Terapi Plasma Darah, Obat Covid-19 Sudah Masuk Uji Klinis Tahap Akhir
JAKARTA, RiauIN.com - Wakil Kepala LBM Eijkman David Handojo Muljono menyatakan terapi plasma konvalesen atau plasma darahuntuk mengobati pasien virus corona Covid-19 sudah memasuki fase akhir. Dia menyebut terapi itu sedang uji klinis di RSPAD Gatot Soebroto.
"Saya umumkan yang di Indonesia sudah memasuki fase akhir dilakukan di RSPAD. Dan di Universitas Indonesia saya kira juga sudah mulai dan beberapa tempat yang lain," ujar David, Selasa (30/6/2020).
Sejauh ini, David menuturkan hasil pengobatan Covid-19 dengan terapi plasma konvalesen relatif aman. Akan tetapi, dia menyampaikan pengobatan itu baru dilakukan dalam skala kecil, sporadik, dan tidak ada protokol pengobatannya.
Selain itu, dia menyampaikan terapi itu belum memiliki indikasi, target pasien, derajat penyakit, dosis, dan saat atau jadwal pemberiannya.
"Karena itulah FDA, WHO, perhimpunan penyakit Amerika Serikat, dan International Society of Blood Transfusion memperbolehkan, tetapi di dalam uji klinik," ujarnya.
Di sisi lain, David menjelaskan plasma mengandung albumin, beragam protein, antibodi, antiinflamasi, hingga cytogen. Setelah diteliti, dia menyebut plasma darat mengandung Neutralizing antibodies dan Immunomodulator.
"Jadi (Immunomodulator) mengembalikan ke jalan yang benar. Tadinya disregulasi maka dengan beberapa materi yang ada di plasma ini seperti Pro-inflammatory cytokines bisa dinetralisir, Complement dan lain-lain. Ini yang terjadi keuntungan dari pada plasma yang sedang akan kita uji coba," ujar David.
Berdasarkan riset yang dipublikasikan di JAMA, dia mengatakan terapi plasma konvalesen tidak memberikan hasil yang signifikan pada pasien dalam kondisi parah. Sedangkan penelitian dalam Journal Watch NEJM, dia menyatakan terapi itu dianjurkan untuk pasien yang belum parah.
"Inilah target kita not too early, not too late. Jadi kami akan memilih timingnya sebelum dia memasuki fase yang lebih parah, di mana sudah terjadi tanda-tanda mengarah kegawatan," ujarnya.
David menambahkan uji klinik terhadap terapi plasma konvalesen harus dilakukan untuk mengetahui secara pasti apakah mengandung antibodi spesifik atau tidak dan jumlah titernya.
"Kalau ada non spesifik dan titer rendah ada non neutralizing antibodi justru akan mencelakakan pasiennya," ujar David.
Lebih dari itu, dia menyebut non neutralizing bisa merangsang cytogen dan beberapa hal lain yang membahayakan.(nsv)
Berita Lainnya
Telkomsel Tanam 3.000 Mangrove di Pesisir Selatan, Perkuat Komitmen Jaga Lingkungan Berkelanjutan
SMANDA Menguasai Dunia, Jejak Alumni Perkuat Warisan 170 Tahun Sikolah Radjo
Gagal Hindari Kendaraan Lain, Travel Pekanbaru-Padang Masuk Jurang
Arus Kendaraan di Flyover Kelok 9 Padat, Skema Satu Arah Disiapkan
Enam Santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas Resmi Terima Ijazah
Arus Lalu Lintas Sumbar-Riau Lumpuh Total Akibat Longsor di Pangkalan, Masyarakat Diminta Cari Jalan Alternatif
Telkomsel Tanam 3.000 Mangrove di Pesisir Selatan, Perkuat Komitmen Jaga Lingkungan Berkelanjutan
SMANDA Menguasai Dunia, Jejak Alumni Perkuat Warisan 170 Tahun Sikolah Radjo
Gagal Hindari Kendaraan Lain, Travel Pekanbaru-Padang Masuk Jurang
Arus Kendaraan di Flyover Kelok 9 Padat, Skema Satu Arah Disiapkan
Enam Santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas Resmi Terima Ijazah
Arus Lalu Lintas Sumbar-Riau Lumpuh Total Akibat Longsor di Pangkalan, Masyarakat Diminta Cari Jalan Alternatif