RIAUIN.COM - Arus modal dalam negeri menjadi motor utama penggerak investasi di Provinsi Riau pada awal tahun ini. Berdasarkan catatan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Riau, realisasi investasi pada triwulan I-2026 menyentuh angka Rp 12,85 triliun, di mana porsi penanaman modal dalam negeri melampaui capaian modal asing.
Dari total realisasi tersebut, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyumbang Rp 9,6 triliun. Angka ini menempatkan Riau di posisi ke-10 nasional untuk kategori tersebut. Sementara itu, Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sebesar 197,01 juta dollar AS atau setara dengan Rp 3,25 triliun.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Riau Vera Angelika menjelaskan bahwa performa ini mengukuhkan posisi Riau sebagai destinasi investasi utama di Pulau Sumatera. Di tingkat regional, Bumi Lancang Kuning menempati peringkat ketiga, baik untuk kategori PMDN maupun PMA.
"Realisasi ini menunjukkan daya tarik Riau bagi para pemodal tetap terjaga, terutama untuk memperkuat struktur ekonomi di wilayah Sumatera," ujar Vera Angelika di Pekanbaru, Rabu (13/5/2026).
Secara spasial, Kota Dumai dan Kota Pekanbaru masih menjadi magnet terkuat bagi para investor. Dumai memimpin dengan serapan investasi mencapai Rp 3,05 triliun atau sekitar 23,7 persen dari total realisasi provinsi. Pekanbaru membuntuti di posisi kedua dengan raihan Rp 2,55 triliun. Selain kedua kota tersebut, kontribusi signifikan juga datang dari Kabupaten Indragiri Hilir, Rokan Hilir, dan Pelalawan yang masing-masing berhasil mencatatkan investasi di atas Rp 1 triliun.
Dilihat dari sisi sektoral, industri pengolahan makanan menjadi sektor yang paling banyak menyerap modal dengan nilai Rp 2,82 triliun. Sektor penopang lain yang menunjukkan tren positif adalah perkebunan, industri kimia, serta perumahan dan kawasan industri.
Untuk modal asing, Singapura masih menjadi mitra dagang dan investor terbesar bagi Riau dengan kontribusi mencapai 70,77 persen dari total PMA, atau setara Rp 2,3 triliun. Selain Singapura, aliran modal asing juga tercatat berasal dari Malaysia dan beberapa negara kepulauan seperti Bermuda dan Seychelles.
Pemerintah Provinsi Riau kini tengah mengalihkan fokus pada penguatan sektor hilirisasi. Vera Angelika menyebutkan, identifikasi terhadap produk-produk hilir dari perusahaan yang ada terus dilakukan untuk menciptakan nilai tambah ekonomi serta mendukung konsep ekonomi hijau.
Beberapa proyek infrastruktur strategis nasional yang tengah berjalan diyakini akan menjadi katalisator pertumbuhan investasi pada triwulan berikutnya. Proyek tersebut antara lain pembangunan jalan tol ruas Rengat-Pekanbaru, pengembangan Kawasan Industri Buruk Bakul di Bengkalis, hingga proyek energi terbarukan berupa pembangkit listrik tenaga surya di Pulau Rangsang.
Melalui perbaikan kualitas layanan publik dan kemudahan perizinan, iklim investasi di Riau diharapkan tetap kondusif guna memperluas lapangan kerja bagi masyarakat setempat. (Bil)