlisin Capai 82 Persen
Bupati Kuansing Suhardiman Amby Ditahan KPK, Netizen Soroti Pernyataan Lama 'Siapkan Tiang Gantungan'
PLN Nyalakan Harapan, Puluhan Pelajar MTsN 2 Payakumbuh Terima Beasiswa Cahaya Pintar dan Edukasi Bahaya Listrik
KPK Buru Sisa Rp1 Miliar Uang Petani Sawit Kuansing, Asisten I Kembali Diperiksa
Perkuat Keandalan Listrik Riau, PLN Ganti CT 150 kV di GI Balai Pungut
OTT Kuansing: Warganet Desak KPK Seret Tersangka Baru di Kasus Suap Jabatan dan Lahan
Perjuangan Sejak Jadi Wabup Terwujud, Proyek Sekolah Rakyat Kuansing Besutan Mukhlisin Capai 82 Persen
Bupati Kuansing Suhardiman Amby Ditahan KPK, Netizen Soroti Pernyataan Lama 'Siapkan Tiang Gantungan'
PLN Nyalakan Harapan, Puluhan Pelajar MTsN 2 Payakumbuh Terima Beasiswa Cahaya Pintar dan Edukasi Bahaya Listrik