Bencana Air Pasang, Ribuan Hektar Lahan Sawah di Sei Upih Pelalawan Terancam Gagal Panen
Lahan sawah di Desa Sei Upih yang terendam air laut.
RIAUIN.COM - Ratusan petani padi di sejumlah desa di Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, mengeluhkan bencana air pasang yang melanda ribuan hektare lahan pesawahan. Akibat air pasang itu, mereka terancam gagal panen padi, karena lahan mereka terendam air asin.
Pantauan Riauin.com di lokasi, dari sembilan desa yang ada di Pulau Mendol (Penyalai), lahan terparah terdampak bencana air pasang adalah Desa Sei Upih, Sei Solok, Teluk Beringin dan Desa Teluk Bakau.
"Sekitar 1.200 hektar areal sawah di empat desa ini sudah digenangi air asin. Musim Utara berdampak buruk bagi petani padi di Pulau Mendol ini," kata Mantan Kades Sei Upih (2008-2020) Husaepa, Rabu (15/1/2025).
Dia menceritakan, Pulau Mendol dulunya merupakan daerah penghasil beras terbesar di Provinsi Riau. Meski tidak berada di daratan seperti lahan sawah pada umumnya, namun tanaman padi begitu mudah tumbuh dan menghasilan beras berkualitas tinggi di Pulau Mendol ini.

"Namun, sejak 10 tahun terakhir sekitar 300 meter daratan sudah tergerus akibat abrasi. Kalau kondisi tetap dibiarkan pemerintah, tak akan ada lagi masyarakat yang mau menanam padi. Harus dibangun turap pemecah ombak, agar air pasang tak masuk ke lahan pesawahan, cuma itu solusinya," jelas Husaepa.
Dia mengaku sudah berkali-kali menyampaikan persoalan ini kepada Kades, Camat dan bahkan Dinas Pertanian Pelalawan, namun belum ada solusi yang diberikan guna mengantisipasi persoalan air pasang ini.
"Kami berharap Pemerintah Pusat bisa menyelesaikan masalah yang dirasakan petani padi di Riau. Apalagi Pak Presiden Prabowo memiliki program unggulan terkait soal pertanian, dengan membuka jutaan hektar lahan pertanian di wilayah Timur. Kita di sini sudah ada lahan, tinggal mengatasi persoalan air pasang saja. Desa kita merupakan lumbung padi di Riau yang memiliki hamparan terluas berada di satu pulau," ujarnya.

Ketua Kelompok Tani Beringin Indah 3 Desa Sei Upih Hary Wibowo juga mengeluhkan persoalan tersebut. Dia menjelaskan, di tahun 2023, Balai Wilayah Sungai (BWS) III, Kementerian Pekerjaan Umum, sudah membangun pengaman pantai berupa batu disusun sepanjang 200 meter atau pemecah ombak. Namun hal itu belum mampu menahan air pasang yang sangat kuat masuk ke daratan.
"Apalagi saat musim angin utara dari Selat Malaka saat ini, air pasang sudah masuk ke areal pesawahan. Ribuan tanaman padi mati, karena terendam air asin," ujar Hary diamini Ketua RT 5 RW 3 Desa Sei Upih, Muhammad Ali.
Dikatakannya, pengerjaan pemecah ombak yang dikerjakan BWS III sepanjang 200 meter itu merupakan dana pokir dari anggota DPR RI Syahrul Aidi Maazat.
"Kami berterima kasih kepada Pak Syahrul yang sudah memperjuangkan pembangunan turap ini. Namun, kita berharap pemerintah pusat kembali membangun turap pemecah ombak ini, karena turap yang ada tak mampu menahan bencana air pasang," jelasnya.
"Kami butuh sekitar 5 km dibangun turap pemecah ombak agar bencana air pasang ini bisa diatasi. Sebab, Pulau Mendol ini berada di depan Selat Malaka yang setiap tahun musim angin utara yang sangat kuat," tambah Sudirman, salah seorang petani padi di Sei Upih.

Kades Sei Upih Muhammad Fauzi begitu pasrah melihat kondisi yang dirasakan ratusan petani padi di desanya. Dia mengaku sudah berusaha untuk menyampaikan persoalan ini ke Camat Kuala Kampar dan Dinas Pertanian Kabupaten Pelalawan, namun belum ada solusi yang didapatnya.
"Memang keinginan para petani dibangun turap pemecah ombak, tapi anggarannya kan sangat besar. Waktu saya sampaikan ke Dinas Pertanian Riau, disarankan untuk menanam pohon mangrove," kata Fauzi di Kantor Desa Sei Upih.
Bahkan, Fauzi mengeluhkan kondisi bangunan kantor desa yang sudah tidak layak pakai. Namun, sampai saat ini belum mendapat anggaran dari Pemkab Pelalawan untuk perbaikan.
"Saya sudah 5 tahun usulkan dana untuk perbaikan kantor desa ini, sampai sekarang belum dapat juga, apalagi membangun turap pemecah ombak yang anggarannya sangat besar. Kalau anggaran dari Kabupaten Pelalawan atau Provinsi Riau, rasanya sulit direalisasikan," keluh Fauzi sembari menunjuk lantai kantor desa yang sudah lapuk dan terancam ambruk.

Fauzi menjelaskan, sepertiga dari luas Pulau Mendol merupakan areal pertanian sawah. Dari 27 hektar luas pulau, sekitar 8 ribu hektar merupakan areal pesawahan. Sejak dulu, sebagian besar masyarakat mengandalkan hasil pertanian padi untuk kehidupan mereka.
"Pulau Mendol ini lebih dekat dengan Kabupaten Tanjung Balai Karimun, Provinsi Kepri. Kalau naik speedboat cuma 30 menit. Pulau ini juga berbatasan dengan Kabupaten Meranti. Sejak dulu perhatian Pemkab Pelalawan agak kurang, buktinya sampai sekarang akses jalan dan fasilitas lainnya juga belum memadai," pungkas Fauzi.(nal).
Berita Lainnya
Polres Pelalawan Gerebek Rumah di Ukui II, Seorang Buruh Diamankan Bersama Sabu, Ekstasi dan Ganja
PT Musim Mas Bangun Ruang Kelas TK di Pelalawan, Investasi Nyata Cetak Generasi Masa Depan
Polisi Tilang di Tempat Pengendara Penyerobot Antrean di Jalur Lintas Timur Pelalawan
Pangkalan Malako Cup III Resmi Dibuka Imustiar, 74 Tim Rebutkan Hadiah Rp40 Juta
Anggota DPRD Pelalawan Efrizon Salurkan 19 Ekor Sapi Kurban untuk Masjid di Pangkalan Kerinci
PT Musim Mas Salurkan 22 Ekor Sapi Qurban untuk Masyarakat dan Pekerja di Sekitar Operasional
Polres Pelalawan Gerebek Rumah di Ukui II, Seorang Buruh Diamankan Bersama Sabu, Ekstasi dan Ganja
PT Musim Mas Bangun Ruang Kelas TK di Pelalawan, Investasi Nyata Cetak Generasi Masa Depan
Polisi Tilang di Tempat Pengendara Penyerobot Antrean di Jalur Lintas Timur Pelalawan
Pangkalan Malako Cup III Resmi Dibuka Imustiar, 74 Tim Rebutkan Hadiah Rp40 Juta
Anggota DPRD Pelalawan Efrizon Salurkan 19 Ekor Sapi Kurban untuk Masjid di Pangkalan Kerinci
PT Musim Mas Salurkan 22 Ekor Sapi Qurban untuk Masyarakat dan Pekerja di Sekitar Operasional