Laporan: Hendrianto.
RIAUIN.COM- Malam tadi, Rabu (16/9), eks Astaka MTQ Teluk Kuantan pecah. Lautan manusia tumpah ruah. Dari yang pakai sandal jepit sampai pejabat berbatik, semua kumpul jadi satu di alun-alun Taman Jalur. Tujuannya cuma satu. Nonton si cantik Intan Ladiva Marsya di layar raksasa.
Di tengah barisan depan, hadir Plt Bupati Kuansing H Mukhlisin yang duduk membaur bersama ribuan warga. Kehadirannya bukan sekadar formalitas. Mukhlisin ikut sibuk menggalang dukungan, memimpin gerakan tekan layar HP demi mengamankan vote untuk sang putri daerah.
Diva, begitu warga Kuansing menyapa putri daerahnya, sedang berdiri di panggung megah D’Academy 8 Indosiar di Jakarta. Tapi di Teluk Kuantan, rasanya seperti dia sedang menyanyi tepat di depan mata tetangganya sendiri.
Budak kelahiran Lubuk Jambi yang kini menetap di Desa Rumbio, Kari, Kecamatan Kuantan Tengah ini memang bukan kaleng-kaleng. Kesehariannya terbiasa mengasah cengkok melayu dan berbaur ramah di kampung. Hari ini, dia menjelma jadi harapan seluruh Riau.
Bukan cuma vokal yang dibawanya ke Jakarta, tapi juga marwah negeri. Di atas panggung megah itu, Diva menyelipkan keindahan gerak Tari Carano—tarian tradisi penghormatan khas Kuansing.
Langkah kakinya gemulai, tangannya menari anggun menjemput hormat para juri dan penonton se-Indonesia. Budaya Kuantan Singingi benar-benar dibawanya terbang tinggi.
Begitu giliran tampil solo membawakan lagu Terlena, Diva menyambar mik. Di Teluk Kuantan, waktu seperti berhenti sebentar. Suasana hening saat intro diputar. Lalu, begitu vokal melayu-dangdut Diva masuk, alun-alun mendadak bergemuruh.
Mata juri di Jakarta melotot. Warga di Kuansing menepuk dada bangga. Plt Bupati Mukhlisin terkesima melihat penampilan itu. Baginya, Diva bukan sekadar bernyanyi di kompetisi, tetapi sedang mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.
"Diva ini aset dan kebanggaan kita bersama. Dia tampil membawakan budaya Kuansing di tingkat nasional dengan sangat luar biasa. Tugas kita di daerah adalah bersatu, memberikan doa dan dukungan vote sebesar-besarnya agar langkah anak kita ini terus melaju," ujar Mukhlisin penuh semangat di tengah riuhnya suasana nobar.
Pujian pun mengalir deras dari meja dewan juri. "Penjiwaan kamu itu luar biasa, ekspresinya lepas dan smile voice-nya bikin lagu ini terasa hidup sekali," puji Soimah dengan gaya khasnya yang penuh penekanan.
Dewi Perssik tak mau kalah memberikan sanjungan. "Cengkok melayu-dangdut kamu itu luwes sekali, manja tapi tetap elegan di atas panggung. Kerapian vokal dan kontrol emosinya sangat pas," tutur sang penyanyi legendaris tersebut.
Namun, juri juga menyuntikkan nasihat berharga agar Diva tidak cepat berpuas diri. "Ingat Diva, persaingan ke depan bakal jauh lebih berat. Kamu harus tetap tenang, jangan berlebihan dalam mengekspresikan lagu, dan terus latih napas serta konsistensi cengkokmu di setiap babak," pesan juri mewanti-wanti.
Ingatan orang-orang masih segar saat dia menyapu panggung di babak sebelumnya lewat lagu Pria Idaman milik Rita Sugiarto. Malam ini, performanya makin matang.
Padahal persaingan di luar sana teramat keras. Ada Alexa asal Ciamis dan Clara asal Langkat yang perkasa dengan 37 Standing Ovation. Ada juga Ikhwan dari Polewali Mandar dengan 36 Standing Ovation, serta Bhita dari Pangkalpinang dan Zhifanna dari Pesisir Selatan yang mengintai ketat. Tapi Diva tidak kendor. Modal 34 Standing Ovation di kantong dibuktikannya malam itu.
Di depan layar nobar, jajaran Pemkab, tokoh masyarakat, sampai kerabat Diva sibuk mengetik di layar ponsel. Menggalang vote habis-habisan. Jempol seperti tidak ada lelahnya.
“ Ayo, siapa lagi yang menaikkan budak kita kalau bukan kita sendiri,” kata seorang bapak di barisan belakang celetuk santai sambil mengisap rokoknya.
Usaha tak mengkhianati hasil. Saat pengumuman penutup dibacakan, sorak-sorai pecah hingga ke langit Kuansing. Diva resmi lolos! Tiket menuju babak Top 13 berhasil dicengkeramnya erat-erat.
Di Jakarta, Diva tersenyum lega.
Di Teluk Kuantan, doa dan kebanggaan membumbung tinggi ke udara. Panggung DA8 boleh milik Indosiar. Tapi malam itu, detak jantungnya ada di alun-alun Teluk Kuantan. (***)