PILIHAN
Akibat Karhutla, Pekanbaru dan Pelalawan Masih Berasap
PEKANBARU, Riauin.com - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau tak kunjung hilang. Jumat (23/8/2019) pagi asap di Kota Pekanbaru terasa sangat pekat.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mencatat hari ini memang ada 2 wilayah yang diselimuti asap yakni Pekanbaru dan Pelalawan.
"Hari ini Pekanbaru dan Pelalawan memang masih diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan," ujar Marzuki, Jumat (23/8/2019).
Ia mengatakan akibat kabut asap tersebut, jarak pandang juga menjadi sangat terbatas.
"Iya kabut asap membuat jarak pandang 2 wilayah yakni Pekanbaru dan Pelalawan terbatas. Pekanbaru jarak pandangnya 4 kilometer dan Pelalawan 2 Kikometer," jelasnya.
Sementara itu, untuk Dumai dan Inhu jarak pandangnya juga memang terbatas. Namun bukan disebabkan oleh asap, tapi karena udara kabur. "Untuk Inhu jarak pandangnya 4 kilometer dan Dumai 5 kilometer," cakapnya.
Dijelaskan Marzuki, udara kabur terjadi akibat adanya partikel-partikel yang menghalangi udara, sehingga terjadilah kabur.
"Kalau udara kabur ini memang hanya sebentar saja. Jika matahari tinggi udara pasti akan normal kembali. Namun kita akan terus lakukan pemantauan," katanya.(int/nol)
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mencatat hari ini memang ada 2 wilayah yang diselimuti asap yakni Pekanbaru dan Pelalawan.
"Hari ini Pekanbaru dan Pelalawan memang masih diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan," ujar Marzuki, Jumat (23/8/2019).
Ia mengatakan akibat kabut asap tersebut, jarak pandang juga menjadi sangat terbatas.
"Iya kabut asap membuat jarak pandang 2 wilayah yakni Pekanbaru dan Pelalawan terbatas. Pekanbaru jarak pandangnya 4 kilometer dan Pelalawan 2 Kikometer," jelasnya.
Sementara itu, untuk Dumai dan Inhu jarak pandangnya juga memang terbatas. Namun bukan disebabkan oleh asap, tapi karena udara kabur. "Untuk Inhu jarak pandangnya 4 kilometer dan Dumai 5 kilometer," cakapnya.
Dijelaskan Marzuki, udara kabur terjadi akibat adanya partikel-partikel yang menghalangi udara, sehingga terjadilah kabur.
"Kalau udara kabur ini memang hanya sebentar saja. Jika matahari tinggi udara pasti akan normal kembali. Namun kita akan terus lakukan pemantauan," katanya.(int/nol)
Berita Lainnya
Pemko Pekanbaru Siapkan Sanksi Tahan TPP bagi ASN Penunggak Pajak
Kepala Sekolah di Pekanbaru Terancam Sanksi Pidana jika Curang dalam SPMB 2026
Akurasi Data Bansos Pekanbaru Rendah, Pemko Andalkan PIC Tingkat RW
Pemko Pekanbaru Mulai Putus Massal Kabel Jaringan Ilegal
Proyek Saluran Bawah Tanah di Jalan Tuanku Tambusai Pekanbaru Ditargetkan Rampung Pekan Ini
Sepuluh Tim Medis Kawal Kepulangan Tiga Kloter Jemaah Haji di Bandara Pekanbaru
Pemko Pekanbaru Siapkan Sanksi Tahan TPP bagi ASN Penunggak Pajak
Kepala Sekolah di Pekanbaru Terancam Sanksi Pidana jika Curang dalam SPMB 2026
Akurasi Data Bansos Pekanbaru Rendah, Pemko Andalkan PIC Tingkat RW
Pemko Pekanbaru Mulai Putus Massal Kabel Jaringan Ilegal
Proyek Saluran Bawah Tanah di Jalan Tuanku Tambusai Pekanbaru Ditargetkan Rampung Pekan Ini
Sepuluh Tim Medis Kawal Kepulangan Tiga Kloter Jemaah Haji di Bandara Pekanbaru