Oleh: Hendrianto.
Rabu: 07:10:2026
SAMA-Sama Pegang Pena, Bedanya Beliau Pegang Stempel
Banyak jurnalis banting setir. Jadi politisi. Jadi pejabat.
Biasa itu. Tidak aneh.
Tapi pejabat yang satu ini beda. Beda kelas. Beda keringat.
Namanya Dr. Afni Zulkifli.
Sekarang beliau Bupati Siak. Perempuan pertama yang memimpin Negeri Istana itu.
Saya tidak kenal beliau secara pribadi. Ketemu langsung pun belum pernah.
Tapi sebagai sesama jurnalis, ada rasa bangga yang meletup di dada. Ada rasa respek yang dalam. Respek yang tidak bisa dibuat-buat.
Kita paham betul rasanya jadi jurnalis.
Ujung pena itu tajam. Tapi kadang membuat perut mules. Kita biasa mengejar berita, dikejar deadline, hingga dikejar orang yang tidak senang diberitakan.
Afni pernah melewati semua itu. Dari wartawan biasa, redaktur, sampai pimpin redaksi. Dapur pers sudah kenyang beliau rasakan.
Anak kayu pinggiran Sungai Siak ini paham betul aroma rakyat bawah. Beliau tahu rasanya suara kecil yang dibungkam. Beliau tahu rasanya penderitaan yang cuma jadi deretan angka di kertas koran.
Lalu beliau melangkah. Masuk ke lingkar kebijakan. Jadi Tenaga Ahli Menteri. Hingga akhirnya duduk di kursi nomor satu Siak.
Jalur yang terjal. Bukan karpet merah.
Banyak wartawan kalau sudah jadi pejabat, langsung lupa bau tinta. Gaya bicaranya berubah. Dulu kencang menuntut transparansi, begitu di dalam malah main tutup pintu.
Afni beda.
Jiwa wartawannya masih menyengat. Naluri membelanya tidak luntur. Beliau tidak cuma duduk manis di balik meja AC sambil menikmati kopi manis. Beliau turun. Pasang badan.
Melihat perjuangannya, saya membatin, ini baru alumni pers.
Tak cuma pandai mengkritik, tapi berani pasang dada waktu diberi kewenangan.
Tengok saja bagaimana beliau bertarung ke pusat.
Waktu Dana Bagi Hasil Migas Siak mau dipangkas secara tidak masuk akal oleh Kementerian Keuangan, Bu Bupati ini tidak tinggal diam. Beliau tidak manggut-manggut manut gaya pejabat biasa.
Beliau terbang ke Jakarta. Gedung Kemenkeu didatangi.
Di depan pejabat pusat, suaranya lantang mendesak agar data lifting dibuka transparan. Hitung-hitungannya harus jelas. Jangan sampai daerah kaya sumber daya alam justru makin miskin.
Bukan minta belas kasihan. Tapi menuntut hak. Menuntut keadilan.
Naluri wartawannya keluar lagi. Mengejar data, membongkar angka, dan mendesak transparansi sampai ke akar.
Minyaknya disedot habis untuk menopang energi nasional, tapi giliran minta hak daerah malah disuruh mengurut dada. Kalau bukan pejabat yang punya jiwa pejuang, pasti sudah menyerah di balik alasan kebijakan pusat. Tapi Afni tidak. Beliau pasang badan untuk tanah kelahirannya.
Ada rasa haru. Ada rasa jumawa yang sehat.
Bahwa jurnalis itu bukan cuma penonton di pinggir lapangan. Bukan cuma pencatat sejarah yang dilupakan. Kita bisa melatih diri jadi eksekutor yang tangguh.
Teruslah berjuang, Bu Bupati. Rebut kembali apa yang jadi hak rakyat Siak. Jangan pernah kendur menagih keadilan untuk daerahmu.
Pena di tanganmu mungkin sudah berganti stempel dinas. Tapi tolong, jangan pernah buang insting wartawan itu.
Teruslah mewawancarai nasib rakyat kecil. Teruslah mengejar keadilan yang terlambat.
Kami yang di lapangan cuma bisa angkat topi. Sambil berbisik bangga, itu kawan seprofesi kita. (***)
(Penulis merupakan jurnalis di riauin.com)