Laporan: Hendrianto.
RIAUIN.COM– Urusan perut anak bangsa tidak boleh setali tiga uang dengan periode jabatan politik. Ia harus melampaui itu. Itulah pesan kuat yang menggema dalam National Summit Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis (APPMBGI) di Jakarta Timur, Sabtu kemarin.
Ketua Umum APPMBGI, Abdul Rivai, tidak main-main. Di depan ribuan anggotanya, dia mematok target tinggi: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus terus menyala hingga 25 tahun ke depan.
"Ini bukan program numpang lewat," tegas Rivai.
Logikanya klop dengan hitungan gizi. Menghapus stunting tidak bisa instan. Bukan urusan makan enak hari ini, lalu besok selesai. Butuh napas panjang. Butuh konsistensi satu generasi penuh jika ingin melihat Indonesia Emas benar-benar lahir.
Suasana di lokasi acara pecah. Lebih dari 2.000 pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hadir. Mereka datang dari segala penjuru. Termasuk rombongan besar dari Riau yang terbang khusus ke ibu kota.
Bagi mereka, MBG bukan sekadar bagi-bagi nasi kotak, tapi mesin penggerak ekonomi daerah. Sayur petani lokal, telur peternak desa, hingga daging dari jagal setempat kini punya pembeli siaga: dapur-dapur SPPG. Pemerintah pun turun all-out.
Menko Pangan Zulkifli Hasan dan Mentan Amran Sulaiman hadir memberikan mandat. Pesannya satu: Jangan main-main dengan kualitas. Rantai pasok harus dijaga. Bahan pangan harus segar dan wajib dari lokal.
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menitipkan standar tinggi. Dapur di pelosok desa standarnya harus sama dengan di kota besar. Higienis dan profesional.
Anggaran negara yang besar harus berubah jadi gizi di tubuh anak sekolah, bukan jadi sampah sisa makanan.
Lantas, apa oleh-oleh para pengusaha ini saat pulang ke daerah? Pertama, Standardisasi. Pulang ke daerah—termasuk ke Bumi Lancang Kuning—mereka membawa "kitab" keamanan pangan. Masak tidak boleh lagi pakai perasaan "yang penting kenyang".
Kedua, Konektivitas. Mereka pulang untuk merangkul koperasi dan peternak di daerah masing-masing. Ekosistem ekonomi lokal harus hidup bersama dapur gizi.
Ketiga, Keyakinan. Bahwa mereka bukan sekadar kontraktor makanan, melainkan bagian dari sejarah besar bangsa.
Kini bolanya ada di lapangan. Tantangannya adalah menjaga api kompor di dapur-dapur gizi tetap menyala. Bukan untuk setahun atau dua tahun, tapi untuk 25 tahun ke depan. Sampai anak-anak yang makan hari ini tumbuh menjadi pemimpin bangsa. Rivai dan ribuan pengusaha dapur itu sudah satu suara: Harus bisa! (***)