Kanal

Bukan Urusan Puak

 

Oleh: Hendrianto

DUNIA medsos Riau lagi berisik. Gara-gara video pendek. Isinya: Iwan Pansa dan Suparman. Dua tokoh ini bukan orang sembarangan. Iwan Pansa itu Ketua MPC Pemuda Pancasila Pekanbaru. Suparman? Mantan Bupati Rokan Hulu. Tokoh senior.

Kejadiannya di Kafe Wareh Kopi. Jalan Arifin Achmad. Sabtu sore pekan lalu. Dalam video itu, Iwan berdiri. Suaranya tinggi. Dia membentak Suparman yang lagi duduk santai bareng Taufik Tambusai.

Namanya juga video viral. Bumbunya macam-macam. Ada yang narik-narik ke urusan suku. Ada yang bilang marwah Melayu terusik. Bahaya. Kalau sudah urusan "puak", suasana bisa panas sampai ke akar rumput.

Padahal, dalam adat kita diajarkan: “Adat hidup berkasih sayang, adat mati dalam iman.” Perselisihan adalah hal manusiawi, tapi jangan sampai merusak tatanan persaudaraan yang sudah lama terjaga.

Untungnya, banyak yang cepat "mendinginkan" suasana.

Raja Asri Iqbal, Ketua Pemuda Melayu Nusantara (PMN) Riau, langsung buka suara. Pesannya jelas: Bijaklah. Ini masalah pribadi. Jangan bawa-bawa nama puak Melayu. 

Ingat petuah, “Yang kurik itu kundi, yang merah itu saga. Yang baik itu budi, yang indah itu bahasa.” Kalau bahasanya sudah keras, tentu indahnya hilang.

Sama juga kata Edi Candra. Dia Ketua Barisan Muda Kuantan Singingi Bersatu (BMKSB). Edi sudah nonton videonya berkali-kali.

Kesimpulannya? Tidak ada penghinaan suku. "Mereka ini sama-sama orang Melayu," kata Edi. Jadi, buat apa bawa nama suku?

Iwan Pansa pun bicara. Dia tidak mengelak. "Itu memang saya," katanya jujur.

Tapi dia tegas soal satu hal: Itu urusan pribadi. Titik. Iwan merasa aneh kalau dituduh menghina Melayu. Dia sendiri Melayu Deli. Istrinya Melayu Rohul. Mosok dia menghina kaumnya sendiri? Logikanya tidak masuk.

Soal kata-kata kasar dan emosi yang meluap, kita jadi teringat pesan abadi Raja Ali Haji dalam Gurindam 12 pasal yang keempat:

"Hati itu kerajaan di dalam tubuh,
Jikalau zalim segala anggota pun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah,
Datanglah daripadanya beberapa anak panah".

Kalau hati sudah panas, lisan pun jadi tak terkendali. Iwan mengaku khilaf. Dia emosi karena merasa terancam saat lawan bicaranya tiba-tiba berdiri.

Memang benar kata orang tua-tua: “Apabila lidah sudah terlanjur, emas setahil tidak terbayar.” Luka karena lisan sering kali lebih dalam daripada luka karena tangan.

Namun, urusan ternyata tidak berhenti di kata maaf untuk publik. Pihak Suparman rupanya tidak tinggal diam. Mereka memilih jalur konstitusi. Kabar terbaru menyebutkan: kubu Suparman sudah resmi melapor ke Polda Riau. Laporan sudah masuk. Bola panas sekarang ada di tangan penyidik.

Iwan Pansa memang sudah minta maaf kepada masyarakat atas kegaduhannya. Tapi, maaf itu bukan untuk Suparman atau Taufik. Sebaliknya, pihak Suparman merasa harga diri dan keamanan mereka terusik.

Kembali lagi kita merenungkan Gurindam 12 pasal yang kelima: "Jika hendak mengenal orang yang berbangsa, 
Lihat kepada budi dan bahasa".

Polisi kini bekerja ekstra. Di satu sisi harus menjaga kamtibmas agar tidak ada gesekan massa, di sisi lain harus memproses laporan hukum secara profesional.

Kita semua berharap, meski jalur hukum berjalan, semangat “Menarik rambut dalam tepung, rambut jangan putus, tepung jangan terserak” tetap dikedepankan. Masalah selesai, tapi ketenangan daerah tidak tercemar.

Harapan orang banyak sebenarnya masih sama: Damai itu indah. Kalaupun ada arang yang terconteng di kening, biarlah dibersihkan dengan cara yang bermartabat.

Riau butuh ketenangan. Bukan kegaduhan gara-gara urusan "saya dengan dia" yang bikin kita lupa bahwa kita semua adalah saudara serumpun. (***) 
 

 

Ikuti Terus Riauin

Berita Terkait

Berita Terpopuler